Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi kerja sama di bidang ESG (freepik.com)
  • Perusahaan ASEAN kini dituntut mengintegrasikan ESG demi menjaga daya saing, seiring perubahan standar perdagangan global, CBAM, dan taksonomi keuangan berkelanjutan.
  • Reynaldi Oktino menekankan ESG perlu menjadi strategi bisnis inti, bukan sekadar kewajiban regulasi, untuk menjawab ekspektasi pasar, investor, serta keberlanjutan usaha.
  • CAFEO 2026 di Bandung mempertemukan insinyur ASEAN membahas ketahanan iklim, infrastruktur cerdas, energi terbarukan, dan transformasi digital guna mendorong inovasi berkelanjutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Standar persaingan bisnis di kawasan Asia Tenggara terus mengalami perubahan. Perusahaan kini tidak hanya dituntut menghadirkan produk berkualitas, harga kompetitif, dan operasional yang efisien, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG).

Perubahan tersebut turut dipengaruhi oleh kebijakan perdagangan global, termasuk Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon atau Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM). Selain itu, penerapan taksonomi keuangan berkelanjutan oleh lembaga keuangan di kawasan ASEAN ikut mendorong perusahaan untuk memperhatikan praktik bisnis berkelanjutan.

Co-Founder sekaligus CIO Olahkarsa Group, Reynaldi Oktino, menilai integrasi ESG menjadi salah satu aspek penting dalam menentukan daya saing perusahaan di tengah persaingan global. Menurutnya, prinsip tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis inti, bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban regulasi.

“Integrasi ESG kini menjadi bagian penting dari daya saing bisnis di kawasan ASEAN. Perusahaan perlu melihat ESG bukan sekadar sebagai pemenuhan regulasi, tetapi sebagai bagian dari strategi bisnis untuk menghadapi perubahan standar perdagangan global, ekspektasi pasar, serta tuntutan investor,” ujar Reynaldi.

1. Perubahan standar perdagangan mendorong penerapan ESG

ESG Jadi Faktor Penting Daya Saing Perusahaan di ASEAN (Dok. Olahkarsa)

Kebijakan perdagangan global seperti CBAM menjadi salah satu faktor yang memengaruhi perubahan standar bisnis. Di sisi lain, penerapan taksonomi keuangan berkelanjutan oleh lembaga keuangan di ASEAN turut menjadi perhatian perusahaan dalam menyesuaikan strategi usahanya.

Reynaldi mengatakan, perusahaan perlu mengintegrasikan aspek lingkungan dan sosial dalam proses pengambilan keputusan bisnis. Langkah tersebut dinilai dapat membantu perusahaan membangun daya saing yang lebih kuat sekaligus menjaga keberlanjutan usaha.

2. ESG menjadi bagian dari strategi bisnis perusahaan

ilustrasi ESG (freepik.com)

Pandangan tersebut disampaikan Reynaldi saat menjadi pembicara dalam rangkaian Young Engineers Festival (YEF) 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari konferensi internasional 44th Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO 2026).

Dalam forum tersebut, Reynaldi membawakan materi bertajuk “Embedding ESG into Business Strategy: Building Sustainable and Competitive ASEAN Enterprises”. Materi ini membahas pentingnya menempatkan ESG sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk menghadapi perubahan standar perdagangan global, ekspektasi pasar, dan tuntutan investor.

3. Kolaborasi insinyur ASEAN turut dorong ekonomi berkelanjutan

ESG Jadi Faktor Penting Daya Saing Perusahaan di ASEAN (Dok. Olahkarsa)q

Konferensi CAFEO 2026 berlangsung pada 20-22 Oktober 2026 di Pullman Bandung International Convention Center. Forum tersebut mempertemukan ratusan insinyur dari berbagai negara anggota ASEAN untuk membahas sejumlah isu strategis, mulai dari ketahanan iklim, pengembangan infrastruktur cerdas, percepatan transisi energi terbarukan, hingga transformasi digital di sektor teknik.

Melalui partisipasinya, Olahkarsa Group berharap dapat mendorong kolaborasi antargenerasi insinyur dan pemimpin masa depan ASEAN dalam mengembangkan inovasi berbasis keberlanjutan. Upaya tersebut diharapkan turut mendukung terbentuknya ekonomi hijau yang lebih tangguh dan kompetitif di kawasan Asia Tenggara.

Curated For You

Editorial Team

Related Article