Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sering Banjir di Kota Bandung, DPU: Banyak Ruang Terbuka Tanpa Pohon

Sering Banjir di Kota Bandung, DPU: Banyak Ruang Terbuka Tanpa Pohon
(Ilustrasi) ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Share Article

Bandung, IDN Times - Banjir yang melanda Kota Bandung akhir-akhir ini tidak hanya disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi. Banjir juga disebabkan oleh banyaknya ruang terbuka tanpa pohon di hulu Kota Bandung.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Bandung Didi Riswandi saat dihubungi IDN Times, Senin (17/2).

1. Penggarap lahan banyak di wilayah hulu Kota Bandung

xxx
xxx

Didi mengatakan, selain akibat ruang terbuka tanpa pohon yang masih ditemukan di wilayah hulu. Banyak juga lahan di bagian hulu yang dijadikan penggarap untuk menanam tanaman holtikultura. Sehingga, wilayah hulu yang sudah penuh dengan bangunan tetapi minim dengan resapan air.

"Selain itu, permasalahan infrastruktur seperti penyempitan sungai dan drainase turut berdampak kepada terjadinya banjir di Bandung," ungkapnya.

2. Kolam retensi ada untuk meminimalisir banjir

Ilustrasi retensi (IDN Times/ Muchammad Haikal)
Ilustrasi retensi (IDN Times/ Muchammad Haikal)

Sebagai solusi saat ini, Didi menyebut, ruang terbuka tanpa pohon tersebut sudah seharusnya ditanami jenis tanaman-tanaman keras dan tumpang sari. Selain itu, meminimalisir masalah banjir, Pemkot Bandung menciptakan kolam-kolam retensi di daerah aliran sungai.

"Beberapa kolam retensi sudah di buat, hal tersebut guna memperkecil masalah banjir di Kota Bandung, khususnya wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS)," katanya.

3. Masalah banjir harus tuntas dari hulu ke hilir

Ilustrasi Banjir (IDN Times/Lia Hutasoit)
Ilustrasi Banjir (IDN Times/Lia Hutasoit)

Didi menambahkan, penyelesaian masalah banjir tidak hanya dengan menggunakan pendekatan infrastruktur penanganan air. Penyelesaian masalah banjir, harus tuntas dari hulu ke hilir. Kedepan Pemkot Bandung juga akan mendorong konservasi air.

"Dalam program yang akan dijalankan PU ke depan lebih mendorong ke arah konservasi air. Masalah banjir harus tuntas dari hulu ke hilir," jelasnya.

4. Krisis air bersih bisa saja terjadi

Ilustrasi banjir (IDN Times/Rochmanudin)
Ilustrasi banjir (IDN Times/Rochmanudin)

Ia menyebut, krisis air pada 2024 bisa saja terjadi. Hal tersebut disebabkan karena banyaknya air yang harusnya meresap ke tanah, saat ini justru langsung mengalir sungai. Kesadaran masyarakat soal peresapan air belum terbangun.

"Air hujan seharusnya meresap ke dalam tanah, disatu sisi kesadaran masyarakat terhadap resapan air belum terbangun, kedepan harus bisa di antisipasi," kata dia.

Baca artikel menarik lainnya di IDN Times App, unduh di sini http://onelink.to/s2mwkb

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Azzis Zulkhairil
EditorAzzis Zulkhairil

Latest News Jawa Barat

See More

AP2SI Jabar Desak Revisi UU Kehutanan, Minta Hak Kelola Hutan

01 Jul 2026, 11:43 WIBNews