Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Produksi Mangga Anjlok, Petani Cirebon Kena Tekanan

Produksi Mangga Anjlok, Petani Cirebon Kena Tekanan
ilustrasi mangga (freepik.com/freepik)
Intinya Sih
  • Produksi mangga di Cirebon turun tajam pada 2025 hingga sekitar 15 persen, menandakan sektor hortikultura daerah menghadapi tekanan serius dari cuaca, hama, dan kendala teknis petani.
  • Ketidakstabilan produksi dipicu penerapan budidaya yang belum seragam serta dampak perubahan iklim, sementara minimnya fasilitas penyimpanan membuat petani terpaksa menjual cepat dengan harga rendah.
  • Pemerintah daerah dorong pembenahan menyeluruh lewat penguatan standar budidaya, hilirisasi produk olahan mangga, dan pembangunan cold storage untuk meningkatkan efisiensi serta pendapatan petani.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cirebon, IDN Times - Produksi mangga di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menunjukkan tren menurun dalam beberapa tahun terakhir, dengan penurunan paling tajam terjadi pada 2025.

Kondisi ini menjadi alarm bagi sektor hortikultura daerah, mengingat mangga merupakan salah satu komoditas unggulan yang menopang ekonomi petani lokal.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, produksi mangga pada 2022 tercatat sebesar 43.351,50 ton dan sedikit turun menjadi 43.099,74 ton pada 2023.

Produksi sempat pulih pada 2024 menjadi 44.776,96 ton, namun anjlok pada 2025 menjadi 37.922,01 ton atau turun sekitar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Deni Nurcahya, menegaskan penurunan tersebut tidak bisa dianggap sebagai fluktuasi biasa.

"Ini bukan sekadar siklus. Ada tekanan serius, mulai dari faktor cuaca, serangan hama penyakit, hingga persoalan teknis di tingkat petani,” ujarnya, Senin (27/4/2026).

1. Tren produksi tidak stabil

ilustrasi mangga puree (freepik.com/valeria_aksakova)
ilustrasi mangga puree (freepik.com/valeria_aksakova)

Dalam empat tahun terakhir, kata Deni, pola produksi mangga di Cirebon cenderung tidak stabil. Setelah stagnan pada periode 2022–2023, produksi sempat mengalami rebound pada 2024 sebelum kembali merosot tajam pada 2025.

Kondisi ini menunjukkan sektor mangga masih sangat rentan terhadap berbagai faktor eksternal. Ketergantungan pada kondisi cuaca dan minimnya mitigasi risiko membuat produktivitas kebun sulit dipertahankan secara konsisten.

Deni menjelaskan, ketidakstabilan ini juga mencerminkan belum kuatnya sistem produksi berbasis standar yang mampu menjaga output tetap optimal di berbagai kondisi.

2. Budidaya dan iklim jadi faktor utama

ilustrasi mangga muda (vecteezy.com/bamner)
ilustrasi mangga muda (vecteezy.com/bamner)

Penurunan produksi tidak lepas dari belum meratanya penerapan teknik budidaya di tingkat petani. Praktik dasar seperti pemangkasan, pemupukan, hingga sanitasi kebun masih dilakukan secara tidak konsisten.

“Standar budidaya belum seragam, sehingga produktivitas antar kebun sangat bervariasi,” kata Deni.

Selain itu, lanjut Deni, perubahan iklim turut memperburuk situasi. Curah hujan yang tidak menentu dan periode kemarau ekstrem dinilai mengganggu fase pembungaan dan pembuahan mangga. Dampaknya, hasil panen tidak hanya menurun dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas.

Di luar produksi, persoalan pascapanen menjadi tantangan serius. Kerusakan buah saat panen, penggunaan kemasan sederhana, serta minimnya fasilitas penyimpanan dingin menyebabkan umur simpan mangga relatif pendek.

Kondisi ini memaksa petani menjual hasil panen secara cepat, terutama saat panen raya. Akibatnya, harga di tingkat petani mudah jatuh karena pasokan melimpah dalam waktu singkat.

“Tanpa fasilitas penyimpanan, petani tidak punya pilihan selain menjual segera. Ini melemahkan posisi tawar mereka,” ujar Deni.

3. Hilirisasi dan pembenahan sistem

ilustrasi mangga untuk bolu gulung (pexels.com/Riki Risnandar)
ilustrasi mangga untuk bolu gulung (pexels.com/Riki Risnandar)

Deni menilai, perbaikan sektor mangga tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi harus mencakup seluruh rantai nilai. Mulai dari budidaya, penanganan pascapanen, hingga pemasaran perlu diperkuat secara terintegrasi.

Salah satu tantangan utama adalah terbatasnya hilirisasi. Buah dengan kualitas di luar kelas premium belum terserap optimal oleh industri pengolahan, sehingga nilai tambah komoditas belum maksimal.

Padahal, peluang pengembangan produk turunan seperti jus, puree, hingga mangga kering dinilai masih terbuka lebar.

Pemerintah daerah mendorong sejumlah langkah strategis, antara lain penguatan standar budidaya, pengembangan fasilitas cold storage, serta pembentukan kelembagaan ekonomi petani.

“Masalah utama bukan hanya produksi, tetapi efisiensi sistem secara keseluruhan. Jika ini dibenahi, produksi bisa meningkat dan pendapatan petani ikut terdongkrak,” kata Deni.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More