Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Psikosomatis Gali Potensi Diri untuk Menjaga Kesehatan Mental
IDN Times/Istimewa

Bandung, IDN Times - Tekanan hidup di era sekarang ini sudah menjadi santapan sehari-hari bagi masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan. Gejolak tersebut datang dari berbagai aspek seperti lingkungan pekerjaan, sosial, keluarga maupun percintaan.

Sayangnya, banyak di antara mereka yang merasa tertekan namun tidak mau bercerita sehingga harus menelan sendiri cobaan hidupnya itu. Bahkan, bukan tidak mungkin semua yang merasa tertekan itu tidak tahu cara menyelesaikan persoalannya tersebut.

Persoalan inilah yang ingin diangkat Ratu Agi, penulis buku "Psikosomatis. Catatan Belajar Merangkul Diri menjadi Sadar dan Berpendar". Dalam buku pertamanya ini, ibu yang juga aktif di perbankan ini menceritakan tentang pentingnya menjaga kesehatan mental terutama yang berasal dari diri sendiri.

Dalam buku novel nonfiksi ini, Agi menceritakan sejumlah gangguan mental dalam hidupnya baik yang diterimanya dari lingkungan keluarga hingga percintaannya. "Buku ini menceritakan tentang pentingnya menjaga kesehatan mental yang bisa dilakukan oleh diri sendiri," ucap Agi saat merilis buku pertamanya tersebut, di kawasan Jalan Bungur, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (18/11/2023).

1. Kesehatan mental akan berdampak terhadap kesehatan fisik

IDN Times/Istimewa

Terlebih, dia menilai persoalan kesehatan mental akan berdampak terhadap kesehatan fisik jika tidak ditangani dengan baik. Dalam buku yang diterbitkan oleh Cantrik Pustaka tersebut, Agi menuliskan pengalaman dirinya ketika menghadapi berbagai persoalan mental.

"Saat kecil, aku merindukan sosok ayah. Secara fisik, ayahku ada. Tapi ketika di rumah, enggak ngobrol, enggak ngajak main," kenang Agi.

Hal inilah, lanjutnya, menjadi salah satu penyebab dirinya memiliki ketergantungan yang kuat terhadap orang lain. Salah satunya terhadap kekasihnya dulu yang kini telah menjadi suaminya.

"Dulu saat putus dengan mantan, yang sekarang menjadi suami, aku tuh merasa depresi banget, sampai-sampai sakit dan harus dirawat. Orang lain kok kayaknya putus cinta tuh biasa saja," ujarnya.

Tak hanya itu, berbagai gangguan mental pun terus dirasakan Agi sehingga dirinya memutuskan untuk menemui berbagai pakar kesehatan mental serta mengikuti sejumlah pelatihan dari para profesional. "Saat itu aku menemui sejumlah pakar holistik. Akhirnya tahu bahwa untuk menyelesaikan persoalan itu enggak perlu menemui orangnya. Cukup dari diri kita sendiri," jelasnya.

 

2. Kalau mau nangis, nangislah. Kalau mau marah, marahlah

IDN Times/Istimewa

Buku yang ditulisnya inipun merupakan rangkuman dari perjalanannya setelah menemui lebih dari 10 pakar kesehatan mental. "Aku jadi lebih mengetahui tentang kesehatan mental setelah menemui lebih dari 10 pakar self healing. Selama empat tahun, dengan cara yang berbeda-beda," bebernya.

Sebagai contoh, Agi mengungkapkan pentingnya mengekspresikan diri ketika berhadapan dengan persoalan mental. Bahkan, hal ini sangat penting untuk kembali menetralkan diri agar mampu lepas dari gangguan mental tersebut.

"Pentingnya menyelamatkan diri sendiri. Kalau mau nangis, nangislah. Kalau mau marah, marahlah. Tapi harus diungkapkan secara konstruktif," katanya secara menilai pentingnya mengekspresikan diri tersebut ke dalam media yang tepat.

"Kalau mau marah, marahlah, ucapkan kata-kata kotor, tapi lewat tulisan di kertas. Setelah itu akan netral. Memang akan tetap ingat, tapi perasaan aku jadi lebih baik," terangnya.

 

3. Keinginan sempat terkubur selama 20 tahun

IDN Times/Istimewa

Melalui 'self healing' ini pun Agi berhasil mengeluarkan berbagai trauma yang pernah dialaminya. Caranya justru dengan mengingat-ingat kembali persoalan hidup yang dirasakannya itu.

"Lewat self healing ini aku mengeluarkan trauma yang ada, supaya lebih hidup dan banyak cinta. Enggak banyak dendam, enggak marah-marah," katanya seraya menyebut bukunya ini ingin mengajak pembaca agar menjadikan lingkungan yang ada sebagai sistem yang baik untuk menjaga kesehatan mental.

"Jadi semua itu kembali pada diri sendiri, bukan menyalahkan ke lingkungan kita.
Lingkungan kita enggak buruk. Bahkan orangtua yang galak pun enggak punya niat buruk. Semua punya kebutuhan diri sendiri. Jadi kita yang baper akan kebutuhan orang lain. Padahal yang tahu kebutuhan kita ya diri kita sendiri," katanya seraya menyebut obat yang paling ampuh adalah harus bisa menerima keadaan apapun kondisinya.

Dalam buku ini, Agi pun mengungkapkan renungan yang lebih mendalam tentang keluarga, lingkungan, hingga pasangan. "Di buku ini dituliskan bagaimana hubungan-hubungan itu membentuk pribadi aku hari ini. Semuanya itu merupakan hal yang positif jika kita berhasil berdamai dengan diri sendiri," katanya.

Peluncuran buku ini dilabeli pertemuan intim sehingga hanya dibatasi untuk tiga puluh peserta. Bersama Syarif Maulana (editor buku) dan Yesaya Awuy (moderator diskusi), Ratu Agi pun memaparkan alasannya menulis buku tersebut meski di tengah-tengah kesibukannya di dunia perbankan.

"Sejak 20 tahun lalu memang saya sudah senang menulis, tetapi cita-cita tersebut terkubur sampai akhirnya saya mengikuti pelatihan menulis buku dan semangat tersebut timbul lagi," ujar Ratu Agi.

Editorial Team

Related Article