Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Farhan Akui Pengelolaan Sampah Bandung Belum Berbasis Investasi
(Dok.Humas Bandung)
  • Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui pengelolaan sampah masih reaktif dan belum didukung investasi optimal, sehingga penanganan lebih berfokus pada persoalan harian.
  • Proyek pengolahan besar masih terbatas dan dalam pengembangan, dengan Legok Nangka paling maju; Bandung mendorong pengelolaan hulu skala kecil-menengah di tiap wilayah.
  • Pemkot Bandung menjajaki teknologi SRF di Gedebage bersama Kemenristek dan Danantara, sementara kajian IFC akan diterjemahkan Bapperida menjadi panduan kebijakan investasi lingkungan.
  • Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui pengelolaan sampah masih reaktif dan belum ditopang investasi optimal, sehingga penanganan lebih berfokus pada persoalan harian daripada sistem jangka panjang.
  • Proyek pengolahan sampah besar di Bandung masih terbatas dan berkembang; Legok Nangka paling maju, sementara pemerintah tetap mengandalkan langkah jangka pendek agar sampah tidak menumpuk.
  • Pemkot menjajaki teknologi SRF di Gedebage bersama Kemenristek dan Danantara, sambil mengembangkan pengelolaan hulu skala kecil-menengah berdasarkan kajian investasi lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bilang sampah di Bandung masih sering diurus saat sudah ada masalah. Kota ini belum punya banyak uang investasi untuk cara jangka panjang. Proyek Legok Nangka paling maju. Pemerintah juga mau mencoba mengolah sampah di Gedebage jadi bahan bakar. Mereka ingin sampah berkurang dari tiap wilayah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pengakuan atas keterbatasan sistem saat ini membuka ruang bagi Bandung untuk menata pengelolaan sampah dengan lebih terarah. Kajian IFC dan Pemerintah Inggris, penguatan pengelolaan dari hulu, serta penjajakan teknologi SRF di Gedebage menunjukkan adanya upaya membangun pilihan solusi yang lebih beragam, terukur, dan bernilai tambah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times Jabar – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui sistem pengelolaan sampah di Kota Bandung hingga saat ini masih didominasi langkah-langkah reaktif dan responsif. Menurutnya, Bandung belum memiliki investasi pengelolaan sampah yang berjalan optimal sebagai solusi jangka panjang sehingga penanganan sampah masih lebih banyak berfokus pada penyelesaian persoalan harian.

Pernyataan itu disampaikan Farhan saat memaparkan hasil kajian peluang investasi lingkungan yang disusun International Finance Corporation (IFC) bersama Pemerintah Inggris untuk Kota Bandung. Dalam kajian tersebut, sektor pengelolaan sampah menjadi salah satu bidang yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui investasi.

"Sementara itu yang kita lakukan sekarang bukan investasi terhadap pengelolaan sampah. Kita lebih banyak melakukan penanganan sampah saja, yang bentuknya juga lebih ke reaktif sama responsif, bukan perencanaan jangka panjang," kata Farhan.

Menurutnya, perubahan pendekatan dari sekadar menangani sampah menjadi membangun sistem pengelolaan yang berkelanjutan menjadi pekerjaan rumah besar yang masih harus diselesaikan Kota Bandung.

1. Bandung masih mencari model investasi pengelolaan sampah

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. (Dok Humas Bandung)

Farhan mengatakan hingga saat ini investasi pengelolaan sampah yang benar-benar berjalan di Bandung masih sangat terbatas. Beberapa proyek pengolahan sampah berskala besar masih berada dalam tahap pengembangan dan belum memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan timbulan sampah kota.

Ia menyebut proyek pengolahan sampah regional Legok Nangka menjadi salah satu yang paling maju saat ini. Sementara itu, berbagai rencana pengembangan fasilitas pengolahan sampah lainnya masih membutuhkan proses panjang sebelum dapat beroperasi secara optimal.

"Legok Nangka lah yang paling maju sekarang. Sarimukti itu masih jauh dari angan-angan, tapi kita sudah memulai," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat pemerintah kota masih mengandalkan berbagai langkah penanganan jangka pendek untuk memastikan sampah tidak menumpuk dan tetap dapat ditangani setiap hari.

2. Pengelolaan sampah dari hulu dinilai sama pentingnya

(Dok.Humas Bandung)

Farhan menilai solusi persoalan sampah tidak cukup hanya mengandalkan proyek pengolahan berkapasitas besar di hilir, seperti Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Menurutnya, pengelolaan sampah di tingkat wilayah juga harus diperkuat agar pengurangan sampah bisa dilakukan sejak dari sumbernya.

Karena itu, hasil kajian investasi lingkungan yang diterima Pemkot Bandung diharapkan dapat melahirkan berbagai rekomendasi dan model kebijakan baru, termasuk pengembangan fasilitas pengolahan sampah skala kecil hingga menengah yang tersebar di berbagai kawasan.

"Diharapkan dari penelitian ini kita bisa mendapatkan berbagai macam ide, tidak hanya PSEL yang jumlahnya besar di hilir, tetapi juga pengelolaan sampah di hulu yang sifatnya pengelolaan sampah per wilayah dalam skala-skala kecil sampai menengah," kata Farhan.

Menurutnya, pendekatan tersebut akan membuat sistem pengelolaan sampah lebih merata sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap fasilitas pengolahan berskala besar.

3. Pemkot Bandung jajaki pengembangan teknologi SRF di Gedebage

Budidaya magot menjadi salah satu strategi Kota Bandung mengatasi sampah organik. (Dok. Humas Pemkot Bandung)

Sebagai bagian dari upaya mencari solusi jangka panjang, Pemkot Bandung saat ini mulai menjajaki pengembangan teknologi Solid Recovered Fuel (SRF) di kawasan Gedebage. Program tersebut dikembangkan bersama Kementerian Riset dan Teknologi serta Danantara.

Farhan menjelaskan SRF merupakan teknologi pengolahan sampah yang menghasilkan bahan bakar alternatif dari sampah yang telah diproses. Teknologi ini dinilai memiliki nilai tambah lebih tinggi dibanding metode pengolahan konvensional karena dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi bagi industri.

"Nah, yang kita coba ini yang pertama bersama dengan Kemenristek dan Danantara adalah peningkatan kapasitas pengelolaan sampah maggot yang di Gedebage menjadi pengelolaan sampah SRF. SRF itu bentuk lebih canggih dari RDF," ujarnya.

Hasil kajian investasi lingkungan yang diterima Pemkot Bandung nantinya akan diterjemahkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) menjadi panduan kebijakan untuk mendukung perencanaan pembangunan dan pengelolaan lingkungan dalam beberapa tahun ke depan.

Farhan berharap kajian tersebut dapat menjadi pijakan bagi Kota Bandung untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terencana, terukur, dan menarik minat investasi, sehingga tidak lagi hanya berfokus pada penanganan sampah saat masalah muncul.

Editorial Team

Related Article