Ini Lima Langkah Pemprov Jabar Tangani Penyebaran Virus Corona

1. Harus proaktif

Gubernur Jabar Ridwan Kamil menuturkan, langkah pertama yang dilakukan pihaknya untuk menjaga sebaran ini tidak semakin meluas yakni dengan proaktif. Dia mengklaim Jabar merupakan provinsi pertama yang melakukan tes berbasis metode PCR (Polymerase Chain Reaction) ketika saat itu semua (uji) PCR dipusatkan di Jakarta.
"Jadi kami membeli tes kit dari Korea Selatan, dua minggu setelah kami melakukan itu, pemerintah pusat mengubah aturan menjadi desentralisasi PCR (di daerah)," ujar Emil dalam video teleconference bersama perwakilan United Nation Development Programne (UNDP) berdasarkan siaran pers, Senin (27/4).
2. Transparansi penting dalam kondisi sekarang

Kedua, lanjut Emil, adalah transparansi. Menurutnya, sejak pertama kali kasus ini terjadi di Jabar Pemprov Jabar sadar tidak boleh menutupi data dalam bentuk apapun. Maka dibuatlah aplikasi PIKOBAR (Pusat Informasi dan Koordinasi COVID-19 Jawa Barat), di mana setiap hari terdapat informasi aktual mulai dari terduga, pasien, hingga alamatnya di level kelurahan.
3. Lakukan pendekatan ilmiah dan manfaatkan ilmu pengetahuan

Ketiga, Pemprov Jabar selalu mengambil pendekatan ilmiah berdasarkan data dan ilmu pengetahuan. Artinya dalam setiap keputusan harus berdasarkan masukan para ahli, contohnya berapa banyak warga yang harus kami tes.
"Kami memutuskan, Jabar harus melakukan tes terhadap 0,6 persen warganya untuk mengetahui peta persebaran COVID-19," kata dia.
4. Lebih inovatif

Keempat, Jabar mendorong pemerintahan yang inovatif. Emil berujar, pihaknya menggerakkan seluruh industri untuk mengubah fokus demi melawan pandemi COVID-19. Misalnya saat ini PT Biofarma bisa memproduksi reagen PCR.
Kemudian Pemprov Jabar coba bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia, perusahaan pesawat, untuk membuat ventilator bagi pasien yang masih bisa bernapas sendiri. Sementara PT Pindad yang biasanya membuat alat militer, juga memproduksi ventilator untuk pasien yang tidak bisa bernapas sendiri.
"Kami juga satu-satunya provinsi yang memiliki fasilitas waste management untuk COVID-19. Jadi seluruh Jawa, Banten, dan Jakarta menggunakan fasilitas kami," ujarnya merujuk PT Jasa Medivest --anak perusahaan BUMD Jabar Jasa Sarana yang fokus dalam pengelolaan limbah medis," kata dia.
5. Jalankan kolaborasi

Terakhir, kata Emil, pihaknya menerapkan kolaborasi dengan berbagai pihak dalam penanggulangan pandemi ini, salah satunya yakni hampir 50 persen alat Rapid Diagnostic Test (RDT) untuk tes masif yang dimiliki Jabar adalah donasi dari Yayasan Buddha Tzu Chi.
"Dengan berkolaborasi, kami juga menggerakkan Karang Taruna untuk membantu warga yang terinfeksi. Ibu-ibu PKK juga fokus membuat dapur umum karena kami ingin memastikan tidak ada yang kelaparan. Jadi kolaborasi juga menjadi kunci dalam penanganan (COVID-19)," ujarnya.



















![[QUIZ] Kalau Jadi Bos Baru Bandung Zoo, Apa yang Akan Kamu Benahi Duluan?](https://image.idntimes.com/post/20241018/whatsapp-image-2024-10-18-at-123343-3-6b9b5942a9c235fa7d2105cebe2c1178.jpeg)