Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kopi Specialty Jalan Petani Lokal Naik Kelas Lewat Cup of Excellence
Kopi Specialty Jadi Jalan Petani Lokal Naik Kelas Lewat Cup of Excellence 2026. Dok Istimewa
  • Cup of Excellence Indonesia 2026 menerima 119 lot dari 10 provinsi, menetapkan 10 kopi terbaik dan 11 National Winner; dua kopi meraih skor di atas 90 serta penghargaan Presidential.
  • Program pendaftaran gratis ini memberi produsen kecil peluang setara untuk mendapat eksposur, sementara pengakuan di tahapan kompetisi dapat meningkatkan perhatian pasar dan permintaan kopi.
  • CoE memperkuat ketertelusuran produksi serta peluang pasar internasional; peserta Bali Auman Natural menunjukkan proses panen, sortasi, pengeringan, dan fermentasi berperan dalam peningkatan kualitas kopi specialty.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Lomba Cup of Excellence membantu petani kopi kecil supaya kopi mereka dikenal. Ada 119 kopi dari 10 provinsi. Kopi Edward dari Jawa Barat jadi nomor satu. Kopi Iwannitosa dari Aceh jadi nomor dua. Kopi Bali Auman juga masuk 10 besar. Sekarang kopi Indonesia bisa dilihat juri luar negeri dan mungkin dibeli orang dari negara lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Cup of Excellence memperlihatkan bahwa kualitas dan ketekunan dapat memberi produsen kopi kecil ruang yang lebih setara untuk dikenal. Pendaftaran gratis, penilaian internasional, serta perhatian pasar sejak tahap kompetisi membuka peluang bagi kerja teliti dari kebun hingga pengolahan untuk memperoleh pengakuan dan nilai ekonomi yang lebih baik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Secangkir kopi berkualitas tak hanya berbicara soal rasa. Di baliknya ada perjalanan panjang petani dan pengolah dalam menjaga kualitas biji kopi, mulai dari kebun, proses pascapanen, hingga produk yang akhirnya dinilai oleh pasar.

Hal inilah yang coba dibangun melalui Cup of Excellence (CoE) Indonesia, sebuah program yang memberikan kesempatan kepada produsen kecil untuk bersaing dengan produsen besar melalui kualitas kopi yang mereka hasilkan.

"CoE itu sebetulnya program yang memberdayakan produsen kecil yang belum punya modal. Mereka punya kesempatan yang sama dengan produsen-produsen gede karena untuk daftar kan gratis," ujar Country Coordinator Cup of Excellence Indonesia, Andi Widjadja, Rabu (23/10/2026).

1. Bukan sekadar mencari kopi terbaik

Kopi Specialty Jadi Jalan Petani Lokal Naik Kelas Lewat Cup of Excellence 2026. Dok Istimewa

Cup of Excellence Indonesia 2026 menerima 119 lot kopi dari 10 provinsi. Dari proses penjurian internasional tersebut, sebanyak 10 kopi terbaik dan 11 kopi kategori National Winner ditetapkan.

Dua kopi bahkan memperoleh skor di atas 90 dan penghargaan Presidential. Kopi milik Edward Ken Tirtadarma dari Sindangkerta, Jawa Barat, berada di posisi pertama dengan skor 90,25 melalui proses Experimental-Washed.

Sementara itu, kopi milik Iwannitosa Putra dari Desa Atu Gajah, Bebesen, Aceh Tengah, menempati posisi kedua dengan skor 90,10 melalui proses Washed-Wet-Hulled.

Namun, bagi Andi, CoE tidak semata-mata menjadi kompetisi untuk menentukan kopi terbaik. Program tersebut juga dirancang agar produsen kecil memiliki kesempatan mendapatkan eksposur yang sama.

Pendaftaran pertama bahkan tidak dikenakan biaya. Menurut Andi, mekanisme tersebut membuat produsen kecil dapat memiliki kesempatan yang setara dengan pelaku usaha yang lebih besar.

"Setidaknya level itunya disamain. Kesempatan semua sama," katanya.

2. Kualitas kopi bisa membuka pasar baru

Kopi Specialty Jadi Jalan Petani Lokal Naik Kelas Lewat Cup of Excellence 2026. Dok Istimewa

Dampak dari mengikuti CoE tidak selalu baru dirasakan ketika sebuah kopi menjadi juara. Menurut Andi, sejumlah produsen bahkan mulai merasakan peningkatan perhatian pasar ketika nama kopinya muncul dalam tahapan kompetisi.

