ITB Bangun Satu Rumah Contoh untuk Korban Longsor di Pasirlangu

- ITB membangun satu rumah contoh bagi korban longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, sebagai bagian dari Program Desa Bangkit Cisarua yang melibatkan berbagai lembaga dan alumni ITB.
- Hunian sementara berukuran 6x6 meter ini dirancang cepat dibangun, fleksibel diperluas dengan sistem modul rangka, serta memanfaatkan material lokal untuk mendukung ekonomi sekitar.
- Program ini membantu lebih dari 250 warga terdampak melalui bantuan sembako, layanan kesehatan, dan dukungan psikososial, menjadi wujud nyata pengabdian ITB bagi masyarakat pascabencana.
Bandung, IDN Times - Kampus ITB membangun satu rumah contoh untuk korban longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat. Hunian sementara ini bisa digunakan warga yang rumahnya hancur akibat terdampak longsor.
Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Prof Zulfiadi Zulhan mengatakan, sejak hari kedua bencana di Cisarua, ITB hadir dan membentuk empat tim yaitu manajemen risiko kebencanaan, kesehatan, permukiman, serta air dan sanitasi. Rumah sementara ini pun menjadi langkah ITB dalam rangkaian Program Desa Bangkit Cisarua kolaborasi antara DPMK ITB, Rumah Amal Salman, Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, dan Ikatan Alumni ITB.
Zulfiadi berharap hunian sementara yang diserahkan dapat menjadi awal pemulihan bagi warga terdampak. “Mudah-mudahan pada hari ini, hari pertama bulan Ramadan, hunian sementara ini bisa bermanfaat bagi ibu dan bapak yang terkena dampak dari bencana longsor ini. Mudah-mudahan ke depan kehidupannya membaik,” katanya melalui keterangan resmi, Jumat (20/2/2026).
Ia juga mengatakan, sejumlah huntara akan dibangun lagi di beberapa titik di Pasir Kuning.
1. Luasnya 6x6 meter

Ketua Tim Arsitek, Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko menjelaskan bahwa desain huntara mengutamakan kecepatan pembangunan serta pemanfaatan material yang mudah diperoleh saat bencana. Huntara seluas 6 x 6 meter yang diserahkan tersebut dirancang untuk menampung dua keluarga dengan total penghuni tujuh orang.
“Pada prinsipnya, saya mendesain bangunan ini dengan tujuan agar memanfaatkan kayu, karena ini juga ditujukan untuk program pasca bencana di Sumatra dan Aceh,” ujarnya.
Menurutnya, kecepatan pembangunan dalam kondisi bencana sangat penting. Sebab, hal ini menyangkut hajat utama manusia, yaitu tempat untuk berlindung dan bernaung dari cuaca yang panas maupun dingin seperti yang ada di Desa Parislangu.
2. Bangunan bisa mudah diperluas

Ia mengatakan, struktur bangunan dikembangkan dari sistem reciprocal frame yang disederhanakan menjadi modul-modul rangka sehingga dapat dirakit dengan cepat. Bangunan ini juga dirancang fleksibel. Panjangnya dapat diperluas dengan menambah modul rangka sesuai kebutuhan sehingga dapat menambah jumlah penghuni.
“Sistem struktur huntara ini bisa dibuat dalam modul-modul, kemudian disusun dan dibangun sehingga cepat sekali pengerjaannya. Huntara ini didirikan dalam dua hari,” katanya.
Selain itu, material lainnya dapat menggunakan produk lokal atau daerah sekitar. “Jadi idenya adalah mendirikan rumah seperti ini juga harus menggerakkan ekonomi lokal,” ujarnya.
3. Fasilitas ini sangat membantu warga

Sementara itu, bagi Ayi Kurniawan (43), warga yang rumahnya hanyut terbawa longsor, huntara tersebut menjadi secercah harapan baru.
“Dengan adanya fasilitas ini sangat membantu saya yang terkena musibah, yang rumahnya sudah tidak ada. Bagus sekali dukungannya dan senang ada dari ITB yang datang ke Kampung Pasir Kuning untuk membantu,” ungkapnya.
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menyampaikan bahwa kehadiran ITB di Cisarua merupakan bagian dari misi perguruan tinggi untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Alhamdulillah pada hari pertama Ramadan, menyaksikan bagaimana ITB hadir pada kondisi-kondisi bencana. Sejak November lalu di Sumatra pada hari kedua bencana ITB mengirimkan tim dan sampai hari ini masih terus di tiga provinsi menjalankan misinya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pola kerja kolaboratif antara dosen, mahasiswa, alumni, dan masyarakat menjadi model pengabdian yang harus terus dijaga.
“Mudah-mudahan model-model kerja seperti ini dapat menjadi contoh yang baik bagi kita semua untuk selanjutnya tetap bisa berdampak dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Melalui program ini, lebih dari 250 warga menerima manfaat, termasuk penyaluran 110 paket sembako, 35 paket obat-obatan, serta 40 bantuan kesehatan. Selain itu, tersedia layanan ambulans, layanan kesehatan, layanan psikososial, dan asesmen pascabencana untuk mendukung pemulihan secara menyeluruh.


















