Bandung, IDN Times - Jawa Barat mencatat 79 kejadian kebakaran hutan dan lahan sepanjang 1 Januari hingga 9 Agustus 2026. Peristiwa tersebut tersebar di 86 titik pada sejumlah kecamatan dengan total luas lahan terdampak mencapai 87 hektare.
Kabupaten Sumedang menjadi daerah dengan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan terbanyak. Di sisi lain, tidak ada korban jiwa, warga mengungsi, maupun orang hilang yang dilaporkan akibat rangkaian kebakaran tersebut.
"Total kejadian 79 dengan jumlah titik sebaran terdampak per-kecamatan sebanyak 86," demikian data dalam Infografis Kejadian Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Jawa Barat periode Januari-Agustus 2026, " kata Humas BPBD Jabar Hadi Rahmat dari data yang dihimpun, Senin (10/8/2026).
Kabupaten Sumedang mencatat jumlah kejadian tertinggi dengan 14 kebakaran. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Majalengka yang mengalami 10 kejadian, disusul Kabupaten Bandung dengan tujuh kejadian.
Kemudian, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cirebon masing-masing mencatat enam kejadian. Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Cianjur sama-sama mengalami lima kejadian, sedangkan Kabupaten Subang mencatat empat kejadian.
Untuk daerah dengan jumlah kebakaran terbanyak berikutnya, Kota Bandung dan Kabupaten Kuningan masing-masing mengalami tiga kejadian. Meski demikian, angka tiga kejadian juga tercatat di Kabupaten Karawang, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Ciamis.
Jika mengacu pada urutan 10 daerah teratas dalam infografis, berikut jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan di masing-masing wilayah:
Kabupaten Sumedang: 14 kejadian
Kabupaten Majalengka: 10 kejadian
Kabupaten Bandung: 7 kejadian
Kabupaten Sukabumi: 6 kejadian
Kabupaten Cirebon: 6 kejadian
Kabupaten Purwakarta: 5 kejadian
Kabupaten Cianjur: 5 kejadian
Kabupaten Subang: 4 kejadian
Kota Bandung: 3 kejadian
Kabupaten Kuningan: 3 kejadian
Secara keseluruhan, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama periode tersebut berdampak pada sekitar 87 hektare lahan. Dari sisi dampak terhadap masyarakat, seluruh indikator korban tercatat nihil. Tidak ada warga yang meninggal dunia, jiwa terdampak, mengungsi, maupun orang hilang dalam pencarian akibat kejadian kebakaran hutan dan lahan tersebut.
Sebelumnya, kebakaran lahan yang melanda kawasan Alun-Alun Barat Suryakencana di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) pada Kamis (6/8/2026) masih diselidiki. Berdasarkan hasil pemantauan resmi petugas di lapangan, total area yang terdampak kobaran api diperkirakan seluas 1 hektare.
Laporan mengenai peristiwa ini pertama kali diterima oleh petugas Resor PTN Wilayah Gunung Putri sekitar pukul 15.15 WIB dari pengelola basecamp setempat. Berdasarkan data resmi dari Balai Besar TNGGP, vegetasi yang hangus terbakar didominasi hamparan rumput kering serta sebagian kecil tanaman berkayu.
Balai Besar TNGGP menegaskan posisi titik api yang sangat dekat dengan vegetasi langka. "Titik kebakaran berada pada radius sekitar 5 meter dari kawasan Sabana Edelweiss menuju ke arah hutan," kata Kepala Balai Besar Sadtata Noor Adirahmanta, Sabtu (8/8/2026).
Setelah menerima informasi awal, tim gabungan yang terdiri dari petugas Resor PTN Gunung Putri, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), serta para relawan langsung bergegas menuju titik lokasi untuk melakukan pemadaman.
Balai Besar TNGGP menyampaikan aksi cepat menjadi kunci utama penanganan api. "Berkat respons cepat dan kerja sama seluruh pihak, api berhasil dipadamkan sehingga tidak meluas ke area lain di sekitarnya," katanya.
