Ilustrasi pekerja migran Indonesia (Foto: IDN Times)
Duka keluarga Gopar semakin panjang. Keberangkatannya empat tahun lalu melalui skema calling visa diketahui melibatkan sponsor berinisial Pak Heri di Kampung Cibolang, yang kini dinilai lepas tangan dari masalah ini. Dua tahun setelah Gopar bekerja, istrinya menyusul untuk bekerja merawat lansia pada majikan yang sama.
Saat ini sang istri juga mengalami kesulitan untuk mendampingi Gopar secara penuh. Karena harus menjaga lansia yang juga sedang dirawat di rumah sakit, ia hanya bisa menjenguk suaminya satu kali dalam dua bulan terakhir.
Yusup yang berniat membantu pendampingan secara penuh juga terkendala oleh jarak dan aturan tempatnya bekerja. Jarak antara Kota Taif tempat Yusup tinggal dengan Kota Riyadh sangatlah jauh.
"Antara Taif dengan Riyadh itu jauh, perjalanan hampir 15 jam. Kalau naik pesawat ongkosnya 400 Riyal, pulang pergi 800. Terbenturnya saya dengan mekanisme pekerjaan di sini, peraturannya kan di sini ketat. Tidak bisa semena-mena untuk meminta izin," jelas Yusup.
Melihat kondisi yang semakin kritis dan terbatasnya ruang gerak di Arab Saudi, Yusup mengetuk pintu hati pemerintah Indonesia beserta instansi terkait untuk segera mengambil langkah nyata membebaskan Gopar dari kebuntuan administrasi.
"Mohon untuk bisa memfasilitasi dari Indonesia untuk bisa membantu," tutup Yusup.