Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jelang Akhir Tahun, Okupansi Hotel di Kota Cirebon Naik
Keraton Kasepuhan (instagram.com/sintiaastarina)

Cirebon, IDN Times - Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang di Kota Cirebon, Jawa Barat, pada bulan September 2024 mengalami kenaikan hingga mencapai 58,32 persen.

Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 1,67 poin dibandingkan dengan bulan Agustus 2024.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon Aris Budiyanto mengatakan, kenaikan tersebut terjadi karena adanya lonjakan kunjungan wisatawan ke Kota Cirebon pada September 2024 yang berpengaruh terhadap tingkat hunian hotel di bulan itu dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Aris menyampaikan, tingkat hunian pada bulan Juni 2024 menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini. "Meski ada sedikit penurunan di bulan Agustus, TPK kembali menunjukkan tren positif pada bulan September," kata Agus, Selasa (5/11/2024).

1. Rata-rata menginap hanya 1,41 hari

ilustrasi menginap di hotel (freepik.com/lifeforstock)

BPS juga mencatat adanya peningkatan pada rata-rata lama menginap tamu (RLMT) di Kota Cirebon pada bulan yang sama, yang kini mencapai rata-rata 1,41 hari.  Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan RLMT bulan sebelumnya yang berada di angka 1,39 hari.

Walaupun peningkatan tersebut tampak kecil, Aris menekankan pentingnya memperbaiki TPK secara berkelanjutan, karena hal ini berkaitan langsung dengan upaya memajukan perekonomian daerah, terutama melalui sektor pariwisata.

Untuk mendukung peningkatan sektor pariwisata, Pemerintah Kota Cirebon saat ini telah menyiapkan lima destinasi wisata utama.

Destinasi tersebut adalah Museum Topeng Wong yang terletak di Balai Kota Cirebon, Kampung Wisata Kacirebonan, kawasan Gedung Bundar yang berada di Taman Kebumen, Kampung Arab Panjunan, serta Wisata Heritage Gedung BAT.

Dengan adanya destinasi-destinasi ini, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Cirebon, Agus Sukmanjaya, berharap Kota Cirebon dapat menjadi magnet bagi para wisatawan, baik dari dalam negeri maupun mancanegara.

Agus optimistis, destinasi wisata baru di Cirebon akan memberikan warna tersendiri dan meningkatkan daya tarik kota ini. Diharapkan pula, kunjungan wisatawan akan terus mengalami peningkatan, sehingga Cirebon dapat menjadi destinasi wisata pilihan utama di Jawa Barat.

"Harapan kami, Kota Cirebon dapat menjadi rujukan wisata utama bagi para wisatawan yang tengah berkunjung ke Jawa Barat,” ujar Agus.

Ia juga menambahkan, program-program tersebut dirancang untuk membawa manfaat langsung bagi perekonomian masyarakat setempat serta menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi kota.

2. Menerapkan work from destination

ilustrasi laki-laki wfh dengan lingkungan yang nyaman (pexels.com/@tony-schnagl)

Dalam rangka mendukung peningkatan kualitas pelayanan di sektor wisata, Disparbud Kota Cirebon juga telah meluncurkan kebijakan “work from destination” atau bekerja dari lokasi wisata.

Program ini memungkinkan para pegawai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cirebon untuk berkantor di destinasi wisata tertentu, seperti di Keraton Kacirebonan dan Kampung Arab Panjunan.

Menurut Agus, program ini bertujuan untuk mempermudah jajarannya dalam menyerap aspirasi langsung dari para wisatawan, pengelola wisata, serta masyarakat setempat.

“Ketika berkantor di Keraton Kacirebonan, para pegawai kami juga akan berkeliling di sekitar lokasi untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat serta para wisatawan,” jelas Agus.

“Masukan dari mereka sangatlah penting untuk mengembangkan sektor pariwisata di Kota Cirebon agar semakin menarik dan memenuhi ekspektasi wisatawan," sambungnya.

Dalam kebijakan ini, para pegawai akan mendapatkan wawasan langsung terkait kebutuhan dan harapan wisatawan, sehingga pengembangan pariwisata dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.

Rencananya, kebijakan work from destination ini juga akan diperluas ke destinasi wisata lainnya, seperti Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kaprabonan.

Agus menilai, interaksi langsung dengan wisatawan di lapangan bisa membantu para pegawai memahami dan merancang program pengembangan wisata yang lebih sesuai dengan realitas dan kebutuhan para pengunjung.

“Tujuan kami adalah menghadirkan pengalaman wisata yang benar-benar dinikmati para wisatawan, dan yang terpenting, menjadikan destinasi wisata di Kota Cirebon mampu dikenal secara luas hingga mancanegara,” tambah Agus.

3. Kota Cirebon harus berdaya saing

ilustrasi ruangan bercat cokelat muda (asianpaints.co.id/balsam brown)

Seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, diharapkan TPK di Kota Cirebon juga akan terus membaik.

Aris Budiyanto menyatakan,  peningkatan TPK tak hanya bermanfaat bagi sektor perhotelan, tetapi juga dapat mendukung ekonomi kreatif dan usaha kecil di Kota Cirebon.

Misalnya, peningkatan jumlah wisatawan dapat memberikan efek positif bagi sektor kuliner, kerajinan, dan produk-produk lokal lainnya yang merupakan bagian dari daya tarik Cirebon.

"Kota Cirebon harus bertekad untuk meningkatkan daya saing destinasi wisata di Kota Cirebon, sehingga nantinya kota ini mampu menjadi salah satu pilihan utama bagi wisatawan yang datang ke Indonesia,” ungkap Aris.

Dengan adanya peningkatan TPK, kebijakan inovatif, serta destinasi wisata yang terus dikembangkan, Kota Cirebon memiliki peluang besar untuk terus maju di sektor pariwisata.

Pemerintah Kota Cirebon berharap agar wisatawan, baik lokal maupun internasional, merasa puas dan terkesan setelah berkunjung. Semua upaya ini bertujuan agar Cirebon bukan hanya dikenal sebagai destinasi wisata yang menarik, tetapi juga sebagai kota tak terlupakan bagi setiap pengunjungnya.

Editorial Team

Related Article