Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jabar Masuk KLB Campak Nasional karena Masih Ada Penolakan Vaksin

Jabar Masuk KLB Campak Nasional karena Masih Ada Penolakan Vaksin
ilustrasi campak (IDN Times/NRF)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Kementerian Kesehatan mencatat 8.224 kasus suspek campak dengan empat kematian dan 21 KLB di 11 provinsi, termasuk Jawa Barat sebagai salah satu wilayah terbanyak.
  • Kepala Dinas Kesehatan Jabar menyoroti penolakan vaksinasi sebagai pemicu utama meningkatnya kasus campak yang dapat menyebabkan komplikasi serius seperti radang otak dan kebutaan.
  • Dinkes Jabar menindaklanjuti dengan imunisasi respons wabah (ORI), koordinasi penguatan surveilans penyakit, serta edukasi publik untuk meningkatkan kesadaran pentingnya imunisasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Kementerian Kesehatan mencatat ada 8.224 kasus suspect campak di seluruh Indonesia per 23 Februari 2026. Dari data tersebut ada empat kasus kematian dan di periode yang sama, terdapat 21 KLB suspek campak yang tersebar di 17 kabupaten/kota di sebelas provinsi.

Kemudian, dari 13 KLB di enam provinsi telah terkonfirmasi melalui pemeriksaan laboratorium, dan lima provinsi dengan jumlah KLB campak terbanyak yakni Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, serta Jawa Tengah.

Menanggapi kondisi ini, Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Vini Adiani Dewi, menilai masih adanya kelompok masyarakat yang menolak vaksinasi atau imunisasi campak menjadi salah satu pemicu munculnya kembali kasus penyakit menular tersebut.

"Kasus campak terjadi karena masih ada masyarakat yang menolak imunisasi. Sehingga yang penting harus imunisasi, karena campak adalah virus yang mudah menular," kata Vini, Rabu (11/3/2026).

1. Campak bisa sampai radang otak

Ilustrasi vaksin campak
Ilustrasi vaksin campak (Freepik/freepik)

Dia menegaskan, risiko yang ditimbulkan campak tidak bisa dianggap sepele, terutama bagi anak yang belum mendapatkan imunisasi. Tanpa perlindungan vaksin, infeksi virus campak dapat memicu komplikasi serius yang berdampak pada kesehatan jangka panjang.

"Bila tidak diimunisasi, akan menyebabkan radang otak, kebutaan, radang paru dan malnutrisi berat," ucapnya.

Dinas Kesehatan Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk segera mengambil langkah pencegahan apabila mengalami gejala campak, sekaligus mencegah penularan ke orang lain.

"Isolasi mandiri, memakai masker, berobat ke fasyankes (Fasilitas Layanan Kesehatan)," kata dia.

2. ORI Campak dimaksimalkan

Ruam tanda campak pada anak.
ilustrasi campak pada anak (CDC/Public Health Image Library (PHIL), ID#28830)

Lebih lanjut, Vini mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti situasi tersebut dengan memberikan pendampingan intensif kepada kabupaten/kota yang masuk dalam definisi operasional KLB.

Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi respons wabah campak di sejumlah daerah yang terdampak.

"Kami tindaklanjuti untuk melaksanakan ORI campak. Yang sudah melaksanakan ORI, Kabupaten Bogor, Kota Cirebon dan Kabupaten Garut," kata Vini.

3. Pemantauan turut dilakukan langsung di masing-masing kabupaten dan kota

7dd337f2-e77d-4f0f-a7de-8a5b0cb6027b.jpeg
Pasien anak pada kasus campak di RSUD Soedarso Pontianak. (IDN Times/Teri).

Selain itu, pada pekan pertama Maret 2026, Dinas Kesehatan Jabar juga menggelar pertemuan koordinasi dengan dinas kesehatan kabupaten/kota guna memperkuat sistem surveilans penyakit dan meningkatkan cakupan imunisasi.

"Melakukan pemantauan dari sistem kewaspadaan dini, kemudian kami konfimasi ke kabupaten/kota setiap minggunya, bila ada kasus suspect atau konfirmasi, kami feedback ke kabupaten/kota yang bersangkutan untuk dilakukan PE (penyelidikan epidemiologi) secara fully investigated," katanya.

Tak hanya itu, Dinkes Jabar juga memperkuat upaya edukasi publik mengenai bahaya penyakit campak, termasuk menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat serta tenaga kesehatan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Galih Persiana
EditorGalih Persiana
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More