Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Bahan Bakar atau Pangan? Lingkungan Tetap Jadi Korban Industri Sawit

Bahan Bakar atau Pangan? Lingkungan Tetap Jadi Korban Industri Sawit
perkebunan sawit (dok. youtube/Indonesia Nature Film Society)
Share Article

Bandung, IDN Times - Peningkatan bauran energi hijau pada bahan bakar minyak belum tentu berdampak positif pada upaya pemerintah menurunkan emisi gas rumah kaca. Bahkan, peningkatan bauran minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) justru mendesak pasokan yang selama ini digunakan untuk minyak goreng.

“Dalam periode 2018-2022, produksi CPO untuk konsumsi biodiesel dalam negeri relatif meningkat. Tapi permintaan CPO untuk sektor pangan juga tidak berkurang,” kata Tommy Ardian Pratama, Direktur Eksekutif Traction Energy Asia, dalam siaran pers yang diterima Kamis (11/7/2024).

Laporan hasil studi Traction Energy Asia ini mengungkapkan penggunaan CPO sebagai bahan baku utama untuk produksi energi hijau seperti biodiesel menimbulkan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap sektor pangan, yang pada akhirnya dapat mendorong perluasan lahan kelapa sawit yang menekan lingkungan, meningkatkan deforestasi dan melepas emisi karbon, terutama dari pabrik pengolahan minyak kelapa sawit yang mengeluarkan gas metana.

1. Sejak 2023, B30 telah ditingkatkan jadi B35

Ilustrasi perkebunan kelapa sawit (IDN Times/Dokumen)
Ilustrasi perkebunan kelapa sawit (IDN Times/Dokumen)

Pemerintah telah menerapkan program mandatori biodiesel sejak 2018. Percepatan dilakukan dengan menerapkan B30 pada 2020.

Sejak 2023, B30 ini telah ditingkatkan menjadi B35, yang artinya kadar biodiesel ditingkatkan lagi dari 30 persen menjadi 35 persen pada campuran dengan bahan bakar solar konvensional. Hal ini sejalan dengan pernyataan pemerintah untuk terus meningkatkan proporsi minyak nabati dalam bahan bakar.

Menurut Firmansyah, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro, pertumbuhan lahan perkebunan sawit diasumsikan sebesar 1 persen-1,74 persen berdasarkan data historis melalui deforestasi atau alih fungsi lahan dari hutan ke perkebunan.

“Kebijakan bauran biodiesel seperti B30 dan B35 dapat menyebabkan kekurangan CPO di masa depan, jika lahan yang digunakan untuk perkebunan sawit terbatas, sehingga kelangkaan CPO untuk pangan akan terjadi lebih cepat,” ujar Firmansyah.

2. Posisi CPO dalam industri pangan sangat penting

ilustrasi menuang minyak (freepik.com/DC Studio)
ilustrasi menuang minyak (freepik.com/DC Studio)

Sebagai salah satu minyak nabati terbanyak yang dikonsumsi dunia, CPO memiliki peran penting dalam industri pangan. Data dari United States Department of Agriculture (USDA) memproyeksikan produksi CPO Indonesia mencapai 45,5 juta ton pada periode 2022/2023.

Proyeksi volume produksi tersebut menjadikan Indonesia dengan penghasil CPO yang terbesar di dunia.

Fakta sebenarnya, volume produksi Indonesia sejak 2019, bahkan melebihi proyeksi USDA. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), produksi CPO pada 2019 mencapai puncaknya sebesar 47,18 juta ton.

Tahun-tahun berikutnya, memang mengalami penurunan, tetapi volume produksi tetap tinggi, di kisaran 46-47 juta ton. Data terakhir, pada 2022, menunjukkan produksi CPO mencapai 46,73 juta ton.

Berdasarkan data GAPKI tersebut, volume produksi CPO Indonesia tetap tinggi walau pada 2019 Uni Eropa yang menghentikan penggunaan sawit untuk biodiesel. Memang sejak itu, harga CPO dunia turun. Berimbas pada nilai ekspor Indonesia pada 2019 sebesar USD15,54 miliar, turun dari tahun sebelumnya yang sebesar USD17,9 miliar.

Pada 2022, volume ekspor CPO Indonesia mencapai 26,22 juta ton dengan nilai Free on Board (FOB) mencapai USD15,97 miliar. Hal ini menandakan adanya kenaikan harga CPO dunia yang terutama dipicu oleh upaya hilirisasi CPO di Indonesia. 

Tiga jalur utama dalam hilirisasi CPO yang menjadi fokus adalah industri kompleks oleofood, industri kompleks oleokimia, dan industri biofuel.

3. Upaya dorong bauran minyak kelapa sawit jadi bahan bakar bisa bikin situasi makin buruk?

Kelompok tani Betahamu dari Asahan datangi Kodam I Bukit Barisan soal masalah agraria yang terjadi di lahan sewaan mereka, Rabu 19/06/2024 (IDN Times/Eko Agus Herianto)
Kelompok tani Betahamu dari Asahan datangi Kodam I Bukit Barisan soal masalah agraria yang terjadi di lahan sewaan mereka, Rabu 19/06/2024 (IDN Times/Eko Agus Herianto)

Menurut Ardi Adji, Pengajar dan Peneliti Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, perluasan lahan bukan jadi satu-satunya cara untuk meningkatkan pasokan CPO.

“Tidak perlu terus menerus memperluas lahan, tapi bisa juga dari peningkatan produktivitas petani dan pengelolaan pasar. Populasi petani di Indonesia itu cukup dominan, ada lebih dari 10 juta petani kelapa sawit yang harus dibantu meningkatkan produktivitas tanpa menambah lahan,” katanya.

Upaya mendorong bauran minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar bisa membuat situasi lebih buruk, setidaknya menurut Bhima Yudhistira Adhinegara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS).

“Apa benar tingkat polusi masyarakat di kota bisa turun karena ada peningkatan bauran energi? Bagaimana dengan masyarakat di desa? Mereka kesulitan karena lahan berkurang, kemiskinan meningkat, stunting atau kekurangan gizi kronis bisa makin naik dan klaim jaminan kesehatan meningkat,” kata Bhima.

Bhima mendorong cara pandang alternatif selain penggunaan bahan bakar minyak dan solar yang boros dalam komponen biaya logistik di Indonesia.

“Bukan bahan bakarnya yang terus menerus kita sediakan. Ini memperkaya perusahaan-perusahaan pengolah bahan bakar itu. Memperkaya para aktornya,” katanya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana

Latest News Jawa Barat

See More

Website SPMB Jabar Error, Orangtua Kesulitan Akses Pemetaan Calon Murid

13 Jun 2026, 17:32 WIBNews