ilustrasi investor (freepik.com/jannoon028)
Meski menawarkan akses yang lebih mudah ke pasar global, tokenized ETF tetap memiliki sejumlah risiko yang perlu dipahami investor.
Sebagian besar tokenized ETF saat ini tidak memberikan kepemilikan langsung atas saham atau ETF yang menjadi aset dasar. Investor pada umumnya hanya memiliki klaim kontraktual terhadap kustodian atau entitas yang menyimpan aset tersebut.
Selain itu, likuiditas dapat tersebar di berbagai blockchain dan platform sehingga harga aset yang sama bisa berbeda ketika volume perdagangan rendah.
Risiko lain berasal dari penggunaan smart contract. Jika terjadi bug atau celah keamanan pada sistem, potensi kerugian bisa muncul tanpa mekanisme perlindungan seperti yang tersedia dalam sistem keuangan tradisional.
Meski demikian, tren tokenisasi aset terus berkembang. Beberapa pemain besar seperti Ondo Finance, xStocks, hingga BlackRock melalui produk BUIDL telah masuk ke pasar ini dengan nilai aset dan volume transaksi yang mencapai miliaran dolar AS.
Bagi investor ritel Indonesia, perkembangan tersebut membuka alternatif baru untuk melakukan diversifikasi portofolio ke pasar global dengan modal yang jauh lebih terjangkau dibanding sebelumnya.