Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kemarau Bikin Petani Pusing? Ini Kata DKPP Kuningan
Ilustrasi gabah (Pexels.com/icon0.com)
  • DKPP Kuningan mengakui kemarau menekan sebagian petani melalui biaya pengairan, BBM, tenaga kerja, dan perawatan, tetapi meminta gambaran kondisi dibuat lebih proporsional berbasis data.
  • Dinas menegaskan penurunan margin 33 persen berasal dari satu kasus di Maleber dengan asumsi harga gabah Rp6.000 per kilogram, bukan rata-rata seluruh petani padi Kuningan.
  • Menurut data hingga Agustus 2026, Kuningan mencatat produksi padi 298.486 ton dan produktivitas 61,35 kuintal per hektare; evaluasi pendapatan perlu mempertimbangkan harga aktual serta seluruh musim tanam tahunan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kuningan, IDN Times - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan menyampaikan hak jawab terkait artikel di IDN Times pada Rabu (16/9/2026) yang berjudul Kemarau Bikin Petani Kuningan Pusing, Modal Naik Untung Menipis.

Penjelasan sekaligus hak jawab tersebut disampaikan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Kuningan kepada IDN Times, Sabtu (19/9/2026). Melalui surat tersebut, Dinas Ketahanan Pangan memberikan klarifikasi atas pemberitaan sebelumnya dan menyampaikan sejumlah penjelasan.

Berikut petikan hak jawab yang disampaikan kepada IDN Times:

Pada prinsipnya, kami memahami dan tidak menyangkal bahwa musim kemarau memberikan tekanan kepada sebagian petani, khususnya di wilayah yang membutuhkan tambahan biaya pengairan. Kenaikan biaya pompa, BBM, tenaga kerja maupun perawatan tanaman memang dapat menjadi beban tambahan bagi petani.

Namun demikian, terdapat beberapa data dan perspektif yang menurut kami perlu dilengkapi agar pemberitaan mengenai kondisi petani padi di Kabupaten Kuningan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh, proporsional dan berbasis data.

Terkait angka penurunan keuntungan sebesar 33 persen

Ilustrasi gabah hasil produksi petani di NTB. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Dalam pemberitaan tersebut, perhitungan menggunakan contoh seorang petani di Kecamatan Maleber, dengan biaya produksi yang meningkat dari sekitar Rp8 juta menjadi Rp10 juta per hektare, produksi turun dari 6 ton menjadi 4,8 ton per hektare, serta menggunakan asumsi harga gabah Rp6.000/kg.

Dengan asumsi tersebut, secara matematis memang diperoleh margin yang turun dari Rp28 juta menjadi Rp18,8 juta atau sekitar 33 persen.

Namun, perlu kami tegaskan bahwa angka 33 persen tersebut merupakan perhitungan berdasarkan satu kasus, satu lokasi, satu musim tanam dan asumsi harga tertentu; bukan data survei atau angka rata-rata keuntungan seluruh petani padi Kabupaten Kuningan.

Hal ini penting agar angka tersebut tidak dipahami sebagai gambaran kondisi seluruh petani padi di Kabupaten Kuningan.

Kondisi setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari sisi ketersediaan air, jaringan irigasi, produktivitas lahan, pola tanam, biaya pengairan, maupun harga gabah yang diterima petani.

Dinamika harga gabah pada musim kemarau perlu menjadi bagian dari perhitungan. Pada musim kemarau terdapat dinamika harga gabah yang juga perlu diperhitungkan.

Secara ekonomi, ketika pasokan gabah menurun sementara permintaan tetap ada atau meningkat, harga gabah dapat mengalami kenaikan.

Selain itu, terdapat karakteristik di lapangan yang menarik. Pada musim kemarau, sebagian petani di Kabupaten Kuningan tidak langsung menjual gabah dalam kondisi Gabah Kering Panen (GKP). Teriknya sinar matahari dimanfaatkan untuk menjemur gabah terlebih dahulu sehingga dapat dijual sebagai Gabah Kering Giling (GKG) dengan harga yang lebih tinggi.

Berdasarkan informasi yang kami peroleh langsung dari pelaku usaha tani di lapangan:

- Sayuti, petani dari Kelompok Tani Himtaka Makmur, Desa Kutaraja, Kecamatan Maleber, menyampaikan bahwa pada musim kemarau gabah terlebih dahulu dijemur dengan memanfaatkan teriknya sinar matahari. Setelah menjadi GKG, gabah yang dibeli tengkulak yang datang ke desanya mencapai sekitar Rp8.500/kg.

- Dede Rusmana, Ketua Gapoktan Desa Sakerta Timur, Kecamatan Darma, menyampaikan bahwa harga gabah di tingkat petani di desanya saat ini sekitar Rp8.500/kg.

- Rohendi, Gapoktan Desa Cikaso, Kecamatan Kramatmulya, yang juga memiliki usaha penggilingan padi, menyampaikan bahwa harga gabah yang diterima di pabrik mencapai sekitar Rp9.000/kg.

