Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

BMKG Peringatkan Kekeringan Parah di Cirebon 2026

BMKG Peringatkan Kekeringan Parah di Cirebon 2026
Embung Wanayasa di Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengalami penyusutan air signifikan akibat kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut. (IDN Times/Hakim Baihaqi)
Intinya Sih
  • BMKG memperingatkan musim kemarau 2026 di Cirebon akan datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan berpotensi menimbulkan kekeringan parah pada Agustus hingga September.
  • Fenomena el nino menjadi penyebab utama penurunan curah hujan, membuat wilayah Cirebon dan sekitarnya rentan terhadap kekurangan air serta gangguan sektor pertanian.
  • Saat ini Cirebon masih dalam masa pancaroba dengan cuaca tidak stabil, potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir tetap perlu diwaspadai masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Cirebon, IDN Times - Masyarakat di wilayah Cirebon, Jawa Barat diminta mulai bersiap menghadapi musim kemarau 2026 yang diprakirakan datang lebih awal, berlangsung lebih lama, dan memiliki tingkat kekeringan di atas normal.

Peringatan ini disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kertajati di Majalengka.

Kepala Stasiun Meteorologi Kertajati, Muhammad Syifaul Fuad, menyebutkan puncak musim kemarau di kawasan Cirebon diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September 2026. Ia menegaskan kondisi tahun ini berpotensi lebih ekstrem dibanding pola normal.

“Puncak musim kemarau diprediksi berlangsung pada Agustus hingga September. Tahun ini indikasinya lebih kering dan durasinya lebih panjang,” ujar Fuad, Senin (27/4/2026).

1. Kemarau lebih awal dan panjang

Setu Patok di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (IDN Times/Hakim Baihaqi)
Setu Patok di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (IDN Times/Hakim Baihaqi)

BMKG memperkirakan awal musim kemarau di wilayah Cirebon dan sekitarnya terjadi mulai dasarian ketiga April hingga dasarian kedua Mei 2026. Periode tersebut menandai peralihan dari musim hujan menuju kemarau secara bertahap.

Menurut Fuad, pergeseran waktu ini menjadi sinyal penting bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk segera melakukan langkah antisipasi, terutama dalam pengelolaan air dan sektor pertanian.

“Musim kemarau tidak hanya datang lebih cepat, tetapi juga berpotensi berlangsung lebih lama dari biasanya,” katanya.

Wilayah yang masuk dalam cakupan peringatan ini meliputi Kota dan Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, serta Kuningan. Daerah-daerah tersebut dinilai memiliki kerentanan tinggi terhadap dampak kekeringan, terutama pada sektor pertanian dan ketersediaan air bersih.

2. Pengaruh el nino tekan curah hujan

Sawah di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat mulai alami kekeringan (IDN Times/Hakim Baihaqi)
Sawah di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat mulai alami kekeringan (IDN Times/Hakim Baihaqi)

Fuad menyebutkan, fenomena iklim global el nino menjadi faktor utama yang memengaruhi kondisi kemarau tahun ini. BMKG mencatat intensitas el nino berada pada level lemah hingga sedang, namun tetap berdampak signifikan terhadap penurunan curah hujan di Indonesia.

Ia pun menjelaskan, fenomenan itu identik dengan berkurangnya suplai hujan, yang pada akhirnya memperpanjang periode kering di berbagai wilayah, termasuk Cirebon.

“El nino menyebabkan curah hujan berkurang, sehingga musim kemarau cenderung lebih kering. Dampaknya bisa dirasakan pada ketersediaan air dan sektor pertanian,” jelasnya.

Kondisi ini berpotensi memperparah risiko kekeringan, terutama jika tidak diimbangi dengan langkah mitigasi sejak dini.

Menghadapi potensi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air sejak sekarang. Air hujan yang masih turun selama masa peralihan juga disarankan untuk ditampung sebagai cadangan.

Selain itu, perbaikan instalasi air di rumah tangga dinilai penting untuk mencegah kebocoran dan pemborosan. Langkah sederhana ini dinilai dapat membantu menjaga ketersediaan air selama musim kemarau berlangsung.

“Masyarakat sebaiknya mulai menampung air hujan dan memperbaiki saluran air yang bocor. Ini penting untuk mengantisipasi kekurangan air saat kemarau,” ujar Fuad.

3. Pancaroba masih berlangsung, cuaca ekstrem mengintai

Petani garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (IDN Times/Hakim Baihaqi)
Petani garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat (IDN Times/Hakim Baihaqi)

Sementara itu, saat ini wilayah Cirebon masih berada dalam fase pancaroba atau peralihan musim. Pada periode ini, kondisi cuaca cenderung berubah cepat dan sulit diprediksi.

Cuaca umumnya terasa panas pada pagi hingga siang hari, namun hujan masih berpotensi terjadi pada sore atau malam dengan durasi singkat dan intensitas sedang hingga lebat. Dalam beberapa kasus, hujan juga dapat disertai angin kencang, petir, bahkan hujan es.

“Masa pancaroba ditandai dengan perubahan cuaca yang dinamis. Potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir masih perlu diwaspadai,” kata Fuad.

Selain kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem, masyarakat juga diminta menjaga kesehatan dengan meningkatkan konsumsi air minum serta menyiapkan masker guna mengantisipasi polusi udara akibat kebakaran lahan.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More