Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Warga Sekitar Geothermal Protes ke Pemprov, Khawatir Dampak Buruknya
Warga Cianjur tolak proyek geothermal gunung Gede Pangrango (dok. IDN Times)
  • Warga dari berbagai daerah di Jawa Barat menolak proyek geothermal karena khawatir merusak lingkungan, memicu krisis air, bencana alam, dan mengancam mata pencaharian mereka.
  • Perwakilan warga menyebut sudah ada dampak negatif di beberapa lokasi proyek geothermal lain seperti keracunan gas, ledakan, serta amblesan tanah yang menimbulkan keresahan masyarakat.
  • Masyarakat melayangkan tiga tuntutan utama: menghentikan proyek geothermal dan pembangunan perusak lingkungan, serta memperkuat sektor pertanian demi kesejahteraan dan kelestarian alam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times - Penolakan terhadap proyek geothermal kembali disuarakan sejumlah warga dari berbagai daerah di Jawa Barat. Mereka menilai proyek tersebut berpotensi merusak lingkungan hingga mengganggu kehidupan masyarakat sekitar.

Warga mengaku khawatir proyek panas bumi justru menimbulkan persoalan baru, mulai dari krisis air, bencana alam, hingga hilangnya mata pencaharian warga.

Pepen, salah satu warga yang menolak proyek geothermal, mempertanyakan sikap pemerintah yang dinilai tidak hadir saat masyarakat mengadukan persoalan di daerahnya.

“Waduk (bohong) lah. Kalau minta untuk jaga gunung, jaga alam. Selama ini juga ketika warga meminta menemui dia, dia gak pernah ada,” kata Pepen melalui siaran pers dikutip IDN Times, Rabu (10/6/2026).

Menurut dia, pemerintah seharusnya lebih memperhatikan persoalan lingkungan yang terjadi di Jawa Barat. Pepen menyebut tidak masuk akal jika pemerintah bisa turun membantu ke daerah lain, namun tidak hadir ketika warga di Jabar mengalami masalah.

“Masa gak ada? Gak masuk akal kalau dia bisa ke Aceh, bisa ke mana-mana bantuannya, tapi ketika di Jawa Barat sendiri ada masalah dia ga pernah bersikap,” ujarnya.

1. Takut jadi krisis air

Warga Cianjur tolak proyek geothermal gunung Gede Pangrango (dok. IDN Times)

Perwakilan warga Sukabumi, Ustad Embang, menyoroti dampak geothermal yang disebut membutuhkan banyak air. Ia mengaku belajar dari berbagai video mengenai dampak industri geothermal terhadap lingkungan.

“Lamun (kalau) industri geothermal dibangun di Desa Sinarasa, tangtu warga bakalan hese ibadah ge (warga juga jelas akan susah ibadah),” ujar dia.

Menurut Embang, air menjadi kebutuhan penting masyarakat, termasuk untuk beribadah. Sebagai muslim, kata dia, air dibutuhkan untuk bersuci sebelum menjalankan salat.

Ia pun menilai warga selama ini sudah hidup sejahtera tanpa keberadaan proyek geothermal. Embang khawatir kondisi itu berubah apabila proyek mulai berjalan.

“Warga tos sejahtera, lamun datang geothermal, kesejahteraan warga bakal leungit, nu aya imah warga digenti ku tenda, beas digenti ku mie instan jeung cai diganti ku cipanon,” katanya.

2. Sudah ada dampak geothermal di beberapa daerah

Ilustrasi proyek pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Hululais Unit 1 & 2 (110 MW) di Bengkulu. Proyek ini adalah bagian dari strategi quick win PGEO untuk mencapai kapasitas mandiri 1 GW. (Dok. PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO))

Sementara itu perwakilan warga Gunung Ciremai, Apip, mengatakan proyek geothermal dikhawatirkan memiskinkan masyarakat. Ia menuturkan kawasan Gunung Ciremai selama ini menjadi penopang pertanian dan sumber air bagi warga di Kabupaten Kuningan, Cirebon, hingga Majalengka.

Menurut dia, krisis air hingga bencana banjir dan longsor mulai dirasakan warga bahkan sebelum proyek geothermal dibangun. Apip menyebut kondisi itu terjadi setelah banyak perusahaan air serta industri pariwisata berupa hotel dan vila bermunculan di kawasan tersebut.

“Kalau musim kemarau warga sampai harus antre dan berebut air,” ucapnya.

Kekhawatiran warga itu juga disampaikan Lila berdasarkan penelitian Celios. Dalam penelitian tersebut disebutkan sejumlah dampak pernah terjadi di lokasi proyek geothermal di beberapa daerah.

“Kami menemukan di Sorik Merapi, Sarulla dan Dieng pernah terjadi keracunan gas. Selain itu terjadi juga ledakan gas di Dieng dan Patuha, amblesan tanah dan semburan lumpur panas di Mataloko,” kata Lila.

3. Berikan tiga petisi

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang kuartal I 2025. (dok. Pertamina)

Atas kekhawatiran ini, masyarakat yang tinggal di sekitar proyek pun melayangkan setidaknya tiga tuntutan:

1. Menghentikan seluruh rencana proyek geothermal di Pegunungan Jawa bagian Barat dan seluruh Indonesia.

2. Menghentikan seluruh proyek pembangunan yang merusak lingkungan dan merampas ruang hidup masyarakat di Pegunungan Jawa bagian Barat dan seluruh Indonesia.

3. Mendukung penuh sektor pertanian sebagai sektor ekonomi potensial serta pelestarian lingkungan di Pegunungan Jawa bagian Barat dan seluruh Indonesia demi kesejahteraan masyarakat.

Editorial Team

Related Article