Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
LPT Panghegar Siapkan Pelatihan Keamanan Pangan Bersertifikat BNSP
IDN Times/LPT Panghegar
  • LPT Panghegar akan menggelar pelatihan keamanan pangan bersertifikat BNSP pada April 2026 di Bandung, menghadirkan Chef Lucky Permana sebagai pembicara utama.
  • Chef Lucky menekankan pentingnya penerapan standar HACCP untuk mencegah kontaminasi makanan dan menjaga kepercayaan konsumen di industri kuliner.
  • Ia juga menyoroti bahwa budaya kerja dapur yang disiplin lebih menentukan keberhasilan penerapan keamanan pangan dibanding sekadar mengikuti SOP tertulis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times – Lembaga Pelatihan Terapan (LPT) Panghegar menghadirkan praktisi kuliner Chef Lucky Permana untuk membahas pentingnya keamanan pangan di industri kuliner. Topik ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya kasus penyakit akibat makanan atau foodborne disease.

Dalam kegiatan pelatihan yang akan digelar pada April 2026 di LPT Panghegar, Jalan Ibrahim Adjie No. 11 Bandung, Chef Lucky menekankan bahwa keamanan pangan kini menjadi fondasi utama dalam bisnis kuliner, bukan sekadar pelengkap.

Menurutnya, penerapan standar Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) menjadi kunci untuk menjaga kualitas makanan sekaligus melindungi konsumen dari risiko kontaminasi.

“Dalam konteks meningkatnya kasus foodborne disease, penerapan HACCP menjadi sangat penting. Dapur profesional harus memprioritaskan ini untuk menjaga kepercayaan konsumen,” ujar Chef Lucky, Selasa (3/3/2026).

1. HACCP jadi standar penting di industri kuliner

IDN Times/LPT Panghegar

Chef Lucky menjelaskan, HACCP merupakan sistem yang dirancang untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, serta mengendalikan potensi bahaya dalam proses produksi makanan.

Pendekatan ini membantu pelaku usaha memastikan makanan yang diproduksi aman dikonsumsi, sekaligus menjaga reputasi bisnis di tengah persaingan industri kuliner yang semakin ketat.

Ia menilai, penerapan standar keamanan pangan menjadi semakin penting, terutama bagi industri yang berkaitan dengan penyediaan gizi bagi pelajar melalui program layanan makanan.

2. Banyak pelaku usaha belum memahami titik kritis keamanan pangan

IDN Times/LPT Panghegar

Di lapangan, Chef Lucky menilai masih banyak pelaku industri makanan yang belum memahami penerapan HACCP secara menyeluruh.

Kesalahan sering terjadi sejak tahap awal, seperti tidak melakukan identifikasi bahaya secara tepat, gagal menentukan batas kritis, hingga tidak melakukan pemantauan dan tindakan korektif saat terjadi penyimpangan.

Selain itu, proses verifikasi dan dokumentasi juga kerap diabaikan, padahal kedua hal tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan sistem keamanan pangan berjalan optimal.

“Kesalahan-kesalahan ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar karena bisa meningkatkan risiko kontaminasi makanan,” katanya.

3. Budaya kerja dapur lebih menentukan dibanding SOP

IDN Times/LPT Panghegar

Chef Lucky menekankan bahwa keberhasilan penerapan HACCP tidak hanya bergantung pada prosedur tertulis, tetapi juga budaya kerja di dapur.

Menurutnya, budaya kerja yang baik akan mendorong kepatuhan terhadap prosedur, memperkuat komunikasi tim, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya keamanan pangan.

“SOP itu hanya dokumen. Yang membuatnya hidup adalah budaya kerja tim di dapur,” ujarnya.

Sebagai contoh sederhana, ia menjelaskan penerapan HACCP pada proses memasak nasi. Beras harus dicuci bersih dan dimasak pada suhu minimal 90 derajat Celsius selama sekitar 20 menit untuk memastikan keamanan pangan.

Jika nasi tidak matang sempurna atau terindikasi terkontaminasi, maka tindakan korektif harus segera dilakukan, seperti memasak ulang atau membuang produk.

Melalui pelatihan bersertifikasi BNSP yang digelar LPT Panghegar, Chef Lucky berharap pelaku usaha kuliner, termasuk UMKM, dapat memahami penerapan HACCP secara praktis sehingga mampu menghasilkan makanan yang aman sekaligus berkualitas.

“Rasa yang lezat tidak lengkap tanpa keamanan pangan yang terjamin. Jangan hanya fokus pada rasa, tapi prioritaskan keamanan pangan untuk melindungi konsumen dan reputasi,” ujarnya.

Editorial Team