Lindungi Korban Kekerasan, Layanan SAPA 129 Aktif di 34 Provinsi

- Kasus kekerasan capai 1.986 laporan, Jawa Barat terbanyakSAPA 129 menangani 1.986 kasus kekerasan anak, dengan Jawa Barat sebagai wilayah tertinggi.
- Terhubung simfoni PPA dan aktif di 34 provinsiSAPA 129 terhubung dengan Simfoni PPA dan telah diperluas ke 34 provinsi.
- Perluasan fungsi, kampanye berani lapor, dan target penurunan kasusSAPA 129 diperluas sebagai pusat koordinasi nasional dan menjadi kanal utama laporan kekerasan seksual.
Bandung, IDN Times – Pemerintah Republik Indonesia menegaskan komitmennya untuk memberikan pelindungan menyeluruh bagi perempuan dan anak melalui penguatan layanan SAPA 129 (Sahabat Perempuan dan Anak). Layanan berbasis digital ini hadir sebagai kanal resmi negara dalam menerima laporan dan penanganan kasus kekerasan, sekaligus mendorong keberanian masyarakat untuk tidak lagi diam dan melapor ketika terjadi tindak kekerasan.
Menteri PPPA, Arifah Choiri Fauzi, menegaskan bahwa penguatan SAPA 129 sejalan dengan prioritas Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.
“Kami memperkuat peran perempuan dan melindungi anak sebagai bagian dari prioritas nasional untuk memastikan negara hadir bagi kelompok rentan,” ujarnya.
Sejak pertama kali diluncurkan pada 8 Maret 2021, SAPA 129 telah berkembang menjadi sistem pelaporan dan pendampingan terpadu yang dapat diakses melalui nomor 129 atau WhatsApp 08111-129-129.
1. Kasus kekerasan capai 1.986 laporan, Jawa Barat terbanyak

Sepanjang Januari–Oktober 2025, SAPA 129 menangani 1.986 kasus kekerasan terhadap anak, terdiri dari 1.386 korban perempuan dan 887 korban laki-laki. Dari total laporan tersebut, 1.540 di antaranya diterima melalui WhatsApp, menunjukkan preferensi publik terhadap layanan digital yang cepat dan aman.
Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan kasus tertinggi, yakni 470 laporan dalam sepuluh bulan terakhir. Pemerintah menilai meningkatnya angka pelaporan bukan semata menunjukkan peningkatan kekerasan, tetapi juga bertambahnya keberanian masyarakat dan meningkatnya kepercayaan terhadap sistem pelindungan negara.
2. Terhubung simfoni PPA dan aktif di 34 provinsi

Saat ini, SAPA 129 terhubung langsung dengan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) yang memungkinkan pelacakan penanganan kasus secara real-time di seluruh daerah.
Layanan ini juga telah diperluas ke 34 provinsi dengan dukungan operator di UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak, sehingga pendampingan dan rujukan dapat dilakukan lebih dekat kepada korban. Pemerintah sekaligus memperkuat integrasi lintas sektor dan mempercepat desentralisasi layanan publik.
Pada Agustus 2025, pemerintah bersama Save the Children meluncurkan website SAPA 129 yang diperbarui, menghadirkan portal pelaporan terpadu dengan fitur panduan laporan, peta lokasi layanan, hingga opsi pelapor anonim bagi korban atau saksi yang membutuhkan kerahasiaan penuh.
3. Perluasan fungsi, kampanye berani lapor, dan target penurunan kasus

Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KemenPPPA, Ratna Susianawati, menjelaskan bahwa fungsi SAPA kini diperluas sebagai pusat koordinasi nasional, termasuk penanganan kasus lintas provinsi dan lintas negara.
Sejalan dengan implementasi UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) 2022, SAPA 129 juga menjadi kanal utama laporan kekerasan seksual di sekolah maupun komunitas. Pemerintah terus menggencarkan kampanye “Berani Lapor, Negara Lindungi”, seruan terbuka agar korban tidak lagi takut mencari keadilan.
Pemerintah menargetkan penurunan signifikan kasus kekerasan dalam lima tahun ke depan melalui strategi hulu-hilir: edukasi, pencegahan, penanganan cepat, pemulihan sosial, dan reintegrasi.
“Setiap laporan bukan hanya penyelesaian satu kasus, tetapi langkah menuju perubahan sosial,” tegas Ratna.
Dengan ekosistem digital yang makin kuat, SAPA 129 menjadi bukti bahwa negara hadir untuk memastikan perempuan dan anak merasa aman, terlindungi, dan bebas dari kekerasan.



















