Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tokoh Sunda Soroti SDM Jabar: Sarjana Masih Sedikit, Banyak Menganggur
Tokoh Sunda Soroti SDM Jabar: Sarjana Masih Sedikit, Banyak Menganggur (Dok.Istimewa)
  • Tokoh Sunda menilai Jawa Barat masih tertinggal dalam jumlah lulusan perguruan tinggi, sementara banyak sarjana menganggur karena belum mampu mandiri menciptakan lapangan kerja.
  • MMS mendorong investasi pendidikan dan konsolidasi masyarakat untuk meningkatkan kualitas SDM Jawa Barat, yang berpenduduk hampir 50 juta, demi daya saing ekonomi nasional dan global.
  • Forum menekankan kolaborasi Jawa Barat, Jakarta, dan Banten dalam isu ekologi, tata ruang, transportasi, serta pembangunan yang tetap memanfaatkan kearifan lokal Sunda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tokoh Sunda bilang Jawa Barat masih punya sedikit orang yang kuliah. Banyak sarjana juga belum punya kerja. Mereka ingin pendidikan dibuat lebih baik. Jawa Barat, Jakarta, dan Banten juga diminta bekerja bersama untuk sungai, lingkungan, dan jalan. Mereka ingin budaya Sunda tetap dijaga saat membangun daerah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah tantangan pendidikan dan pengangguran sarjana, forum MMS memperlihatkan perhatian lintas generasi terhadap penguatan SDM Jawa Barat. Pertemuan tokoh pemerintah, akademisi, dan masyarakat menghadirkan ruang konsolidasi pendidikan, kerja sama Jawa Barat–Jakarta–Banten, serta pemanfaatan kearifan lokal sebagai unsur yang menyertai pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times – Sejumlah tokoh Sunda menyoroti persoalan kualitas sumber daya manusia (SDM) di Jawa Barat yang dinilai masih menjadi pekerjaan rumah besar. Meski menjadi provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia, tingkat pendidikan tinggi masyarakat Jawa Barat dinilai belum mampu mengejar daerah lain.

Isu tersebut mengemuka dalam Milangkala ke-2 Majelis Musyawarah Sunda (MMS) yang digelar melalui forum Pasamoan Inohong Sunda di Gedung IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Jakarta Pusat, Sabtu (8/8/2026).

Pinisepuh MMS, Burhanudin Abdullah, mengatakan tantangan Jawa Barat bukan hanya soal jumlah lulusan perguruan tinggi yang masih rendah, tetapi juga banyaknya sarjana yang belum mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.

"Jumlah penduduk sarjana di masyarakat Sunda masih kalah dari provinsi lainnya. Kemudian yang sudah sarjana, ternyata banyak yang menganggur karena tidak mampu berdikari dan menciptakan lapangan kerja," kata Burhanudin.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius karena kualitas SDM menjadi salah satu faktor utama dalam meningkatkan indeks pembangunan Jawa Barat.

1. Pendidikan dinilai menjadi kunci peningkatan daya saing Jawa Barat

Tokoh Sunda Soroti SDM Jabar: Sarjana Masih Sedikit, Banyak Menganggur. (Dok.Istimewa)

Burhanudin menilai peningkatan pendidikan harus menjadi agenda bersama berbagai pihak. Jawa Barat yang saat ini menjadi rumah bagi hampir 50 juta penduduk membutuhkan lebih banyak lulusan berkualitas yang mampu bersaing di dunia kerja maupun menciptakan peluang usaha baru.

Ia menegaskan konsolidasi berbagai elemen masyarakat Sunda perlu terus dilakukan untuk mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur fisik. Investasi pada pendidikan dan kualitas manusia menjadi faktor yang menentukan masa depan Jawa Barat dalam menghadapi persaingan ekonomi nasional maupun global.

"Maka itu kita perlu terus konsolidasi untuk meningkatkan indeks pembangunan Jawa Barat," ujarnya.

2. Jakarta, Banten, dan Jabar diminta berhenti berjalan sendiri

Tokoh Sunda Soroti SDM Jabar: Sarjana Masih Sedikit, Banyak Menganggur. (Dok.Istimewa)

Selain persoalan pendidikan, forum tersebut juga menyoroti pentingnya kerja sama lintas wilayah antara Jawa Barat, Jakarta, dan Banten.

Direktur Eksekutif Badan Pekerja MMS, Andri Perkasa Kantaprawira, mengatakan ketiga provinsi tersebut sesungguhnya berada dalam satu kawasan ekologis yang saling bergantung.

Ia mencontohkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung yang hulunya berada di kawasan pegunungan Jawa Barat, tetapi dampaknya dirasakan hingga Jakarta. Karena itu, pembangunan wilayah dinilai tidak bisa lagi terjebak pada batas administrasi pemerintahan.

"Secara eko-region, tiga provinsi ini harus saling ketergantungan. Kita harus bisa menata ruang tiga provinsi ini dengan sebaik-baiknya dan jangan terhambat oleh batas-batas administrasi politik," katanya.

Menurut Andri, kerja sama antardaerah menjadi penting untuk menyelesaikan berbagai persoalan lingkungan, tata ruang, transportasi, hingga kesejahteraan masyarakat yang selama ini saling berkaitan.

3. Pembangunan diminta tetap berpijak pada kearifan lokal

Jumhur Hidayat tiba di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (27/4/2026). (IDN Times/Ilman Nafi'an)

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh melepaskan diri dari akar budaya masyarakat.

Menurutnya, setiap daerah memiliki kearifan lokal yang dapat menjadi modal penting dalam pembangunan berkelanjutan. Karena itu, pembangunan yang mengabaikan nilai budaya dan identitas masyarakat berpotensi kehilangan arah.

"Pembangunan tanpa memanfaatkan local wisdom atau kearifan lokal akan hampa, akan tertinggal dan tercerabut dari akar-akarnya," ujar Jumhur.

Ia juga menegaskan bahwa upaya memperjuangkan identitas budaya dan komunitas merupakan hal yang positif selama tidak digunakan untuk menindas kelompok lain.

Bagi Jumhur, organisasi seperti MMS memiliki peran penting dalam mendorong pemerataan pembangunan sekaligus menjaga nilai-nilai budaya Sunda agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.

Forum Milangkala ke-2 MMS sendiri dihadiri sejumlah tokoh nasional asal Sunda, mulai dari Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, Sekda Jawa Barat Herman Suryatman, hingga sejumlah mantan menteri, akademisi, dan tokoh masyarakat dari Jawa Barat, Jakarta, serta Banten. Kehadiran mereka menjadi sinyal bahwa isu kualitas SDM dan kolaborasi pembangunan kawasan kini menjadi perhatian serius lintas generasi tokoh Sunda.

Editorial Team

Related Article