Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
El Nino Picu Kekeringan di Jabar, Produksi Padi Diproyeksi Menurun
Ilustrasi kekeringan akibat kemarau panjang. Cover Grafis IDN Times
  • El Nino dan kemarau sejak Juli memicu kekeringan lahan pertanian Jawa Barat, dengan puncak diprediksi berlangsung pada Agustus hingga Oktober.
  • DKPP Jabar memproyeksikan produksi gabah di Bandung Barat turun 10–15 persen tanpa intervensi pengairan cepat, sementara sawah tadah hujan berisiko gagal panen.
  • Debit sejumlah bendung menurun 10–20 persen, berdampak pada irigasi di beberapa daerah; Pemprov Jabar mengejar kecukupan air dan peningkatan penanganan infrastruktur irigasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
pertengahan tahun ini

Pemprov Jawa Barat menyatakan hasil panen padi di sejumlah wilayah menurun signifikan.

Juli kemarin

Musim kemarau mulai terjadi dan memicu kekeringan di sejumlah lahan pertanian Jawa Barat.

antara Agustus-Oktober ini

Kekeringan diprediksi mencapai puncaknya pada periode ini.

4 Agustus 2026

DSDA Jawa Barat melaporkan penurunan debit pada sejumlah bendung dan daerah irigasi mengalami kekeringan. Gagal panen belum ditemukan karena sebagian petani telah memasuki masa panen.

5 Agustus 2026

DKPP Jawa Barat menyatakan kekeringan menurunkan proyeksi panen dan meningkatkan risiko puso pada sawah tadah hujan. Bandung Barat diproyeksikan mengalami penurunan produksi gabah sekitar 10–15 persen tanpa intervensi pengairan cepat.

saat ini

Pemprov Jawa Barat mengupayakan pemenuhan air pertanian agar panen dan masa tanam tidak terganggu. Indramayu, sebagian Subang, dan Karawang mulai merasakan dampak serius kekeringan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Musim kemarau yang dipengaruhi El Nino memicu kekeringan lahan pertanian di Jawa Barat dan menurunkan proyeksi produksi padi, termasuk potensi penurunan gabah 10–15 persen di Bandung Barat tanpa intervensi pengairan cepat.
  • Who?
    DKPP Jawa Barat dipimpin Linda Al Amin, DSDA Jawa Barat dipimpin Dikky Achmad Sidik, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta petani di wilayah terdampak menangani dampak kekeringan.
  • Where?
    Kekeringan dilaporkan di Jawa Barat, termasuk Leuwikuya dan Soreang di Kabupaten Bandung, Ciputrahaji di Ciamis, Biuk serta Padawaras di Tasikmalaya, juga Indramayu, sebagian Subang, Karawang, dan Bandung Barat.
  • When?
    Musim kemarau berlangsung sejak Juli 2026 dan diperkirakan mencapai puncak pada Agustus–Oktober 2026. Kondisi serta proyeksi dampaknya disampaikan pada 4 dan 5 Agustus 2026.
  • Why?
    El Nino dan musim kemarau mengurangi pasokan air ke sawah, terutama sawah tadah hujan. Sejumlah bendung mengalami penurunan debit, sementara infrastruktur irigasi di beberapa wilayah menghadapi kendala fungsi dan pemeliharaan.
  • How?
    Pemprov Jawa Barat mengupayakan pemenuhan air irigasi agar panen dan masa tanam tetap berjalan. Debit bendung berkurang sekitar 10–20 persen di sejumlah lokasi, namun hingga saat ini belum ditemukan gagal panen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Musim kemarau dan El Nino membuat sawah di Jawa Barat kekurangan air. Padi bisa jadi lebih sedikit, terutama di Bandung Barat. Air di beberapa bendung juga berkurang, tetapi belum kering semua. Indramayu, Subang, dan Karawang mulai terkena. Pemerintah Jawa Barat sedang berusaha memberi cukup air supaya petani bisa panen dan menanam lagi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meski El Nino menekan pasokan air dan proyeksi produksi padi, kondisi di sejumlah wilayah masih memberi ruang penanganan. Bendung belum mengalami kekeringan penuh, sebagian petani telah memasuki masa panen dengan kebutuhan air yang terpenuhi, dan pemerintah provinsi sedang mengupayakan kecukupan irigasi agar panen serta musim tanam berikutnya tetap berjalan sesuai jadwal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Musim kemarau dengan dipengaruhi fenomena El Nino terjadi di beberapa wilayah Jawa Barat. Akibatnya, sejumlah lahan-lahan pertanian mengalami dampak kekeringan. Bahkan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyatakan adanya penurunan hasil panen padi secara signifikan di beberapa wilayah di pertengahan tahun ini.

