Ilustrasi - Ketua Umum PDIP Megawati Seokarnoputri dan sejumlah kader PDIP. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Selain kian melebarnya gap elektabilitas Prabowo dan Ganjar, hasil analisis media monitoring yang dilakukan Polstat Indonesia juga mengindikasikan sentimen negatif terhadap PDI Perjuangan dan Ganjar Pranowo semakin menguat dalam dua pekan terakhir.
Dari tiga capres papan atas, Ganjar memiliki sentimen negatif tertinggi dari warganet, yakni sebesar 11,3 persen. Sedangkan Anies Baswedan sentimen negatifnya sebesar 9,9 persen, dan Prabowo Subianto hanya 3,7 persen saja.
"Lebel 'petugas partai' yang disematkan kepada Ganjar dan selalu didengungkan oleh Megawati merupakan salah satu faktor yang membuat sentimen negatif terhadap Ganjar tertinggi diantara capres tiga besar," ungkap Apna.
Sementara itu, PDI Perjuangan juga menjadi partai peserta Pemilu 2024 dengan sentimen negatif tertinggi, khususnya jika dibandingkan dengan partai-partai yang bercokol di posisi lima besar.
Sentimen negatif dari warganet terhadap PDI Perjuangan, berdasarkan analisis Polstat Indonesia, mencapai 41,7 persen dalam dua pekan terakhir.
"Pada saat yang sama, sentimen negatif terhadap Partai Gerindra hanya 14,5 persen saja, alias yang terendah dari partai-partai papan atas," kata dia.
Tingginya sentimen negatif terhadap PDI Perjuangan selain berdampak kepada elektabilitas Ganjar yang semakin melemah, juga berimplikasi langsung kepada elektabilitas PDI Perjuangan itu sendiri.
Berdasarkan hasil survei Polstat Indonesia, seandainya saat ini dilaksanakan pemilu, tinggal 18,1 persen responden yang menyatakan memilih PDI Perjuangan.
"Ini berarti elektabilitas PDI Perjuangan menurun sekitar 2 persen jika dibandingkan dengan perolehan suara mereka pada Pemilu 2019," kata Apna.