Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wagub Jabar Duga Penyebab Gagal Ginjal Bisa dari Jajanan  Sekolah
Ilustrasi jajanan (IDN Times/Besse Fadhilah)

Bandung, IDN Times - Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Barat (Jabar), Uu Ruzhanul Ulum menduga penyebab seorang anak mengalami gagal ginjal akut misterius tidak hanya dari obat sirup. Konsumsi makanan atau jajanan sekolah juga diyakininya turut memicu penyakit ini.

Menurutnya, ada obat atau bahkan makanan lain yang biasa dimakan anak-anak yang kurang higienis, bersih, dan kurang bergizi. Hal itu juga kemungkinan ditemukan di lingkungan terdekat, seperti sekolah.

"Seperti jajanan sekolah, karena pedagang ingin bati (untung) banyak kemudian pakai kimia dan lain-lain," ujar Uu di RS Sartikasih, Selasa (1/11/2022).

1. Dugaan ini harus diantisipasi oleh masyarakat

ilustrasi jajanan Indonesia dengan singkatan nama unik (instagram.com/galuhtati)

Dugaan ini juga harus ditindaklanjuti dengan antisipasi dari para instansi terkait. Ia mengimbau masyarakat saat ini jangan sampai panik atas penyakit ini, dia meminta agar terus berkoordinasi dengan petugas puskesmas jika anak mengalami sakit.

"Itu harus diantasipasi, masyarakat jangan galau, tak ada kebijakan yang tujuannya menyengsarakan rakyat," katanya.

2. Kasus gagal ginjal akut misterius di Jabar capai 41 kasus

Kepala Dinkes Jabar, Nina Susana Dewi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jabar, R. Nina Susana Dewi mengatakan, hingga saat ini kasus gagal ginjal akut misterius pada usia anak di Jabar sudah mencapai 41 kasus, dan pengidap yang meninggal 16 orang.

"Kasus ini naik terus. Beberapa hari lalu kan 33, naik 35, dan sekarang jadi 41 kasus. Meninggal jadi 16 kasus. Jadi kita harus tetap waspada," ujar Nina di RSHS Bandung, Rabu (26/10/2022).

Dinkes Jabar sendiri masih belum bisa memastikan penyebab dari gagal ginjal akut misterius. Upaya penelitian masih berjalan dan pemerintah pusat juga belum menjelaskan secara pasti penyebab utamanya.

"Sekarang kami tetap terus mengikuti informasinya. Ternyata, kemarin ada penelitian bahwa zat EG dan DG yang ada dalam obat cair bukan satu-satunya penyebab, ada penyebab lainnya," ungkapnya.

3. RSHS sebut penyebab gagal ginjal akut masih misterius

Kepala Divisi Nefrologi KSM IKA, RSHS Bandung, Prof. Dr. Dany Hilmanto (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Kemudian, Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung juga memastikan penyebab penyakit ini masih misterius. Rumah Sakit di bawah Kementerian Kesehatan itu pun belum mau mengambil kesimpulan bahwa obat cair jadi penyebab anak alami Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury).

Kepala Divisi Nefrologi KSM IKA, RSHS Bandung, Prof. Dr. Dany Hilmanto mengatakan, obat cair yang diduga menjadi penyebab anak mengalami gangguan ginjal akut progresif ini belum bisa dipastikan keabsahannya.

"Yang saat ini beredar paracetamol cair. Namanya saja gangguan ginjal akut, jadi sudah jelas tidak diketahui sebabnya," ujar Dany, Kamis (20/10/2022).

4. Penyebab kasus gagal ginjal akut misterius bisa berbeda-beda

Kepala Divisi Nefrologi KSM IKA, RSHS Bandung, Prof. Dr. Dany Hilmanto (IDN Times/Azzis Zulkhairil)

Menurutnya, kasus gangguan ginjal akut progresif ini di setiap negara bisa saja berbeda-beda. Adapun kasus konsumsi obat cair yang membuat anak mengalami gangguan ginjal akut progresif ada di negara Afrika Barat.

"Itu memang kebetulan di Gambia (Negara Afrika Barat) ada sekelompok anak yang mengonsumsi paracetamol terpapar dan kebetulan dia menderita gagal ginjal akut. Hal ini tidak bisa kita simpulkan," ungkapnya.

Dany menjelaskan, penyebab pasti dari kasus ini masih dalam penelitian. RSHS juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan untuk langkah penanganan pada pasien yang kini sudah ditemukan di Jabar.

"Kami tidak berdiam diri. Tiap hari kami rapat dengan Kemenkes, berupaya membentuk satgas investigasi penyebab gagal ginjal akut. Dan ini belum bisa disimpulkan," katanya.

Editorial Team

Related Article