Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Investor RI Kini Bisa Beli S&P 500 dan Nasdaq Mulai Rp11 Ribu
Dok.Istimewa
  • Investor ritel Indonesia kini bisa membeli indeks S&P 500 dan Nasdaq mulai Rp11 ribu lewat tokenized ETF tanpa perlu membuka akun broker luar negeri.
  • Tokenized ETF memanfaatkan blockchain untuk mempercepat settlement transaksi secara instan dan memungkinkan kepemilikan fraksional sesuai kemampuan modal investor.
  • Meskipun akses makin mudah, tokenized ETF tetap memiliki risiko seperti kepemilikan tidak langsung, perbedaan harga antarplatform, serta potensi bug pada smart contract.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bandung, IDN Times – Akses investasi ke pasar saham Amerika Serikat (AS) semakin terbuka bagi investor ritel Indonesia. Jika sebelumnya investasi pada indeks besar seperti S&P 500 atau Nasdaq identik dengan proses pembukaan broker luar negeri dan modal yang relatif besar, kini aset tersebut dapat diakses melalui teknologi tokenisasi dengan nominal mulai Rp11 ribu.

Tren yang dikenal sebagai tokenized ETF ini tengah berkembang pesat secara global. Data per Juni 2026 menunjukkan kapitalisasi pasar sektor tersebut telah mencapai sekitar US$150 juta atau tumbuh hampir 400 persen dibanding September 2025.

1. Investor bisa mengakses ETF global tanpa broker asing

ilustrasi blockchain developer (pexels.com/Lukas)

Berdasarkan penjelasan Pintu Academy, tokenized ETF merupakan representasi digital dari ETF yang dicatat di blockchain seperti Ethereum atau Solana.

Aset dasarnya tetap ETF yang sama, misalnya SPY yang melacak indeks S&P 500 atau QQQ yang mengikuti Nasdaq-100. Namun, kepemilikannya direpresentasikan dalam bentuk token yang dapat diperdagangkan melalui ekosistem aset digital.

Skema ini memungkinkan investor membeli sebagian kecil aset tanpa harus membuka rekening broker di Amerika Serikat maupun menyediakan dana besar di awal.

Selain itu, transaksi dapat dilakukan kapan saja karena tokenized ETF umumnya tersedia selama 24 jam sehari dan tujuh hari dalam sepekan.

2. Teknologi blockchain memangkas hambatan investasi

Ilustrasi Blockchain (google/universitasnegerisurabaya)

Dalam mekanisme tokenisasi, manajer aset membeli ETF asli di pasar konvensional dan menyimpannya melalui kustodian. Setelah itu diterbitkan token di blockchain yang mewakili nilai aset tersebut.

Keunggulan utama model ini terletak pada proses settlement atau penyelesaian transaksi. Jika transaksi ETF konvensional membutuhkan waktu hingga dua hari kerja (T+2), tokenized ETF menggunakan settlement atomik yang memungkinkan perpindahan aset dan pembayaran terjadi secara instan dalam satu transaksi.

Teknologi ini juga mendukung kepemilikan fraksional secara langsung sehingga investor dapat membeli sebagian kecil aset sesuai kemampuan modal yang dimiliki.

3. Menawarkan peluang baru, tetapi tetap memiliki risiko

ilustrasi investor (freepik.com/jannoon028)

Meski menawarkan akses yang lebih mudah ke pasar global, tokenized ETF tetap memiliki sejumlah risiko yang perlu dipahami investor.

Sebagian besar tokenized ETF saat ini tidak memberikan kepemilikan langsung atas saham atau ETF yang menjadi aset dasar. Investor pada umumnya hanya memiliki klaim kontraktual terhadap kustodian atau entitas yang menyimpan aset tersebut.

Selain itu, likuiditas dapat tersebar di berbagai blockchain dan platform sehingga harga aset yang sama bisa berbeda ketika volume perdagangan rendah.

Risiko lain berasal dari penggunaan smart contract. Jika terjadi bug atau celah keamanan pada sistem, potensi kerugian bisa muncul tanpa mekanisme perlindungan seperti yang tersedia dalam sistem keuangan tradisional.

Meski demikian, tren tokenisasi aset terus berkembang. Beberapa pemain besar seperti Ondo Finance, xStocks, hingga BlackRock melalui produk BUIDL telah masuk ke pasar ini dengan nilai aset dan volume transaksi yang mencapai miliaran dolar AS.

Bagi investor ritel Indonesia, perkembangan tersebut membuka alternatif baru untuk melakukan diversifikasi portofolio ke pasar global dengan modal yang jauh lebih terjangkau dibanding sebelumnya.

Editorial Team

Related Article