Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kopi Ciremai Naik Level, BI Buka Jalan ke Pasar Ekspor
Bank Indonesia Perwakilan Cirebon mendorong petani kopi di wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka untuk memperluas pasar hingga mancanegara. Pengembangan komoditas itu diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga penguatan mutu, kelembagaan, dan pemasaran. (IDN Times/Hakim Baihaqi)

  • Bank Indonesia Cirebon mendorong kopi Buana Ciremai dari Kuningan dan Majalengka menembus ekspor melalui peningkatan produksi, mutu, kelembagaan, serta pemasaran.
  • Pendampingan mencakup produktivitas petani, penguatan MPIG Buana Ciremai, digitalisasi, dan fasilitas pascapanen agar kualitas kopi konsisten serta daya saingnya meningkat.
  • Promosi nasional-internasional, termasuk partisipasi Merta Coffee di World of Coffee Bangkok 2025, diarahkan membuka pasar luar negeri; potensi wisata kopi disiapkan setelah rantai produksi menguat.
  • Bank Indonesia Cirebon mendorong kopi Buana Ciremai dari Kuningan dan Majalengka menuju pasar ekspor melalui peningkatan produksi, mutu, kelembagaan, dan pemasaran.
  • Pendampingan mencakup produktivitas petani, pembentukan MPIG Buana Ciremai, fasilitas pascapanen, digitalisasi, serta konsistensi kualitas agar daya saing kopi regional menguat.
  • Promosi kopi Ciremai dilakukan hingga level internasional, termasuk melalui World of Coffee Bangkok 2025; pengembangan wisata kopi disiapkan setelah fondasi produksi dan rantai pasok diperkuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bank Indonesia membantu petani kopi di Kuningan dan Majalengka. Mereka ingin kopi Ciremai dijual sampai ke negara lain. Petani diajari membuat kopi lebih banyak dan tetap bagus. Kopi juga dikenalkan di Bangkok. Sekarang, mereka sedang memperbaiki cara menanam, mengolah, dan menjual kopi. Nanti kopi ini juga ingin jadi wisata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pengembangan kopi Buana Ciremai menunjukkan pendekatan yang semakin menyeluruh: petani didampingi untuk menjaga produktivitas dan mutu, kelembagaan regional diperkuat, serta fasilitas pascapanen dan promosi diperluas. Kehadiran di ajang internasional juga memberi ruang pengenalan produk, sementara identitas kopi lokal disiapkan sebagai fondasi akses pasar yang lebih luas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kuningan, IDN Times- Bank Indonesia Perwakilan Cirebon mendorong petani kopi di wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka untuk memperluas pasar hingga mancanegara. Pengembangan komoditas itu diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga penguatan mutu, kelembagaan, dan pemasaran.

Kepala Perwakilan BI Cirebon Wihujeng Ayu Rengganis mengatakan kopi menjadi salah satu komoditas yang dikembangkan karena memiliki peluang pasar ekspor.

Menurut dia, penguatan komoditas tersebut sejalan dengan peran BI dalam menjaga stabilitas rupiah, termasuk melalui pengembangan komoditas yang berpotensi menghasilkan devisa.

“Ketika kita bicara ekspor, komoditas kopi ini adalah komoditas yang potensinya sangat besar untuk diekspor,” kata Rengganis dikutip pada Minggu (13/9/2026).

1. Menata dari hulu

ank Indonesia Perwakilan Cirebon mendorong petani kopi di wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka untuk memperluas pasar hingga mancanegara. Pengembangan komoditas itu diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga penguatan mutu, kelembagaan, dan pemasaran. (IDN Times/Hakim Baihaqi)

Menurut Rengganis, pengembangan kopi Ciremai dilakukan dengan pendekatan dari hulu hingga hilir. Pada tingkat petani, pendampingan diarahkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas biji kopi yang dihasilkan.

Penguatan juga menyentuh aspek kelembagaan. BI mendorong keberadaan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Buana Ciremai yang mencakup sentra kopi di Kuningan dan Majalengka.

Rengganis mengatakan telah terdapat surat keputusan yang ditandatangani oleh Bupati Kuningan dan Bupati Majalengka berkaitan dengan MPIG Buana Ciremai. Menurut dia, kelembagaan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas cakupan pengembangan kopi di kedua daerah.

“Kalau MPIGnya sudah jalan, otomatis komoditas kopi ini cakupannya akan semakin luas,” ujarnya.

Perluasan cakupan tersebut, kata dia, harus dibarengi dengan peningkatan produktivitas. Bertambahnya produksi tanpa kemampuan menjaga mutu dinilai belum cukup untuk memperkuat posisi kopi Buana Ciremai ketika berhadapan dengan produk dari daerah lain.

2. Kualitas pascapanen

Bank Indonesia Perwakilan Cirebon mendorong petani kopi di wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka untuk memperluas pasar hingga mancanegara. Pengembangan komoditas itu diarahkan tidak hanya pada peningkatan produksi, tetapi juga penguatan mutu, kelembagaan, dan pemasaran.

BI juga memberikan pendampingan pada tahap setelah panen. Sarana dan prasarana pascapanen difasilitasi untuk membantu meningkatkan kualitas kopi sebelum dipasarkan.

Pada sisi hulu, pendampingan mencakup penguatan kelembagaan dan digitalisasi. Adapun pada tahap hilir, perhatian diarahkan pada pemasaran dan pengenalan produk kepada konsumen yang lebih luas.

Strategi tersebut membuat pengembangan kopi tidak berhenti pada persoalan budidaya. Produk yang dihasilkan petani juga perlu memiliki kualitas yang konsisten serta akses pasar yang memadai.

Rengganis mengatakan promosi dilakukan melalui kegiatan di tingkat nasional hingga internasional. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengikutsertakan Merta Coffee, salah satu mitra BI, dalam World of Coffee di Bangkok pada 2025.

“Keikutsertaan itu menjadi salah satu cara memperkenalkan kopi Ciremai kepada pelaku pasar di luar negeri. Kami berharap pengenalan tersebut dapat membuka peluang pemasaran ke negara-negara lain,” ujarnya.


3. Pasar hingga wisata

ilustrasi kopi rempah (Freepik.com/KamranAydinov)

Pengembangan kopi Buana Ciremai selanjutnya diarahkan untuk tidak hanya menghasilkan produk perkebunan. BI melihat potensi pengembangan pengalaman wisata yang berkaitan dengan kopi ketika sisi produksi di tingkat hulu telah semakin kuat.

Menurut Rengganis, peningkatan produktivitas dan pembenahan rantai produksi menjadi dasar sebelum potensi tersebut dikembangkan lebih jauh.

“Kami juga berharap setelah komoditas ini dari hulunya beres, produktivitasnya naik, kita bisa angkat juga experience dari sisi wisatanya,” kata dia.

Rengganis menyebutkan, pengembangan kopi dari Ciremai tidak semata diarahkan untuk meningkatkan volume produksi. Penguatan identitas komoditas, mutu pascapanen, kelembagaan petani, serta akses pemasaran menjadi rangkaian yang disiapkan agar kopi dari Kuningan dan Majalengka memiliki posisi lebih kuat di pasar.

“Target kami adalah memperluas ruang pasar kopi Buana Ciremai, termasuk peluang menuju pasar internasional, setelah fondasi produksi dan kualitas di tingkat daerah diperkuat,” tutupnya.

Editorial Team

Related Article