Beda Awal Puasa, Muhammadiyah Majalengka Kedepankan Tasamuh

- Warga Muhammadiyah di Majalengka mulai Salat Tarawih tujuh titik lebih awal
- Muhammadiyah kini menggunakan sistem KHGT untuk kesatuan global umat Islam
- Pemerintah ajak masyarakat jaga persatuan dalam menghadapi perbedaan awal Ramadan
Majalengka, IDN Times – Perbedaan awal Ramadan kembali terjadi tahun ini. Warga Perserikatan Muhammadiyah di Majalengka mulai melaksanakan Salat Tarawih pada Selasa (17/2/2026) malam, menyusul keputusan Pengurus Pusat Muhammadiyah yang menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu (18/2/2026).
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan awal Ramadan pada Kamis (19/2/2026) usai sidang isbat.
Di tengah perbedaan tersebut, Muhammadiyah menegaskan pentingnya tasamuh atau sikap saling menghormati.
1. Tujuh titik Tarawih lebih awal di Majalengka

Salat Tarawih perdana warga Muhammadiyah digelar di sedikitnya tujuh lokasi yang tersebar di berbagai kecamatan. Di antaranya Komplek SMK Muhammadiyah Majalengka Desa Palabuhan (Sukahaji), Darul Arqom Majalengka Kota, Masjid Al Barokah Kadipaten, Perguruan Muhammadiyah Burujul Kulon Jatiwangi, hingga masjid di Rajagaluh, Ligung, dan Maja.
Wakil Ketua PD Muhammadiyah Majalengka, Embed Humed, menyampaikan keputusan tersebut mengacu pada hasil Tarjih Muhammadiyah.
“Pelaksanaan shaum Ramadan 1447 Hijriah kami awali Rabu, 18 Februari,” ujarnya.
2. Gunakan sistem KHGT, dorong kesatuan global

Embed menjelaskan, Muhammadiyah kini menggunakan sistem KHGT (Kalender Hijriah Global Tunggal) dalam menentukan awal bulan hijriah.
Konsep ini bertujuan menyatukan umat Islam secara global dalam satu sistem kalender yang sama. Menurutnya, di era globalisasi, pendekatan kalender tunggal diharapkan memperkuat kesatuan umat lintas negara.
Namun demikian, ia menegaskan perbedaan metode hisab dan rukyat merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam yang sudah lama ada.
3. Pemerintah ajak masyarakat jaga persatuan

Pemerintah menetapkan awal Ramadan melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama. Menteri Agama Nasaruddin Umar mengimbau masyarakat agar tidak menjadikan perbedaan sebagai sumber gesekan.
“Perbedaan itu wajar dan justru memperkaya. Mari kita jaga persatuan,” ujarnya dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta.
Pesan serupa juga disampaikan Muhammadiyah. Embed menekankan bahwa keyakinan menjalankan ibadah dijamin konstitusi dan tidak seharusnya menimbulkan saling menyalahkan.
Perbedaan awal Ramadan bukan hal baru di Indonesia. Namun sejauh ini, masyarakat dinilai mampu menyikapinya secara dewasa, menjaga harmoni, dan tetap merawat persatuan di tengah keberagaman.


















