Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Cerita Fahri, Pemuda Bandung yang Jadi Juru Sembelih Kurban Sejak SMA
(IDN Times/Azzis Zulkhairil)
  • Fahri Ahlya, pemuda Bandung berusia 34 tahun, sudah menjadi juru sembelih halal sejak SMA setelah belajar langsung dari ayahnya dan para tukang jagal di lingkungannya.
  • Profesi juleha kini makin jarang diminati anak muda, sementara banyak tukang potong hewan di Bandung mulai menua sehingga perlu regenerasi agar tradisi tetap terjaga.
  • Fahri menekankan pentingnya mengikuti syariat dalam penyembelihan, seperti puasa makan 12 jam untuk hewan kurban, serta berharap profesi ini terus dilestarikan oleh generasi muda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
sekitar umur 16 tahun

Fahri pertama kali menyembelih hewan kurban saat masih duduk di bangku SMA setelah belajar dari para tukang jagal dan ayahnya.

selepas lulus SMA

Fahri mulai terjun langsung menjual daging bersama rekan-rekannya dan terus menekuni profesi sebagai juru sembelih halal.

Sabtu (27/5/2026)

Fahri menceritakan pengalamannya menjadi juleha kepada wartawan, menyoroti pentingnya regenerasi dan edukasi bagi anak muda untuk melestarikan profesi ini.

kini

Fahri tetap aktif menjadi juleha di Bandung dan berharap profesi ini tidak punah serta terus diminati generasi muda.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Seorang pemuda bernama Fahri Ahlya dari Bandung menceritakan pengalamannya menjadi juru sembelih halal (juleha) sejak duduk di bangku SMA dan terus menekuni profesi tersebut hingga kini.
  • Who?
    Fahri Ahlya, pria berusia 34 tahun asal Mutiara Mas Regency, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung, yang telah lama menjadi tukang potong hewan kurban dan belajar langsung dari ayahnya.
  • Where?
    Kegiatan pemotongan hewan kurban dilakukan di lingkungan Mutiara Mas Regency, Kecamatan Ujung Berung, Kota Bandung, Jawa Barat.
  • When?
    Pernyataan Fahri disampaikan pada Sabtu, 27 Mei 2026. Ia mulai menjadi juleha sejak usia sekitar 16 tahun ketika masih bersekolah di SMA.
  • Why?
    Fahri tertarik menjadi juleha karena ingin ikut berpartisipasi dalam ibadah kurban dan melestarikan profesi yang mulai jarang diminati oleh generasi muda.
  • How?
    Ia belajar teknik penyembelihan halal dari para jagal senior dan ayahnya, mengikuti aturan syariat seperti mempuasakan hewan sebelum disembelih agar prosesnya sesuai ketentuan agama.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada kakak namanya Fahri dari Bandung. Dulu waktu masih SMA dia suka lihat orang motong hewan kurban. Terus dia belajar sama bapaknya dan tukang potong lain. Sekarang dia sudah jago jadi juru sembelih halal. Dia ingin anak muda juga mau belajar, biar nanti masih ada yang bisa motong hewan kurban dengan benar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Kisah Fahri menunjukkan bahwa semangat belajar dan ketekunan dapat menumbuhkan keahlian yang bermanfaat bagi masyarakat. Dari rasa ingin tahu di masa SMA hingga menjadi juru sembelih halal berpengalaman, ia memperlihatkan bagaimana tradisi dan nilai ibadah bisa diwariskan melalui praktik nyata, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk menjaga profesi yang mulai langka ini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Menjadi juru sembelih halal (juleha) hewan kurban memerlukan keahlian khusus dan ada teknik tersendiri. Tidak bisa sembarang orang mendadak jadi tukang jagal hewan kurban. Anak-anak muda yang ingin menjadi juleha pun saat ini tidak begitu banyak yang tertarik.

Namun berbeda dengan Fahri Ahlya yang sudah berpengalaman menjadi tukang potong hewan dan kerap diperbantukan saat Idul Adha oleh warga Mutiara Mas Regency, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung.

Pria yang saat ini berumur 34 tahun ini terjun menjadi juleha berawal dari sering melihat pemotongan hewan kurban setiap Idul Adha. Hal itu dilakukan sejak beberapa puluh tahun lalu, sembari membantu membagikan daging di lingkungan rumahnya.

"Awal mula tertariknya ya karena pas kurban itu kan hajat orang bersama. Jadi kan istilahnya ramai-ramai gitu, jadi pas melihat orang motong sapi itu kayak tertarik aja gitu. Soalnya kan bisa ikut bantu buat ibadah juga," ujar Fahri saat ditemui, Sabtu (27/5/2026).

1. Sudah menjadi tukang jagal hewan kurban sejak SMA

(IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Setelah sering melihat pemotongan hewan kurban di lingkungan sekitar rumahnya, Fahri mulai belajar dari para tukang jagal lainnya dan akhirnya diberikan kesempatan untuk memotong hewan kurban langsung pada umur sekitar 16 tahun yang mana dia masih duduk di bangku SMA.

Beruntungnya, bapak kandung Fahri memiliki keahlian serupa. Dia pun turut diberikan banyak ilmu dan teknik-teknik untuk menyembelih hewan kurban sesuai syariat Islam.

"Waktu pertama jagal hewan sendiri itu saya pas SMA. Soalnya kan suka ikut-ikut ke musala. Jadi lihat, lihat bapak sendirilah, waktu itu nyobain gitu, ya penasaran pak. Lama-lama ya belajar juga," ujardia.

2. Penjagal hewan kurban harus tetap ada

Pemeriksaan kesehatan hewan kurban Iduladha oleh Balai Karantina Sulawesi Selatan, Minggu (24/5/2026)/Dok. Badan Karantina Indonesia

Selepas lulus SMA, Fahri pun turut terjun langsung untuk menjual daging bersama rekan-rekannya hingga saat ini. Menurut dia, profesi sebagai juleha ini memang sudah jarang dilirik oleh anak-anak muda, sementara para tukang potong hewan khususnya yang ada di kelurahan di Kota Bandung sudah mulai memasuki usia senja.

Kendati begitu, Fahri merasa saat ini pun pemerintah kota sudah mulai memberikan edukasi terhadap para pelajar untuk bisa menjadi juleha.

"Harus banget dilestarikan. Soalnya kan makin ke sini kan kayak ada pergantian lah, ada Ustaz yang udah mulai tua segala macam," tuturnya.

3. Generasi muda saat ini jangan ogah belajar memotong hewan kurban

Pemeriksaan kesehatan hewan kurban Iduladha oleh Balai Karantina Sulawesi Selatan, Minggu (24/5/2026)/Dok. Badan Karantina Indonesia

Lebih lanjut, Fahri mengatakan, untuk menyembelih hewan kurban memang ada peraturan yang harus dijalankan seperti hewan harus melalui puasa makan sebelum dipotong dan beberapa persyaratan lainnya.

"Kalau kayak hewan kurban yang sudah dikirim ke tempat (warga) biasanya itu harus puasa 12 jam kalau syariatnya. Jadi biar nanti pas proses kulitnya nggak nempel segala macam. Cuma minum harus dikasih," ujar dia.

Fahri berharap agar profesi tukang potong hewan ini dalam beberapa tahun mendatang tidak punah dan terus beregenerasi. Dia juga berpesan agar para anak muda tidak anti untuk belajar memotong hewan kurban.

"Harapannya agar terus ada profesi ini, karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan meneruskan," tuturnya.

Editorial Team

Related Article