Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Korban Disekap 3 Tahun dan Memilih Diam, Ini Penjelasan Psikolog
Kamar yang digunakan untuk penculikan dan penganiayaan di Kabupaten Bandung. IDN Times/Debbie Sutrisno
  • Psikolog Pramitha Aulia menegaskan publik harus berhati-hati menilai kasus penyekapan di Bandung, karena respons korban sering disalahpahami tanpa memahami tekanan psikologis yang dialaminya selama bertahun-tahun.
  • Korban diduga sengaja diisolasi oleh pelaku melalui kontrol koersif, seperti pembatasan komunikasi dan perpindahan tempat tinggal, agar tidak terdeteksi oleh keluarga maupun lingkungan sekitar.
  • Trauma mendalam membuat korban sulit melawan atau meminta bantuan, sementara masyarakat diimbau memberi dukungan dan rasa aman alih-alih menyalahkan tindakan diam korban.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times – Kasus penyekapan dan dugaan penyiksaan terhadap seorang perempuan di Kabupaten Bandung selama tiga tahun memunculkan banyak pertanyaan di tengah masyarakat. Salah satunya, bagaimana korban bisa "menghilang" begitu lama tanpa diketahui orang sekitar dan mengapa ia tidak melarikan diri ketika memiliki kesempatan.

Psikolog Pramitha Aulia menegaskan publik perlu berhati-hati dalam menilai kasus tersebut. Menurutnya, banyak respons korban kekerasan yang sering disalahpahami karena masyarakat tidak melihat tekanan psikologis yang dialami korban selama bertahun-tahun.

"Korban yang bertahan, diam, bahkan berbohong melindungi pelaku, bisa jadi merupakan gejala rasa takut, bukan tanda bahwa ia setuju disakiti," kata Pramitha, Rabu (24/6/202).

1. Publik jangan buru-buru memberi label psikopat

Pelaku penganiayaan perempuan Taufik Hidayat Diringkus di Majalaya. IDN Times/Istimewa

Pramitha mengatakan tidak etis bagi psikolog memberikan diagnosis kepada pelaku hanya berdasarkan pemberitaan atau video yang beredar di media sosial.

Meski pola yang muncul dalam kasus ini dapat mengarah pada dugaan perilaku penguasaan ekstrem terhadap korban, diagnosis tetap harus dilakukan melalui pemeriksaan langsung oleh ahli. Menurut dia, tidak semua pelaku kekerasan yang kejam otomatis dapat disebut psikopat. Banyak kasus kekerasan justru didorong keinginan untuk mengendalikan dan menguasai korban.

"Diagnosis tidak bisa dilakukan hanya dari berita atau video saat pelaku ditangkap," ujarnya.

2. Korban diduga sengaja dibuat terisolasi dari dunia luar

Pelaku penganiayaan perempuan Taufik Hidayat Diringkus di Majalaya dan dibawa ke Polda Jabar. IDN Times/Istimewa

Pramitha menjelaskan hilangnya korban selama bertahun-tahun bukan terjadi secara kebetulan, melainkan bagian dari pola pengendalian yang dilakukan pelaku.

Berdasarkan informasi yang beredar, korban diduga kerap dipindahkan dari satu tempat kos ke tempat lain dalam periode tertentu. Selain itu, korban juga disebut tidak diperbolehkan memegang telepon seluler dan keluarganya dibuat percaya bahwa ia sedang bekerja di luar kota.

Dalam psikologi, pola tersebut dikenal sebagai coercive control atau kontrol koersif, yakni tindakan menguasai korban melalui isolasi, pembatasan gerak, dan pemutusan komunikasi dengan lingkungan sekitar.

"Korban tidak terlihat bukan karena kebetulan, tetapi memang dibuat tidak terlihat," kata Pramitha.

3. Trauma membuat korban sulit melawan atau meminta pertolongan

Pelaku penganiayaan perempuan Taufik Hidayat Diringkus di Majalaya dan dibawa ke Polda Jabar. IDN Times/Istimewa

Menurut Pramitha, banyak orang bertanya mengapa korban tidak berusaha kabur meski sempat bertemu dengan orang lain. Namun, kondisi tersebut tidak sesederhana yang dibayangkan.

Korban kekerasan berkepanjangan biasanya mengalami ketakutan yang sangat kuat akibat ancaman dan pengalaman penyiksaan yang berulang. Dalam kondisi tertentu, korban bahkan kehilangan keyakinan bahwa dirinya mampu mengubah situasi.

Fenomena ini dikenal sebagai learned helplessness atau kondisi ketika seseorang merasa tidak berdaya setelah berkali-kali gagal keluar dari situasi buruk yang dialaminya. Selain itu, korban juga bisa mengalami trauma bond, yakni ikatan emosional yang terbentuk karena pelaku bergantian melakukan kekerasan dan menunjukkan sikap baik.

4. Korban lebih membutuhkan dukungan daripada penghakiman

Ilustrasi penculikan (Dok. Istimewa)

Pramitha menilai masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap korban kekerasan. Pertanyaan seperti "kenapa tidak melawan" atau "kenapa tidak kabur" justru berpotensi menambah beban psikologis korban.

Dalam banyak kasus, bertahan hidup menjadi satu-satunya pilihan yang dianggap paling aman oleh korban. Apalagi jika korban tidak memiliki akses komunikasi, uang, maupun kondisi fisik yang memadai untuk melarikan diri.

Ia menegaskan korban membutuhkan rasa aman, pendampingan, dan dukungan selama proses pemulihan, bukan penilaian yang menyalahkan dirinya atas kekerasan yang dialami.

"Yang dibutuhkan korban bukan pertanyaan kenapa tidak melawan, melainkan rasa aman dan pertolongan," ujar Pramitha.

Editorial Team

Related Article