Kami tentu tidak mengklaim harga tersebut sebagai harga rata-rata seluruh Kabupaten Kuningan. Harga sangat dipengaruhi oleh kondisi, kualitas, kadar air, lokasi dan transaksi masing-masing.

Namun, informasi tersebut penting sebagai gambaran bahwa harga aktual di lapangan tidak selalu berada pada asumsi Rp6.000/kg yang digunakan dalam perhitungan pemberitaan.

Sebagai ilustrasi, apabila produksi 4,8 ton per hektare dalam contoh tersebut dihitung menggunakan harga Rp8.500/kg, maka penerimaan kotor menjadi:

4.800 kg × Rp8.500 = Rp40,8 juta/ha.

Dengan biaya produksi Rp10 juta, maka margin sederhananya sekitar Rp30,8 juta/ha.

Apabila menggunakan harga Rp9.000/kg, penerimaan menjadi:

4.800 kg × Rp9.000 = Rp43,2 juta/ha.

Dengan biaya produksi Rp10 juta, margin sederhananya sekitar Rp33,2 juta/ha.

Kami tentu tidak mengatakan angka tersebut otomatis merupakan keuntungan bersih petani, karena masih harus memperhitungkan biaya pengeringan, susut, transportasi dan komponen biaya lainnya.

Namun, ilustrasi tersebut menunjukkan bahwa harga jual merupakan variabel yang sangat menentukan dalam menghitung keuntungan usaha tani.  Oleh karena itu, kesimpulan mengenai penurunan keuntungan tidak dapat hanya didasarkan pada penurunan produksi dan kenaikan biaya tanpa memasukkan perubahan harga gabah aktual yang diterima petani.

Keuntungan petani perlu dihitung dalam perspektif tahunan

ilustrasi gabah. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Hal berikutnya yang juga penting adalah karakteristik pola tanam padi di Kabupaten Kuningan.

Kuningan memiliki karakteristik pertanian dengan indeks pertanaman lebih dari satu kali dalam setahun. Secara agregat, luas tanam jauh lebih besar dibandingkan luas baku sawah karena lahan yang sama dapat ditanami beberapa kali.

Oleh karena itu, apabila yang dibahas adalah keuntungan petani, idealnya perhitungan dilakukan dalam perspektif satu tahun, yaitu:

Total penerimaan seluruh musim tanam dalam satu tahun dikurangi total biaya seluruh musim tanam dalam satu tahun.

Bukan hanya menghitung margin dari satu musim tanam. Dengan kata lain, margin satu musim tanam tidak sama dengan keuntungan petani selama satu tahun.

Kemarau memang dapat menekan margin pada satu musim, tetapi petani masih memiliki musim tanam berikutnya yang juga harus diperhitungkan. Terlebih, dampak kemarau tidak sama di seluruh wilayah Kabupaten Kuningan.

Data produksi padi Kabupaten Kuningan sampai Agustus 2026

ilustrasi gabah. (IDN Times/Vadhia Lidyana)

Untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh, kami menyampaikan data produksi padi Kabupaten Kuningan sampai dengan Agustus 2026:

- Luas tanam Januari–Agustus 2026: 38.802 ha

- Luas tanam Oktober 2025–Agustus 2026: 59.246 ha

- Luas panen: 48.654 ha

- Produksi: 298.486 ton

- Produktivitas: 61,35 ku/ha

Data tersebut menunjukkan bahwa di tengah kondisi kemarau, aktivitas tanam dan produksi padi di Kabupaten Kuningan tetap berjalan.

Namun, data tersebut tentu tidak kami gunakan untuk mengatakan bahwa petani tidak mengalami persoalan. Persoalan ketersediaan air dan kenaikan biaya produksi memang nyata di sejumlah wilayah.

Yang perlu ditekankan adalah bahwa apabila kita ingin menggambarkan kondisi ekonomi petani Kuningan secara keseluruhan, maka perlu dilihat secara lebih komprehensif, meliputi produksi, produktivitas, biaya produksi, harga gabah aktual, jumlah musim tanam dan pendapatan petani selama satu tahun.

Kami menghargai informasi dan pengalaman petani yang disampaikan dalam pemberitaan tersebut. Apa yang disampaikan Pak Asep di Maleber merupakan realitas lapangan yang perlu menjadi perhatian pemerintah. Kami tidak bermaksud menyangkal pengalaman maupun persoalan yang dihadapi petani.

Yang perlu kami luruskan adalah cakupan kesimpulannya. Kondisi seorang petani di satu wilayah dapat menjadi gambaran adanya tekanan akibat kemarau, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bahwa keuntungan seluruh petani padi Kabupaten Kuningan turun 33 persen.

Untuk menyatakan angka tersebut sebagai kondisi Kabupaten Kuningan secara keseluruhan, tentu diperlukan data yang lebih luas dan representatif dari berbagai kecamatan, tipe lahan, musim tanam, produktivitas, biaya produksi dan harga gabah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article