Angka Fatherless di Jabar Tinggi, Kegiatan Bareng Ayah Jadi Hal Penting

- Data BKKBN menunjukkan angka fatherless di Jawa Barat mencapai 29,5 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional, memicu pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak.
- Generali Indonesia dan Komunitas Ibu Profesional meluncurkan program Berbagi Bergerak Bersama 2026 untuk 1.000 anak di 50 kota, menghadirkan kegiatan edukatif dan kolaboratif bagi keluarga.
- Inisiatif ini bagian dari gerakan global The Human Safety Net yang sejak 2018 telah menjangkau lebih dari 40 ribu keluarga melalui program pendidikan, nutrisi, dan literasi keuangan.
Bandung, IDN Times – Fenomena anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah atau fatherless masih menjadi tantangan dalam pengasuhan di Indonesia. Berdasarkan data Pemutakhiran Pendataan Keluarga dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN, angka fatherless (tanpa sosok ayah) di Indonesia mencapai 25,8 persen.
Di Jawa Barat angkanya bahkan lebih tinggi mencapai 29,5 persen. Ini berarti hampir 3 dari 10 anak di Jawa Barat tumbuh tanpa peran pengasuhan ayah yang optimal, angka yang berada di atas rata-rata nasional.
Kondisi ini dinilai berdampak terhadap tumbuh kembang anak sehingga diperlukan keterlibatan lebih besar dari ayah dalam proses pengasuhan, tidak hanya sebagai pencari nafkah tetapi juga sebagai pendamping anak di rumah.
"Dengan tema 'Aku dan Bapakku', kami ingin semakin banyak ayah menyadari bahwa kehadiran mereka bukan sekadar membantu pengasuhan, tetapi menjadi bagian yang tidak tergantikan dalam proses tumbuh kembang anak," ujar Founder Komunitas Ibu Profesional, Septi Peni Wulandani, dalam keterangan tertulis diterima IDN Times, Minggu (5/7/2026).
1. Sasar 1.000 anak di 50 kota

Sebagai respons terhadap persoalan tersebut, Generali Indonesia bersama Yayasan Jarimatika atau Komunitas Ibu Profesional menjalankan program Berbagi Bergerak Bersama sepanjang 2026.
Program ini ditargetkan menjangkau sekitar 1.000 anak dari keluarga rentan di 50 kota di Indonesia. Selain menghadirkan aktivitas bermain bersama orang tua dan anak, program juga memberikan dukungan pendidikan melalui dana donasi.
Di Kota Bandung, kegiatan berlangsung di Sekolah Bintang Madani, Kecamatan Arcamanik, pada Sabtu (4/7/2026). Peserta mengikuti permainan kolaboratif ayah dan anak, kelas parenting, edukasi perencanaan keuangan keluarga, hingga metode belajar berbasis permainan (play-based learning).
2. Kedekatan orang tua dan anak perlu dibangun sejak dini

Septi mengatakan bermain merupakan media belajar pertama bagi anak sekaligus cara membangun hubungan emosional dalam keluarga. Menurutnya, aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memperkuat komunikasi antara orang tua dan anak.
Ia berharap keterlibatan ayah dalam pengasuhan dapat menjadi budaya baru di Indonesia sehingga keluarga tidak hanya berperan memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga menjadi ruang belajar dan bertumbuh bersama.
“Kami berharap ini menjadi awal lahirnya budaya baru di Indonesia, yaitu budaya keluarga yang belajar, bermain, dan bertumbuh bersama,” kata Septi.
3. Program sosial telah menjangkau puluhan ribu keluarga

Sementara itu, Chief Product Management dan Marketing Officer Generali Indonesia, Jong Wie Siu, mengatakan keluarga merupakan lingkungan pertama yang menentukan proses tumbuh kembang anak.
Karena itu, melalui program ini perusahaan ingin mendorong terciptanya ruang interaksi yang lebih intens antara orang tua dan anak, terutama bagi keluarga yang berada dalam kondisi rentan.
Program tersebut merupakan bagian dari gerakan The Human Safety Net yang dijalankan Generali Group di berbagai negara. Di Indonesia, inisiatif itu disebut telah berjalan sejak 2018 dan menjangkau lebih dari 40 ribu anak dan keluarga melalui berbagai program pendidikan, nutrisi, penguatan ketahanan keluarga, serta literasi keuangan.


















