Inin Nastain IDN Times/ Ketua MPP PAN Majalengka
Tete mengaku, keputusannya untuk berada di barisan Paslon lawan partainya, bukan dilakukan tanpa alasan. Mantan ketua DPD PAN Majalengka itu menegaskan, ada alasan kuat, hingga akhirnya memutuskan memilih calon lain.
"Pertama, saya ingin menjaga Marwah partai politik. Khususnya Partai Amanat Nasional. Pilkada itu, hajatannya para aktivis partai politik. Karena jabatan yang akan dibidik nya pun adalah jabatan politis," kata Tete.
"Karena jabatan bupati wakil bupati itu jabatan politis, seyogianya diisi oleh orang-orang yang berkiprah di partai politik," lanjut dia.
Tete menilai, pada Pilkada Majalengka ini, kriteria tersebut tidak ada di paslon yang diusung PAN. Atas dasar itu, dirinya memutuskan untuk bergabung dengan paslon yang diusung PDIP dan PKS.
"Nah saya melihat di Majalengka, pasangan nomor 2 ini lah yang memiliki background dari partai politik. Pak Karna adalah ketua parpol, PDI Perjuangan. Pak Koko adalah calon DPRD yang kalah dari PKS. Meskipun kalah, dia pernah merasakan seperti apa suasana di partai," jelas dia.
"Di partai itu capek. Di sisi (calon) lain, bukan latar belakang dari partai politik. Tidak pernah aktif di partai politik," lanjut dia menegaskan.
Tete kembali menegaskan, PAN sejatinya sudah memiliki calon yang akan diusung pada Pilkada nanti. Bahkan, sudah ada rekomendasi dari DPP langsung.
"Di PAN, bukan berati tidak ada yang berminat, kader. Istrinya ketua DPD sudah menyampaikan minatnya untuk berlayar sebagai bupati dan atau wakil bupati. Direspons oleh DPP, keluar surat tugas," kata dia.
"Di ujungnya, aneh bin ajaib DPP PAN memberikan dukungan kepada orang lain. Perolehan suara PAN itu 7,14. Hanya butuh (tambahan) 0,5 persen. Jadi sebenarnya PAN bisa mengusung Pak Eman sama Sherly, kalau diperlukan. Tapi kenapa ke situ (Paslon Eman-Dena). Ini bagi saya aneh," lanjut dia.