Bandung, IDN Times - Bagi Vica Azizah, pemahaman tentang kemampuan seseorang tidak selalu berangkat dari apa yang terlihat. Pengalaman bersama sang kakak mengajarkannya bahwa keterbatasan tidak semestinya menjadi ukuran untuk menentukan sejauh mana seseorang bisa berkembang.
Kakak Vica merupakan penyandang disabilitas intelektual atau tunagrahita. Namun, kondisi tersebut tidak menghalanginya menekuni olahraga bulu tangkis hingga menjadi seorang atlet. Dari perjalanan sang kakak, Vica melihat bahwa setiap orang memiliki potensi yang dapat berkembang ketika memperoleh kesempatan, pelatihan, dan dukungan yang tepat.
Pengalaman personal itu kemudian memengaruhi cara Vica membangun bisnis. Melalui Spektrum Production, agensi event kreatif di Bandung, ia berupaya membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas di industri yang selama ini identik dengan mobilitas tinggi, kecepatan, dan tekanan pekerjaan.
Bagi Vica, melibatkan penyandang disabilitas bukan sekadar bentuk kepedulian sosial ataupun strategi membangun citra perusahaan. Gagasan tersebut berangkat dari keyakinan yang tumbuh sejak ia mengenal kehidupan sang kakak.
"Kakak saya adalah seorang penyandang disabilitas intelektual atau tunagrahita, dan beliau juga seorang atlet bulu tangkis. Dari beliau saya belajar bahwa setiap manusia punya potensi luar biasa, selama diberikan kesempatan, pelatihan, dan ruang untuk berkembang," ujar Vica.
Pandangan itu semakin menguat setelah Vica mengenal Handy Santika, seorang pengusaha yang memiliki kepedulian dan pengalaman panjang dalam memberdayakan penyandang disabilitas. Pertemuan dengan sosok tersebut memperluas pemahamannya bahwa dunia usaha dapat mengambil peran dalam membuka akses kerja yang lebih inklusif.
Dari pengalaman keluarga hingga perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki visi serupa, Vica mulai menerjemahkan keyakinannya ke dalam praktik bisnis. Namun, membawa gagasan inklusivitas ke industri event bukan pekerjaan sederhana.
