Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Warga Cirebon Raya Lebih Jarang Liburan Dibanding Bandung dan Bodebek

ilustrasi liburan (Pexels.com/David Bartus)
ilustrasi liburan (Pexels.com/David Bartus)
Intinya sih...
  • Bandung Raya dan Bodebek dominasi perjalanan
  • Cirebon Raya: potensi besar, mobilitas rendah
  • Implikasi ekonomi dan tantangan daerah
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times- Pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) asal Cirebon Raya sepanjang Januari–November 2025 tercatat jauh lebih rendah dibandingkan kawasan Bandung Raya maupun Bodebek.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat menunjukkan, total perjalanan wisnus asal Cirebon Raya hanya mencapai 13,24 juta perjalanan, tertinggal signifikan dari Bandung Raya yang menembus 47,83 juta perjalanan, serta kawasan Bodebek yang diperkirakan melampaui 60 juta perjalanan pada periode yang sama.

Plt Kepala BPS Jawa Barat, Darwis Sitorus, menilai kesenjangan ini mencerminkan perbedaan karakter ekonomi dan mobilitas penduduk antarwilayah.

“Data perjalanan wisnus ini berbasis daerah asal, sehingga menunjukkan seberapa sering penduduk suatu wilayah melakukan perjalanan wisata. Dari sini terlihat bahwa warga Cirebon Raya relatif lebih jarang berlibur dibandingkan warga Bandung Raya dan Bodebek,” ujar Darwis, Jumat (9/1/2026).

1. .Bandung raya dan bodebek dominasi perjalanan

ilustrasi liburan ke Singapura (unsplash.com/Yesheng Liang)
ilustrasi liburan ke Singapura (unsplash.com/Yesheng Liang)

Berdasarkan data kumulatif 2025, Bandung Raya yang mencakup Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi, menjadi mesin utama pergerakan wisata domestik di Jawa Barat.

Kota Bandung dan Kabupaten Bandung masing-masing mencatat lebih dari 16 juta perjalanan, angka yang bahkan melampaui total perjalanan seluruh Cirebon Raya jika digabungkan.

Sementara itu, kawasan Bodebek (Bogor, Depok, Bekasi) menunjukkan intensitas mobilitas yang lebih tinggi lagi, ditopang jumlah penduduk besar, kedekatan dengan Jakarta, serta budaya perjalanan jarak pendek (short trips).

“Di wilayah metropolitan, perjalanan wisata tidak selalu berarti liburan panjang. Banyak perjalanan singkat, akhir pekan, atau staycation, tetapi tetap tercatat sebagai aktivitas wisata," kata Darwis.

2. Cirebon Raya: potensi besar, mobilitas rendah

ilustrasi liburan (pexels.com/Tatiana Syrikova)
ilustrasi liburan (pexels.com/Tatiana Syrikova)

Berbeda dengan dua kawasan tersebut, Cirebon Raya yang meliputi Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kuningan, dan Majalengka menunjukkan intensitas perjalanan yang lebih rendah. Kabupaten Cirebon menjadi penyumbang terbesar dengan 6,97 juta perjalanan, disusul Majalengka (2,37 juta), Kuningan (2,10 juta), dan Kota Cirebon (1,79 juta).

Darwis menjelaskan, rendahnya mobilitas wisata warga Cirebon Raya tidak bisa dilepaskan dari faktor struktural.

“Pendapatan rumah tangga, jenis pekerjaan, serta orientasi belanja masyarakat memengaruhi keputusan untuk berwisata. Di wilayah non-metropolitan, perjalanan wisata cenderung lebih jarang dan lebih selektif,” ujarnya.

Meski demikian, secara pertumbuhan tahunan, beberapa daerah Cirebon Raya justru mencatat lonjakan tinggi. Kuningan dan Majalengka, misalnya, tumbuh di atas 49 persen secara year-on-year. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan minat, meski dari basis yang masih kecil.

3. Implikasi ekonomi dan tantangan daerah

ilustrasi liburan ke tempat wisata religi (freepik.com/freepik)
ilustrasi liburan ke tempat wisata religi (freepik.com/freepik)

Darwis mengatakan, ketimpangan mobilitas wisata ini membawa implikasi ekonomi yang penting. Bandung Raya dan Bodebek tidak hanya menjadi daerah asal utama wisnus, tetapi juga memiliki ekosistem pendukung—transportasi, pendapatan, dan waktu luang yang mendorong frekuensi perjalanan tinggi.

Sebaliknya, Cirebon Raya masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan daya beli dan budaya berwisata masyarakatnya. Menurut Darwis, peningkatan perjalanan wisata dari Cirebon Raya ke depan akan sangat bergantung pada kualitas pertumbuhan ekonomi daerah.

“Jika pendapatan meningkat dan akses transportasi semakin baik, frekuensi perjalanan juga akan naik. Tantangannya adalah bagaimana pertumbuhan itu inklusif,” kata dia.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More

Persib-APPI Lelang Jersey untuk Bantuan Kemanusian di Sumatra

09 Jan 2026, 21:23 WIBNews