Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ekonomi Restoratif Dinilai Perlu Dukungan Kebijakan dan Pendanaan
Ilustrasi ekonomi yang baik (unsplash/towfiqu barbhuiya)

Bandung, IDN Times - Pemulihan lingkungan dinilai tidak lagi bisa dipandang semata sebagai agenda pelestarian alam. Sejumlah pihak menilai upaya restorasi perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pembangunan yang mampu menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Gagasan tersebut mengemuka dalam pemutaran film dokumenter dan dialog bertajuk Ekonomi Restoratif: Mendorong Kebijakan dan Pembiayaan untuk Inisiatif Berbasis Alam yang diselenggarakan The PRAKARSA di Institut Français Indonesia, Kamis (23/7/2026). Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, sektor keuangan, investor, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil.

Film dokumenter yang diputar mengangkat hasil penelitian mengenai praktik pemulihan ekosistem di empat wilayah, yakni Siak, Tamanmartani, Sigi, dan Tampelas. Riset tersebut menunjukkan bahwa upaya restorasi dapat berjalan beriringan dengan penciptaan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

Melalui forum tersebut, para peserta juga membahas pentingnya membangun kolaborasi agar inisiatif berbasis alam memperoleh dukungan kebijakan, akses pembiayaan, serta kemitraan yang mampu memperluas dampaknya bagi masyarakat.

1. Restorasi dinilai perlu menjadi agenda pembangunan

Ilustrasi Statistik Ekonomi (Pexels/RDNE Stock project)

Direktur Eksekutif The PRAKARSA, Victoria Fanggidae, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk menghubungkan pengalaman masyarakat di lapangan dengan proses penyusunan kebijakan di tingkat nasional. Menurutnya, berbagai praktik restorasi yang telah dilakukan di daerah perlu mendapat perhatian lebih luas agar dapat menjadi bagian dari agenda pembangunan.

"Kami ingin menghadirkan suara mereka dari lapangan lewat film ini. Harapan kami, temuan riset ini dapat terhubung sehingga bisa menjadi agenda bersama, menjangkau ruang para pembuat kebijakan di Jakarta dan tidak jadi gerakan sendiri-sendiri," kata Victoria, dalam siaran pers yang diterima IDN Times, Sabtu (25/7/2026).

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menilai paradigma pembangunan perlu berubah. Menurutnya, pembangunan tidak lagi dilakukan dengan mengorbankan lingkungan, tetapi justru harus berjalan beriringan dengan upaya perlindungan alam.

2. Manfaat ekonomi dinilai menjadi kunci keberhasilan

ilustrasi lahan gambut (pixabay.com/Lipponen)

Penelitian The PRAKARSA mencakup berbagai model restorasi, mulai dari pemulihan lahan pertanian di Tamanmartani, restorasi gambut di Tampelas dan Siak, hingga pengelolaan hutan berbasis kopi di Sigi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan restorasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Kesadaran menjaga lingkungan, menurut hasil penelitian itu, perlu didukung oleh insentif ekonomi, akses pasar, kelembagaan yang kuat, dan pembiayaan yang memadai. Semakin besar manfaat yang dirasakan masyarakat, semakin tinggi pula komitmen mereka untuk menjaga ekosistem.

"Jangan vis a vis. Yang sudah kadung merusak akan kita berikan jeweran supaya mereka mau memulihkan lingkungan. Kita sedang mendata mereka. Itu yang akan kita kerjakan nanti," ujar Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat.

3. Kolaborasi dinilai penting memperluas ekonomi restoratif

ilustrasi pertanian dan perkebunan (Pixabay.com/ Pexels)

Dialog setelah pemutaran film turut membahas peran pemerintah, sektor keuangan, filantropi, investor, serta masyarakat dalam memperkuat ekonomi restoratif. Forum tersebut juga menjadi ruang bertukar pengalaman antara pelaku di lapangan dan para pengambil kebijakan.

Koordinator Forum Kemitraan Multipihak Sigi Hijau, Muhammad Jauhari, mengatakan masyarakat di Sigi memilih menjaga hutan karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan hidup mereka. Menurutnya, kelestarian hutan menjadi penopang utama sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan warga.

"Kalau tidak ada air, tidak ada pertanian, tidak ada yang bisa dimakan. Di Sigi tidak ada tambang atau perkebunan. Ini pilihan sepi di jalan yang sunyi," kata Jauhari.

Sekitar 100 peserta menghadiri forum tersebut, mulai dari perwakilan pemerintah, industri berbasis restorasi, sektor keuangan, akademisi, media, hingga organisasi masyarakat sipil. Selain memperkenalkan konsep ekonomi restoratif, kegiatan ini diharapkan membuka peluang lahirnya kemitraan baru, dukungan regulasi, serta skema pembiayaan yang dapat memperkuat berbagai inisiatif berbasis alam di berbagai daerah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article