Bandung, IDN Times - Standar persaingan bisnis di kawasan Asia Tenggara terus mengalami perubahan. Perusahaan kini tidak hanya dituntut menghadirkan produk berkualitas, harga kompetitif, dan operasional yang efisien, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola atau Environmental, Social, and Governance (ESG).
Perubahan tersebut turut dipengaruhi oleh kebijakan perdagangan global, termasuk Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon atau Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM). Selain itu, penerapan taksonomi keuangan berkelanjutan oleh lembaga keuangan di kawasan ASEAN ikut mendorong perusahaan untuk memperhatikan praktik bisnis berkelanjutan.
Co-Founder sekaligus CIO Olahkarsa Group, Reynaldi Oktino, menilai integrasi ESG menjadi salah satu aspek penting dalam menentukan daya saing perusahaan di tengah persaingan global. Menurutnya, prinsip tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi bisnis inti, bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban regulasi.
“Integrasi ESG kini menjadi bagian penting dari daya saing bisnis di kawasan ASEAN. Perusahaan perlu melihat ESG bukan sekadar sebagai pemenuhan regulasi, tetapi sebagai bagian dari strategi bisnis untuk menghadapi perubahan standar perdagangan global, ekspektasi pasar, serta tuntutan investor,” ujar Reynaldi.