Dampak musim kemarau yang terjadi sejak Juli kemarin dan diprediksi puncaknya antara Agustus-Oktober ini telah membuat sejumlah lahan pertanian di daerah mengalami kekeringan. Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat mencatat ada beberapa daerah yang paling terdampak kondisi ini.

"Kekeringan memberikan dampak langsung berupa penurunan proyeksi hasil panen serta risiko gagal panen (puso) pada lahan sawah tadah hujan yang kekurangan pasokan air," ujar Kepala DKPP Jawa Barat, Linda Al Amin, saat dikonfirmasi, Rabu (5/8/2026).

1. Bandung Barat terdampak langsung penurunan panen

Ilustrasi kekeringan. (IDN Times/Aditya Pratama)

Kendati banyak lahan pertanian yang terdampak, Linda mengatakan, sektor pertanian padi yang dilaporkan mengalami dampak secara langsung dari kemaru tahun ini. Bahkan, di Kabupaten Bandung Barat potensi penurunan hasil panen mencapai belasan persen.

"Komoditas terdampak paling signifikan dirasakan pada komoditas padi (beras). Sebagai contoh, sejumlah kawasan seperti Bandung Barat memproyeksikan penurunan produksi gabah sekitar 10–15 persen jika tidak dilakukan intervensi pengairan secara cepat," tuturnya.

Hal senada dinyatakan, Kepala Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Provinsi Jawa Barat, Dikky Achmad Sidik. Dia mengungkapkan, saat ini ada beberapa bendung yang menjadi tanggung jawab provinsi mengalami penurunan debit air. Hal ini berdampak ke sektor pertanian.

"Beberapa daerah irigasi yang kekeringan ditemukan di Leuwikuya, Soreang Kabupaten Bandung, Ciputrahaji di Ciamis, Biuk dan Padawaras, Tasikmalaya," kata Dikky saat dikonfirmasi, Selasa (4/8/2026).

2. Bandung milik pemerintah provinsi pun terdampak kekeringan

Ilustrasi kekeringan. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

Hanya saja, Dikky menjelaskan, kekeringan yang terjadi ini bukan berarti lahan-lahan pertanian yang ada di wilayah tersebut tidak dialiri air sama sekali. Air tetap ada, namun volumenya tidak besar seperti kondisi normal.

Disinggung mengenai potensi gagal panen akibat air debit air yang berkurang, Dikky memastikan, hal tersebut belum ditemukan karena beberapa petani sudah ada yang masuk masa panen.

"Biasanya masih ada debit kang ga sampai kering. Ada sebagian sudah masuk masa panen jadi kebutuhan nya kecil dan terpenuhi," kata dia.

3. Pemprov Jabar upayakan agar panen tetap aman

Ilustrasi kekeringan (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

Pemprov Jabar saat ini tengah mengupayakan agar kebutuhan air untuk lahan-lahan pertanian tercukupi, sehingga panen dan masa tanam mendatang bisa terlaksana sesuai dengan musimnya.

Adapun beberapa pengurangan debit air di sejumlah bendung yang ada di Jabar ini bervariasi. Dikky mengklaim tidak ada bendung yang mengalami kekeringan penuh.

"Kami masih mengejar supaya panen tidak terganggu. Kalau pengurangan bervariasi. Ada yang kurang 10 persen ada 20 persen dari debit kebutuhan area irigasi," kata dia.

Setali tiga uang, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengungkapkan, ada beberapa wilayah yang saat ini sudah mulai merasakan dampak serius dari kekeringan. Sektor pertanian menjadi yang paling terpukul akibat pasokan air yang kian menipis.

"Yang jelas (terdampak) kan Indramayu. Ya, jelas Indramayu. Nanti sebagian Subang, sebagian Karawang," ujar Dedi.

Menurutnya, wilayah-wilayah lumbung padi Jawa Barat itu mengalami kendala besar karena faktor irigasi yang bermasalah atau mengalami penurunan fungsi pemeliharaan.

Dia mengatakan, persoalan irigasi tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemprov Jabar saja, melainkan ada pembagian kewenangan bwesa BBWS, Pemprov Jabar, dan Perum Jasa Tirta (PJT), langkah taktis harus segera diambil agar sektor pertanian tidak lumpuh.

"Kekeringan kan sebenarnya faktor infrastruktur irigasi. Sehingga alokasi anggaran untuk irigasi harus terus ditingkatkan. Tetapi kan di situ ada tingkatan kewenangan. Ada yang BBWS, ada yang provinsi, ada yang PJT (Perum Jasa Tirta)," kata Dedi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article