Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
83 Siswa SMA di Sukabumi Tak Bisa Ikut Ujian Akibat Bencana Longsor
ilustrasi ujian (unsplash.com/Nguyen Dang Hoang Nhu)

Sukabumi, IDN Times - Sebanyak 83 siswa kelas XII di SMA Negeri 1 Simpenan, Kabupaten Sukabumi, tidak bisa mengikuti Penilaian Sumatif Akhir Jenjang (PSAJ) akibat bencana longsor yang terjadi di wilayah tersebut. Akses menuju sekolah terputus, sementara beberapa siswa juga kehilangan tempat tinggal akibat banjir bandang.

Bencana alam tersebut terjadi pada 6 Maret 2025 lalu. Hingga Selasa (11/3/2025), bencana itu meluas dan mengakibatkan 4.836 KK atau 8.244 jiwa terdampak, 293 KK atau 529 jiwa mengungsi, lima orang meninggal dunia dan empat orang masih dalam pencarian.

1. Akses ke sekolah tertutup longsor

Ilustrasi ujian di kelas (pexels.com/Ivan Samkov)

Kepala KCD Wilayah V Jawa Barat, Lima Faudiamar mengatakan bahwa longsor yang terjadi di Tanjakan Pakuon menyebabkan siswa dari beberapa kampung terisolir.  

"Sejauh ini baru satu sekolah yang melaporkan, yaitu SMA 1 Simpenan. Sekolahnya tidak terdampak, tapi siswanya yang tinggal di Kampung Babakan Wareng, Babakan Cisarua, Kampung Cijangkar, Kampung Cijati, dan Desa Cidadap kesulitan menuju sekolah karena aksesnya tertutup longsor. Ada juga siswa yang rumahnya hanyut terbawa arus Sungai Bojongkopo," ungkap Lima saat dihubungi, Selasa  (11/3/2025).

2. PSAJ susulan akan disesuaikan dengan kondisi siswa

ilustrasi ujian (pexels.com/SNDRF)

Dengan kondisi tersebut, pihaknya tidak ingin memaksakan siswa yang terdampak untuk tetap hadir mengikuti ujian. Ia mempertimbangkan keselamatan para siswa terutama di tengah-tengah cuaca ekstrem.

"Saat ini kami sedang mendata siswa kelas XII yang tidak bisa mengikuti PSAJ karena akses terputus atau rumahnya terdampak. Keselamatan mereka lebih penting daripada ujian," kata Lima.

Sebagai solusinya, PSAJ susulan akan dijadwalkan setelah kondisi membaik. Mekanisme pelaksanaan pun dibuat fleksibel dapat dilaksanakan secara daring atau tatap muka (hybrid).

"Kami akan melihat situasi dan kesiapan siswa. Jika memungkinkan, mereka bisa mengikuti ujian di sekolah. Tapi kalau masih sulit, kami akan fasilitasi secara daring," jelasnya.

3. Ijazah hilang bisa diganti secara gratis

ilustrasi ijazah(freepik.com/Freepik)

Selain itu, Lima memastikan bahwa bagi siswa yang kehilangan ijazah akibat bencana, penggantian bisa dilakukan tanpa biaya. Hal serupa juga sempat terjadi pada bencana Desember 2024 lalu.

"Kalau ada ijazah yang hanyut atau hilang, bisa minta surat pengganti ke sekolah. Nanti saya tanda tangani, itu gratis. Ini sudah biasa dilakukan, termasuk saat bencana sebelumnya," pungkasnya.

Hingga saat ini, belum ada laporan sekolah tingkatan SMA sederajat yang mengalami kerusakan akibat longsor.

Editorial Team

Related Article