Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Intip Ratusan Keramik Kuno Lintas Benua di Museum Prabu Siliwangi
Pendiri museum dan Direktur Warisan Budaya Ditjen Perlindungan Kebudayaan, Agus Widiatmoko saat melihat koleksi keramik (IDN Times/Siti Fatimah)
  • Museum Prabu Siliwangi di Kompleks Ponpes Dzikir Al Fath, Sukabumi, memamerkan 368 artefak keramik pilihan yang dikurasi BRIN dan didokumentasikan dalam katalog resmi.
  • Koleksi dari abad ke-8 hingga ke-20 mencakup keramik Tiongkok, Vietnam, Thailand, Jepang, Eropa, Mesir, serta terakota Majapahit, merekam jejak perdagangan dan maritim Nusantara.
  • Ribuan koleksi berawal dari warisan keluarga Raden Sumawinata dan titipan kerabat; Kementerian Kebudayaan akan mendampingi konservasi berkala untuk fungsi edukasi dan pelestarian museum.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sukabumi, IDN Times - Sukabumi ternyata menyimpan harta karun sejarah. Bertempat di Kompleks Ponpes Dzikir Al Fath, Kota Sukabumi, Museum Prabu Siliwangi menyajikan ratusan keping keramik langka yang siap memanjakan mata pecinta artefak kuno.

Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 368 piringan artefak pilihan dari ribuan koleksi, telah dikurasi tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil riset ini resmi dibukukan ke Katalog Keramik Koleksi Museum Prabu Siliwangi.

Setiap keping porselen yang dipajang di museum tak hanya sekadar barang hiasan, melainkan bukti nyata panjangnya jejak diplomasi, aktivitas maritim, dan perdagangan internasional Nusantara di masa lampau.

1. Bukti perdagangan Nusantara dan Tiongkok sejak abad ke-10 Masehi

Koleksi keramik di Museum Prabu Siliwangi (IDN Times/Siti Fatimah)

Pendiri Museum Prabu Siliwangi, KH Fajar Laksana, mengungkapkan koleksi di tempat ini memiliki rentang waktu yang sangat panjang, bahkan mencapai ribuan tahun.

"Koleksi paling tua berasal dari abad 8 sampai 10 Masehi, mewakili era Dinasti Tang, Song, hingga Qing. Hal ini membuktikan sejak abad 10 Masehi, Nusantara sudah menjalin hubungan perdagangan yang erat dengan Tiongkok," ujar Fajar, Sabtu (8/8/2026).

2. Deretan porselen lintas benua dari Tiongkok, Asia Tenggara, hingga Jepang

Koleksi keramik Cina (IDN Times/Siti Fatimah)

Koleksi keramik di museum ini mencakup linimasa dan rentang geografis yang sangat luas dari berbagai belahan dunia:

  • Tiongkok Kuno, mulai keramik tiga warna khas Changsha era Dinasti Tang dari abad 7–10 Masehi, hingga porselen biru-putih (blue-underglazed) dari masa Dinasti Ming dan Qing.

  • Asia Tenggara, keramik Vietnam dari abad 14–16 Masehi dengan ciri warna merah besi di bagian dasarnya, serta keramik Sawankhalok/Sukothai asal Thailand berglasir hijau seladon dengan motif kelopak padma.

  • Jepang, keramik Hizen atau Imari abad ke-17 yang masuk melalui jalur perdagangan era Edo, serta vas unik Satsuma buatan tahun 1950-an berhias lukisan Geisha bernuansa emas dan enamel polikrom.

3. Koleksi langka Eropa, Terakota Majapahit, hingga Torpedo Jar Mesir

Torpedo Jar Mesir (IDN Times/Siti Fatimah)

Tak hanya dari kawasan Asia, Museum Prabu Siliwangi juga menyimpan barang langka dari Eropa dan Timur Tengah. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah keberadaan Torpedo Jar 2 asal Mesir yang diduga kuat merupakan peninggalan dari muatan kapal karam di abad silam.

Selain itu, ada botol stoneware berbentuk onion buatan Flagon Jerman dari abad 18 masehi yang dahulu digunakan sebagai wadah wine, porselen khas Eropa berbahan faience, serta terakota khas Kerajaan Majapahit abad 13–15 Masehi yang melengkapi jejak sejarah lokal Nusantara.

4. Berawal dari koleksi keluarga hingga didukung Kementerian Kebudayaan

Pendiri museum dan Direktur Warisan Budaya Ditjen Perlindungan Kebudayaan, Agus Widiatmoko saat melihat koleksi keramik (IDN Times/Siti Fatimah)

Usut punya usut, ribuan koleksi keramik ini mulanya merupakan peninggalan keluarga besar Raden Sumawinata. Sejak museum didirikan pada 2010. Keturunan dan kerabat dari Kesultanan Banten hingga Cirebon terus mempercayakan benda peninggalan untuk dirawat.

"Kerabat dari Banten, Cirebon, Sumatra, dan Jakarta turut mengirimkan koleksi mereka agar bisa dipajang dan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas," jelas Fajar.

Melihat besarnya nilai historis yang tersimpan, Kementerian Kebudayaan RI berkomitmen memberikan pendampingan konservasi. Direktur Warisan Budaya Ditjen Perlindungan Kebudayaan, Agus Widiatmoko, menyampaikan pihak pemerintah akan memfasilitasi perawatan berkala bersama tim ahli.

"Fungsi utama museum adalah sebagai ruang pembelajaran publik dan wadah pelestarian melalui konservasi. Kami akan terus mendukung penguatan ekosistem kebudayaan ini," tegas Agus.

Curated For You

Editorial Team

Related Article