Ia mencontohkan kopi Wanoja yang mengikuti CoE pada 2021. Saat pengumuman peserta yang lolos ke tahap berikutnya, nama kopi tersebut mulai mendapat perhatian lebih besar. Andi mengatakan, pihak Wanoja kemudian menyampaikan bahwa penjualan mereka di Tokopedia melonjak drastis setelah pengumuman tersebut.

"Pernah ada salah satu produsen kopi padahal ini belum menjadi juara tapi saat masih kegiatan saja permintaannya naik karena mulai dikenal kan," kata Andi,

Bagi produsen, pengakuan melalui kompetisi menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan produk kepada konsumen yang sebelumnya belum mengenalnya.

Hal serupa juga dirasakan produsen lain yang kopinya digunakan dalam rangkaian kegiatan CoE, meski belum tentu masuk dalam kompetisi utama. Menurut Andi, eksposur tersebut dapat membuat nama produsen dan kopinya mulai dikenal lebih luas.

3. Dari potensi lokal menuju pasar internasional

Kopi Specialty Jadi Jalan Petani Lokal Naik Kelas Lewat Cup of Excellence 2026. Dok Istimewa

Di sisi lain, Andi melihat potensi kopi Indonesia tidak hanya terletak pada produsen yang sudah berhasil masuk kompetisi. CoE juga menjadi sarana untuk membaca lebih jauh rantai produksi kopi di berbagai daerah.

Tahun ini, penyelenggara mulai membedakan antara petani yang melakukan pengolahan dan pihak yang memang berfokus sebagai pengolah. Langkah tersebut dilakukan karena dalam rantai produksi kopi Indonesia, petani tidak selalu menjadi pihak yang memproses hasil panennya.

Dengan semakin jelasnya ketertelusuran dari kebun hingga proses pengolahan, kualitas kopi diharapkan tidak berhenti sebagai angka dalam penilaian juri. Bagi produsen kecil, kualitas tersebut bisa menjadi modal untuk mendapatkan pengakuan, memperluas pasar, dan pada akhirnya meningkatkan nilai ekonomi kopi yang mereka hasilkan.

"Karena kita juga ada juri dari internasional. Dari mereka itu kopi Indonesia bisa semakin dikenal dan nantinya bisa dibeli konsumen luar negeri," paparnya.

4. Jalan panjang menghasilkan kopi specialty

Kopi Specialty Jadi Jalan Petani Lokal Naik Kelas Lewat Cup of Excellence 2026. Dok Istimewa

Cerita mengenai upaya meningkatkan nilai kopi juga terlihat dari salah satu peserta CoE Indonesia 2026, Irfan Rahadian Sudiyana, yang membawa kopi Bali Auman Natural. Kopi tersebut berasal dari Desa Catur, Kintamani. Irfan bekerja sama dengan petani sekaligus memberikan edukasi mengenai pemetikan buah kopi yang matang.

Buah kopi yang datang tidak langsung diproses seluruhnya. Para petani di kawasan ini melakukan sortasi untuk memilih buah merah, kemudian melanjutkan proses pengeringan yang berlangsung bertahap. Pada lima hingga tujuh hari pertama, kopi dikeringkan di greenhouse untuk menghindari jamur.

Setelah itu, proses dilanjutkan di open field. Kopi kemudian menjalani resting selama sekitar 20-30 hari sebelum kembali dikeringkan. Proses panjang tersebut merupakan hasil pengalaman Irfan mengolah kopi sejak 2015.

"Prosesnya memang panjang dan ini refleksi orang perjalanan dari 2015 ngeproses kopi dengan drying-nya harus gini, fermentasi harus gini," kata Irfan.

Kopi Bali Auman Natural yang baru diproduksi pada April 2026 tersebut kemudian berhasil masuk jajaran 10 kopi yang mengikuti tahap akhir penjurian CoE Indonesia 2026. Bagi Irfan, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa kopi dari Bali memiliki peluang untuk bersaing di pasar specialty.

Irfan berharap keikutsertaan kopi Bali dalam CoE dapat memperkenalkan potensi Kintamani kepada pasar yang lebih luas. Selama ini, menurutnya, Bali lebih banyak dikenal sebagai destinasi wisata, padahal wilayah tersebut juga memiliki perkebunan kopi yang cukup besar.

Ia melihat masih ada pekerjaan rumah dalam meningkatkan kualitas kopi dari sisi pemetikan dan pengolahan. Sebagian kopi yang dihasilkan masih masuk ke pasar oleh-oleh Bali, belum banyak yang diarahkan ke segmen specialty coffee.

"Harapannya yang pasti lebih banyak kenal lagi kopi Indonesia, terutama kopi Bali," ujar Irfan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article