ASITA: Penutupan Rute Bandung-Yogya Wings Air, Orang Pilih Jalur Darat

- Minat rendah pada rute Bandung–Yogyakarta disebabkan harga tiket pesawat tinggi dan akses darat yang makin efisien, membuat masyarakat lebih memilih perjalanan darat.
- Konektivitas Bandara Yogyakarta International Airport yang jauh dari pusat kota menambah waktu tempuh, menjadikan penerbangan kurang kompetitif dibandingkan jalur darat langsung.
- ASITA mendorong pemerintah daerah menggandeng industri pariwisata untuk menciptakan paket wisata terintegrasi agar rute udara Bandung–Yogyakarta kembali diminati pasar.
Bandung, IDN Times - Minat masyarakat untuk menggunakan pesawat rute Bandung–Yogyakarta dinilai belum cukup kuat untuk menopang keberlanjutan penerbangan. Faktor harga tiket hingga kemudahan akses darat menjadi alasan utama masyarakat lebih memilih moda transportasi lain.
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Jawa Barat, Daniel Guna Nugraha menyebut keputusan maskapai membuka rute seharusnya didasarkan pada riset pasar yang matang. Tanpa itu, rute dengan jarak relatif dekat seperti Bandung–Yogyakarta akan sulit bersaing dengan alternatif perjalanan darat yang semakin efisien.
“Dengan harga tiket pesawat di atas Rp800 ribu, sementara perjalanan darat ke Yogyakarta bisa ditempuh 6–7 jam, masyarakat cenderung memilih opsi yang lebih ekonomis,” kata Daniel.
1. Harga tiket dan waktu tempuh jadi pertimbangan utama

Daniel menjelaskan, saat ini konektivitas darat dari Bandung ke kota-kota di Pulau Jawa semakin baik. Jalan tol membuat perjalanan ke Semarang bisa ditempuh sekitar 4–5 jam, sementara ke Yogyakarta sekitar 6–7 jam.
Kondisi ini membuat pesawat kehilangan daya saing, terutama untuk wisatawan. Dengan selisih harga yang cukup jauh, perjalanan darat dianggap lebih worth it meski memakan waktu sedikit lebih lama.
Menurutnya, segmen wisatawan memang lebih dominan dibanding pebisnis di rute ini. Sementara pebisnis cenderung memilih pesawat karena faktor waktu, jumlahnya belum cukup besar untuk menopang okupansi penerbangan.
2. Konektivitas bandara jadi pekerjaan rumah

Selain harga, persoalan konektivitas juga menjadi hambatan. Daniel menyoroti lokasi Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) yang masih membutuhkan perjalanan lanjutan menuju pusat kota.
Penumpang harus melanjutkan perjalanan sekitar 1–1,5 jam menggunakan transportasi darat atau kereta bandara. Hal ini membuat total waktu perjalanan menjadi kurang kompetitif dibandingkan perjalanan darat langsung dari Bandung.
Ia menilai kondisi akan berbeda jika penerbangan mendarat di bandara yang lebih dekat ke pusat kota. “Konektivitas setelah mendarat itu yang masih jadi PR (pekerjaan rumah) besar,” ujarnya.
3. Pemda diminta tidak hanya buka rute, tapi dorong paket wisata

Daniel menegaskan, pemerintah daerah tidak cukup hanya mendorong pembukaan rute penerbangan. Perlu ada strategi menyeluruh agar rute tersebut hidup dan diminati pasar.
Salah satunya dengan melibatkan industri pariwisata seperti travel agent sebagai penggerak. Mereka tidak hanya menjual tiket, tetapi juga paket wisata yang terintegrasi antara Bandung dan Yogyakarta.
Menurutnya, kehadiran agen perjalanan bisa menjadi “booster” untuk meningkatkan minat perjalanan udara. Dengan paket wisata yang menarik, wisatawan akan melihat nilai lebih dari perjalanan menggunakan pesawat.
“Yang menikmati itu dua destinasi, Bandung dan Yogyakarta. Jadi harus sama-sama didorong,” kata dia.
Daniel menambahkan, pemerintah daerah perlu membaca ulang kebutuhan pasar sebelum membuka rute baru. Tanpa strategi yang tepat, rute-rute pendek di Pulau Jawa berisiko kembali tutup karena minim peminat.
















