Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Habitat Surili Jawa di Gunung Ciremai Ikut Terdampak Karhutla
Surili Jawa terdampak Karhutla Gunung Ciremai. Dok. Istimewa
  • Karhutla di Taman Nasional Gunung Ciremai berdampak pada habitat Surili Jawa yang bergantung pada pepohonan, terutama akibat asap dan pohon terbakar.
  • Balai TNGC belum memiliki data pasti jumlah satwa terdampak kebakaran. Surili Jawa termasuk tiga spesies kunci bersama macan tutul Jawa dan elang Jawa.
  • Seekor Surili Jawa yang ditemukan warga saat pemadaman tidak terluka, ditemukan bersama induknya, dan telah dilepasliarkan kembali. Populasinya di Ciremai masih relatif banyak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sebelumnya

Seekor Surili Jawa ditemukan masyarakat saat membantu pemadaman kebakaran, tetapi penemuannya tidak langsung dilaporkan kepada petugas Balai TNGC.

24 Oktober 2026

Balai TNGC menyatakan karhutla berpotensi berdampak pada habitat Surili Jawa yang bergantung pada pepohonan. Populasi Surili Jawa disebut masih relatif banyak di kawasan Gunung Ciremai.

hingga saat ini

Balai TNGC belum menerima laporan resmi mengenai pendataan satwa yang menjadi korban kebakaran.

saat ini

Surili Jawa yang ditemukan masyarakat telah dilepasliarkan kembali karena tidak mengalami luka dan ditemukan bersama induknya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Kebakaran hutan dan lahan di Taman Nasional Gunung Ciremai berdampak pada habitat Surili Jawa yang bergantung pada pepohonan. Seekor Surili Jawa yang ditemukan warga telah dilepasliarkan kembali.
  • Who?
    Surili Jawa terdampak, sementara Balai Taman Nasional Gunung Ciremai memantau kondisi kawasan. Eska Nata Suryana menyampaikan informasi tersebut, dan masyarakat menemukan seekor surili saat membantu pemadaman.
  • Where?
    Kejadian berlangsung di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Jawa Barat, termasuk area hutan yang terbakar dan menjadi habitat Surili Jawa.
  • When?
    Informasi kondisi karhutla dan dampaknya disampaikan Eska Nata Suryana pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Waktu penemuan Surili Jawa oleh masyarakat per saat ini masih belum diketahui.
  • Why?
    Surili Jawa terdampak karena aktivitasnya bergantung pada pepohonan; asap kebakaran dan pohon yang terbakar mengganggu habitat satwa tersebut.
  • How?
    Seekor Surili Jawa ditemukan warga dalam kondisi tidak terluka bersama induknya, lalu dilepasliarkan. Balai TNGC hingga saat ini belum memiliki data pasti jumlah satwa yang terdampak langsung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Hutan di Gunung Ciremai terbakar dan ada asap. Surili Jawa yang tinggal di pohon bisa kena dampaknya. Warga menemukan satu surili saat membantu memadamkan api. Surili itu tidak luka dan induknya juga ada. Jadi surili itu sudah dilepas kembali ke hutan. Petugas belum tahu berapa banyak hewan yang terkena.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah dampak karhutla, kondisi Surili Jawa yang ditemukan masyarakat memberi ruang optimisme: satwa tersebut tidak mengalami luka, induknya turut ditemukan, dan keduanya dapat segera dilepasliarkan kembali. Populasi surili di Gunung Ciremai juga masih relatif banyak dan tersebar dalam kelompok-kelompok, sementara perhatian masyarakat membantu mengungkap keberadaannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) berdampak terhadap satwa liar yang hidup di dalam kawasan konservasi tersebut. Salah satu satwa yang jelas terdampak yaitu Surili Jawa.

Koordinator Urusan Data, Evaluasi, Pelaporan, dan Kehumasan Balai TNGC, Eska Nata Suryana mengatakan, Surili Jawa merupakan salah satu spesies kunci di Taman Nasional Gunung Ciremai. Selain surili Jawa, terdapat dua spesies kunci lainnya, yakni macan tutul Jawa dan elang Jawa.

"Jadi Ciremai ini ada tiga spesies kunci. Macan Tutul Jawa, Elang Jawa, sama Surili Jawa," ujar Eska saat dikonfirmasi, Sabtu (24/10/2026).

1. Habitat Surili Jawa terdampak Karhutla

Surili Jawa terdampak Karhutla Gunung Ciremai. Dok. Istimewa

Menurut Eska, Surili Jawa memiliki habitat yang sangat bergantung pada pepohonan. Karena itu, ketika kawasan hutan terbakar maupun dipenuhi asap, satwa tersebut berpotensi terdampak.

"Karena kan pasti tempat itu adalah di pohon. Dari pohon ke pohon kan begitu. Jadi pasti ketika ada asap atau apalagi pohonnya terbakar, otomatis pasti akan terdampak," katanya.

Meski demikian, Balai TNGC belum memiliki data pasti mengenai jumlah satwa yang terdampak langsung akibat karhutla terbaru. Eska menyebut hingga saat ini belum ada laporan resmi dari petugas mengenai pendataan satwa yang menjadi korban kebakaran itu.

"Kalau Surili banyak. Kalau kalau macan macan tutul ya enggak banyak sih, ada mungkin populasinya belasan lah. Maksimal di belasan ekor. Kalau surili mah banyak, banyak kelompok-kelompoknya," tuturnya.

2. Surili yang diselamatkan telah ditemukan masyarakat

Surili Jawa terdampak Karhutla Gunung Ciremai. Dok. Istimewa

Lebih lanjut, Eska menyampaikan, berdasarkan informasi masyarakat yang menemukan Surili Jawa terdampak Karhutla, tidak mengalami luka dan ditemukan juga induknya sehingga langsung di lepas liarkan.

"Kalau memang si satwa itu tidak ditemukan luka ataupun kondisi badannya masih bagus, memang idealnya segera dilepasliarkan kembali," katanya.

3. Populasi Surili masih banyak

Kelompok surili paha-putih yang merupakan kerabat terdekat kekah natuna. (commons.wikimedia.org/Andrew Holle)

Balai TNGC menyebut populasi surili Jawa di kawasan Gunung Ciremai masih relatif banyak, sedangkan populasi macan tutul Jawa di kawasan TNGC diperkirakan tidak sebanyak Surili. Eska menyebut populasinya berada pada kisaran belasan ekor.

Sebelumnya, seekor Surili Jawa ditemukan masyarakat ketika membantu proses pemadaman kebakaran. Namun, penemuan tersebut tidak langsung dilaporkan kepada petugas Balai TNGC.

Informasi mengenai satwa tersebut diketahui luas setelah adanya unggahan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Herman Suryatman. Namun, saat ini kondisinya sudah di lepas liarkan kembali.

Curated For You

Editorial Team

Related Article