Kesaksian Korban Tertimbun Longosor Cisarua Bandung Barat, Dengar Suara Gemuruh

- Longsor terjadi saat dini hari, menyebabkan 80 warga dan 23 prajurit TNI AL tertimbun material longsor.
- Sebelum longsor, hujan turun dengan intensitas tinggi dan mati listrik, membuat kondisi Desa Pasirlangu semakin sulit.
- Status darurat ditetapkan dengan anggaran Rp7,3 miliar untuk penanganan masa darurat selama dua pekan pencarian korban longsor.
Bandung, IDN Times - Peristiwa bencana longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat menjadi duka yang mendalam bagi warga setempat dan Korps Marinir TNI Angkatan Laut (AL). Peristiwa yang terjadi pada Sabtu (24/1/2026) ini telah mengakibatkan 80 orang sipil dan 23 prajurit TNI AL tertimbun material longsor.
Bencana longosor di Pasirlangu ini terjadi di area Gunung Burangrang yang mana mahkotanya ada di dua titik. Area yang terdampak longsor pun mencapai 26 hektare di Kampung Pasirkuning, RT5/RW11, Kampung Pasirkuda RT1 RW10, Kampung Cibudah RT6 RW7.
Data resmi Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menyatakan, total ada 158 warga Desa Pasirlangu yang terdampak longsor. Sebanyak 78 di antaranya dilaporkan selamat dan 80 lainnya dilaporkan hilang.
IDN Times berkesempatan langsung berbincang dengan beberapa korban selamat dari peristiwa ini dan turut menceritakan langsung bagaimana detik-detik saat peristiwa gempa terjadi. Seperti Tanu (48 tahun) yang selamat karena mendengar suara permintaan tolong dari warga lainnya pada dini hari.
"Saya keluar rumah, dengar ada yang minta tolong dari arah sana (atas). Saya kira siapa, ternyata adik-adik saya 'uwa tolong wa, wa tolong wa!' lalu suaranya menghilang. Kemudian suaranya timbul lagi, kedengaran, lalu hilang lagi," ujar Tanu kepada IDN Times.
1. Longsor terjadi saat dini hari

Tanu sangat jelas mendengar adik-adiknya meminta tolong untuk diselamatkan. Hal itu seketika membuatnya bingung, sebab ia pun tidak tahu di mana istri dan dua orang anaknya yang masing-masing berusia tujuh tahun dan 17 tahun. Pada pagi itu teriakan warga meminta tolong menggema.
"Lalu di titik lainnya, ada sekeluarga empat orang saya lihat lari ke arah sana, sembari berteriak minta tolong, saya ngeuh kalau itu suara adik saya. Tahu-tahu adik saya itu sudah sembunyi di sekitar kandang sapi. Tapi sampai tadi pagi masih belum diketahui keberadaannya," tuturnya.
Meski begitu, dari sembilan orang keluarganya yang hilang, ada beberapa yang dipastikan dalam kondisi selamat.
"Nah kemudian ada yang tahu dan mengabari saya dan saya langsung mengecek ke arah gurah. Singkatnya sudah ketemu alhamdulillah. Adik saya yang di awal tertimbun sama bangunan itu selamat. Lalu anak satu tahun setengah dibawa lompat dari genteng kemudian ditangkap oleh kakaknya, dibawa lari," tuturnya.
"Semuanya adik saya ada sembilan, tinggal enam orang lagi sama mertua saya satu (jadi tujuh orang) belum ketemu."
Peristiwa longsor ini sendiri diawali dengan suara seperti gemuruh yang besar dan terus mendekat ke telinga. Tanu membenarkan dan merasakan langsung kondisi itu, yang ia ingat seperti suara mesin buldozer.
"Iya dengar suara gemuruh, langsung keluar karena panik juga. Pas saya lihat suaranya gedebuk-gedebuk tanah mendekat terus. Saya langsung bawa anak gitu, sampai ke sini (posko pengungsian)," kata dia.
2. Sebelum longsor hujan turun dengan intensitas tinggi dan dibarengi mati listrik

Sementara, korban selamat lainnya Nur (42 tahun) menyampaikan, sebelum longsor terjadi memang kondisi Desa Pasirlangu diguyur hujan deras dengan waktu yang lama.
"Sebelum longsor, hujan gak berhenti-berhenti dari hari Rabu sore. Pagi sore hujan angin deras tak berhenti. Semalaman gak tidur, karena listriknya padam dari jam empat sore," katanya.
Sekitar pukul 01.30 WIB dini hari, Nur merasa ada getaran seperti gempa bumi diikuti suara gemuruh mirip angin kencang. Dia pun kehilangan anggota keluarganya dan sudah mengikhlaskan peristiwa ini.
"Ternyata tanah sudah longsor, sekitar jam 02.00 dini hari, saya langsung keluar karena ada suara teriak minta tolong. Saya mah sudah ikhlas, mudah-mudahan ketemu," katanya.
3. Status darurat ditetapkan dengan anggaran Rp7,3 miliar

Setelah kejadian, Pemkab Bandung Barat pun langsung menetapkan status darurat bencana dan tim SAR mulai melakukan pencarian korban longsor, sementara pemerintah daerah menyiapkan posko pengungsian untuk para korban terdampak.
"Kami tetapkan ini darurat bencana karena korban sudah luar biasa banyak. Nanti juga kami akan menurunkan petugas karena akses ke sini sulit. Jadi ada petugas supaya menjaga alurnya supaya bisa bantuan cepat masuk. Karena tadi pun saya ke sini sulit sekali penuh sekali orang," kata Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, Sabtu (24/1/2026).
Selama masa darurat Pemkab Bandung Barat menyiapkan anggaran Rp7,3 miliar yang bersumber dari belanja tak terduga (BTT) APBD Tahun 2026. Dana ini digunakan untuk penanganan masa darurat yang ditetapkan selama dua pekan pencarian.
Anggaran difokuskan terhadap tiga klaster penanganan bencana yakni bidang kesehatan melalui Dinas Kesehatan yang mengakomodir masalah kesehatan pengungsi dan relawan, obat-obatan, peralatan medis dan sebagainya.
Selanjutnya, Dinas Sosial yang mengakomodir seputar pengelolaan logistik bantuan, penanganan pengungsi, pemulihan psikososial dan sebagainya, dan terakhir Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang bertugas mengakomodir logistik kebencanaan dan lainnya.
4. Tim SAR temukan 83 kantong jenazah melebihi data korban hilang

Pencarian para korban pun dilakukan oleh tim SAR gabungan hingga hari kesebelas. Hanya saja, pada hari ke sepuluh tim sudah menemukan total 83 kantong jenazah dan sudah diserahkan sepenuhnya kepada tim DVI Polri.
Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian Permana mengatakan hingga Senin (2/2/2026), Tim SAR gabungan sudah mengevakuasi 83 bodypack. Namun dari total itu, ada dua bodypack yang memiliki identitas tunggal atau sama. Kemudian jumlah yang sudah teridentifikasi sebanyak 61 jiwa.
"Dengan rincian sebanyak 45 jiwa merupakan korban yang masuk 80 nama atau penduduk setempat yang dilaporkan hilang sejak awal, 14 nama masih misterius dan dua merupakan tamu," katanya.
"Dengan demikian masih ada 35 korban (penduduk yang dilaporkan hilang) yang belum dapat dipastikan identitasnya dengan kategori 20 korban dalam bentuk bodypack," ujar Ade.















