Kopi Specialty Jadi Jalan Petani Lokal Naik Kelas Lewat Cup of Excellence 2026. Dok Istimewa
Cerita mengenai upaya meningkatkan nilai kopi juga terlihat dari salah satu peserta CoE Indonesia 2026, Irfan Rahadian Sudiyana, yang membawa kopi Bali Auman Natural. Kopi tersebut berasal dari Desa Catur, Kintamani. Irfan bekerja sama dengan petani sekaligus memberikan edukasi mengenai pemetikan buah kopi yang matang.
Buah kopi yang datang tidak langsung diproses seluruhnya. Para petani di kawasan ini melakukan sortasi untuk memilih buah merah, kemudian melanjutkan proses pengeringan yang berlangsung bertahap. Pada lima hingga tujuh hari pertama, kopi dikeringkan di greenhouse untuk menghindari jamur.
Setelah itu, proses dilanjutkan di open field. Kopi kemudian menjalani resting selama sekitar 20-30 hari sebelum kembali dikeringkan. Proses panjang tersebut merupakan hasil pengalaman Irfan mengolah kopi sejak 2015.
"Prosesnya memang panjang dan ini refleksi orang perjalanan dari 2015 ngeproses kopi dengan drying-nya harus gini, fermentasi harus gini," kata Irfan.
Kopi Bali Auman Natural yang baru diproduksi pada April 2026 tersebut kemudian berhasil masuk jajaran 10 kopi yang mengikuti tahap akhir penjurian CoE Indonesia 2026. Bagi Irfan, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa kopi dari Bali memiliki peluang untuk bersaing di pasar specialty.
Irfan berharap keikutsertaan kopi Bali dalam CoE dapat memperkenalkan potensi Kintamani kepada pasar yang lebih luas. Selama ini, menurutnya, Bali lebih banyak dikenal sebagai destinasi wisata, padahal wilayah tersebut juga memiliki perkebunan kopi yang cukup besar.
Ia melihat masih ada pekerjaan rumah dalam meningkatkan kualitas kopi dari sisi pemetikan dan pengolahan. Sebagian kopi yang dihasilkan masih masuk ke pasar oleh-oleh Bali, belum banyak yang diarahkan ke segmen specialty coffee.
"Harapannya yang pasti lebih banyak kenal lagi kopi Indonesia, terutama kopi Bali," ujar Irfan.