Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Setahun Sakit di Riyadh, PMI Asal Sukabumi Terganjal Biaya Rp110 Juta
Ilustrasi Sakit (unsplash.com/Alexander Grey)
  • Gopar, PMI asal Sukabumi yang bekerja sebagai sopir rumahan di Arab Saudi, telah dirawat hampir setahun di rumah sakit Riyadh setelah sakit dan menjalani operasi.
  • Pemulangannya terhambat biaya administrasi 27.000 Riyal atau sekitar Rp110 juta. Majikan menolak menanggung biaya itu, termasuk setelah mediasi KBRI Riyadh menawarkan skema 50-50.
  • Gopar diberangkatkan melalui calling visa oleh sponsor yang kini dinilai lepas tangan. Istrinya terbatas mendampingi karena merawat lansia, sementara relawan meminta bantuan pemerintah Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Gopar dari Sukabumi sakit dan dirawat di rumah sakit di Riyadh hampir setahun. Ia bekerja sebagai sopir di Arab Saudi. Gopar sudah dioperasi, tapi belum sehat. Ia belum bisa pulang karena butuh biaya Rp110 juta. Majikannya tidak mau membayar. Istrinya juga bekerja di sana dan susah menemani Gopar. Sekarang orang-orang minta pemerintah Indonesia membantu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah situasi sulit yang dihadapi Gopar, masih terlihat adanya jaringan kepedulian yang bekerja: biaya perawatan medisnya ditanggung asuransi, Yusup berupaya menggalang bantuan dari Arab Saudi, dan KBRI Riyadh telah mencoba memediasi penyelesaian dengan majikan. Perhatian istrinya, meski terbatas oleh pekerjaan, juga menunjukkan pendampingan keluarga tetap hadir.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sukabumi, IDN Times - Nasib pilu menimpa Gopar, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kampung Cibolang, Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pria yang mengadu nasib sebagai sopir rumahan di Arab Saudi ini kini terbaring lemah di rumah sakit di Kota Riyadh dan tak bisa pulang ke Tanah Air.

Upaya memulangkan Gopar tertahan akibat biaya pemulangan sebesar 27.000 Riyal atau setara Rp110 juta yang enggan ditanggung oleh pihak majikan.

1. Berawal dari sakit hingga harus menjalani operasi

Ilustrasi operasi bariatrik (123rf.com/saskekun)

Kisah kelam ini diungkapkan oleh Yusup Saepulloh, seorang relawan kemanusiaan mandiri yang bekerja di perusahaan transportasi Saptco Bus di Kota Taif, Arab Saudi. Yusup menceritakan bahwa kondisi fisik Gopar ambruk akibat beban kerja dan perlakuan yang kurang layak.

"Awalnya ceritanya dia itu sering keterlambatan makan atau intinya dalam upah kinerjanya mungkin tidak lancar. Dan adapun punya riwayat darah tinggi juga, dan akhirnya dioperasi di sini," kata Yusup saat dihubungi IDN Times, Minggu (23/8/2026).

Meski biaya medis ditanggung asuransi (Tamim) melalui kartu identitas resmi (Iqomah), kondisi Gopar yang sudah dirawat hampir satu tahun tak kunjung membaik. Sang istri yang bekerja di majikan yang sama akhirnya berpasrah dan meminta bantuan agar suaminya bisa dipulangkan.

2. Majikan menolak bayar pemulangan, mediasi KBRI menemui jalan buntu

Ilustrasi KBRI Riyadh di Arab Saudi (Dokumentasi KBRI Riyadh Arab Saudi)

Langkah untuk memulangkan Gopar terbentur tembok tebal. Pihak majikan beralasan tidak sanggup membayar biaya denda atau administrasi pemulangan sebesar 27.000 Riyal. Bahkan, skema kompromi yang ditawarkan KBRI Riyadh pun ditolak mentah-mentah.

"Dari majikan tidak mampu untuk mengeluarkan biaya dengan jumlah 27.000 Riyal dengan alasan tidak sanggup. Walaupun pernah dinegosiasi sama pihak KBRI pun, waktu itu antara kedua belah pihak ada istilah negosiasi 50%-50%, tapi dari pihak majikan sendiri tidak sanggup untuk megeluarkannya sama sekali," tutur Yusup.

3. Diberangkatkan oleh sponsor tidak bertanggung jawab

Ilustrasi pekerja migran Indonesia (Foto: IDN Times)

Duka keluarga Gopar semakin panjang. Keberangkatannya empat tahun lalu melalui skema calling visa diketahui melibatkan sponsor berinisial Pak Heri di Kampung Cibolang, yang kini dinilai lepas tangan dari masalah ini. Dua tahun setelah Gopar bekerja, istrinya menyusul untuk bekerja merawat lansia pada majikan yang sama.

Saat ini sang istri juga mengalami kesulitan untuk mendampingi Gopar secara penuh. Karena harus menjaga lansia yang juga sedang dirawat di rumah sakit, ia hanya bisa menjenguk suaminya satu kali dalam dua bulan terakhir.

Yusup yang berniat membantu pendampingan secara penuh juga terkendala oleh jarak dan aturan tempatnya bekerja. Jarak antara Kota Taif tempat Yusup tinggal dengan Kota Riyadh sangatlah jauh.

"Antara Taif dengan Riyadh itu jauh, perjalanan hampir 15 jam. Kalau naik pesawat ongkosnya 400 Riyal, pulang pergi 800. Terbenturnya saya dengan mekanisme pekerjaan di sini, peraturannya kan di sini ketat. Tidak bisa semena-mena untuk meminta izin," jelas Yusup.

Melihat kondisi yang semakin kritis dan terbatasnya ruang gerak di Arab Saudi, Yusup mengetuk pintu hati pemerintah Indonesia beserta instansi terkait untuk segera mengambil langkah nyata membebaskan Gopar dari kebuntuan administrasi.

"Mohon untuk bisa memfasilitasi dari Indonesia untuk bisa membantu," tutup Yusup.

Editorial Team

Related Article