Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

IKA UPI Kritik Rencana KBM Online: Bisa Terjadi Lagi Learning Loss

IKA UPI Kritik Rencana KBM Online: Bisa Terjadi Lagi Learning Loss
Sejumlah siswa di Sidemen, Karangasem, Bali, sedang belajar bersama menggunakan sistem belajar online, Kamis (19/3). (IDN Times/Wayan Antara)
Intinya Sih
  • IKA UPI menilai rencana pengalihan pembelajaran tatap muka ke daring demi efisiensi energi berisiko menurunkan kualitas pendidikan dan mengulang dampak learning loss seperti masa pandemi.
  • Tiga dampak utama yang disoroti adalah ancaman kesehatan mental akibat adiksi digital, ketimpangan akses teknologi antarwilayah, serta logika efisiensi yang justru bisa merugikan produktivitas nasional.
  • IKA UPI mendesak pemerintah tidak mengorbankan sektor pendidikan saat krisis energi dan mengusulkan gerakan sekolah mandiri energi sebagai solusi hemat BBM tanpa meniadakan interaksi belajar di sekolah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bandung, IDN Times - Ikatan Alumi Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI) menilai pengalihan pembelajaran tatap muka (PTM) menjadi pembelajaran daring (online) dengan alasan penghematan energi dapat berakibat pada penurunan kualitas hasil belajar siswa. Alasannya, metode ini secara faktual tidak sepenuhnya efektif untuk mendorong siswa-siswa giat belajar dan mencerna materi pelajaran dengan baik.

Kebijakan tersebut dapat mengakibatkan penurunan kualitas pendidikan untuk membangun generasi cemerlang di masa depan. Efisiensi anggaran untuk mengurangi beban fiskal yang berat seyogianya tidak mengorbankan dunia pendidikan.

1. Cara belajar ini tak efektif

ilustrasi belajar online
ilustrasi belajar online (pexels.com/MART PRODUCTION)

Ketua Umum PP IKA UPI Amich Alhumami menegaskan bahwa pengalaman pahit selama pandemik Covid-19 telah memberikan bukti empiris mengenai ketidakefektifan pembelajaran daring, karena tidak dapat menggantikan peran sekolah fisik.

"Terjadi learning loss yang sangat signifikan. Sekolah bukan sekadar tempat belajar dan medium transfer materi pelajaran, tetapi ruang interaksi sosial untuk penanaman karakter, disiplin, dan etika yang mustahil dilakukan melalui layar kaca,” ungkap Amich dikutip dari unggahan akun Instagram IKA UPI, Selasa (23/3/2026).

2. Ada tiga dampak krusial

ilustrasi seseorang belajar online (pexels.com/Julia M Cameron)
ilustrasi seseorang belajar online (pexels.com/Julia M Cameron)

IKA UPI menyoroti tiga dampak krusial jika wacana ini direalisasikan. Pertama, ancaman kesehatan mental dan adiksi digital. Kurangnya interaksi sosial memicu peningkatan stres dan kesepian pada anak. Selain itu, memaksa anak terus berada di depan gawai justru menjauhkan mereka dari buku dan kreativitas nyata, di tengah perjuangan global membatasi screen time anak.

“Bagi siswa, pembelajaran online akan menciptakan digital fatigue—situasi psikologis, kelelahan mental dan fisik akut akibat penggunaan perangkat teknologi digital dalam waktu sangat lama. Kondisi ini mengantarkan pada cognitive overload yang kontraproduktif terhadap upaya peningkatan kualitas hasil belajar,” tegas Amich.

Kedua, ketimpangan akses. Indonesia masih menghadapi m 30 kesenjangan teknologi (technology divide) dan ketimpangan digital (digital gap) yang nyata di banyak wilayah. Bila kebijakan ini diterapkan, maka akan semakin memperlebar disparitas layanan pendidikan antara_ wilayah perkotaan, perdesaan, pelosok, dan daerah 3T, yang belum tersedia infrastruktur teknologi digital yang memadai. Selain itu, pengalaman pembelajaran daring di masa pandemi Covid-19 menunjukkan beban biaya juga tergolong mahal, yang tidak terjangkau oleh siswa-siswa dari keluarga tidak mampu.

Ketiga, meluruskan logika efisiensi. Logika penghematan subsidi energi (BBM) tidak tepat bila harus juga menimpa dunia pendidikan. Penutupan sekolah yang kemudian digantikan dengan pembelajaran daring pada masa pandemi Covid-19, berkontribusi langsung pada learning toss yang sangat signifikan (hasil PISA 2022 menurun tajam).

“Berbagai studi seperti Hanushek & Woessmann pada 2020 lalu menunjukkan bahwa setiap bulan terjadi kehilangan pembelajaran, berisiko menurunkan pendapatan individu di masa depan sebesar 3-5 persen. Dalam jangka panjang, learning loss justru membawa dampak_ kerugian produktivitas nasional yang jauh lebih besar daripada nilai subsidi BBM yang dihemat,” ungkap Amich.

3. Jangan korbankan sektor pendidikan saat ada krisis

Sejumlah siswa di Sidemen, Karangasem, Bali, sedang belajar bersama menggunakan sistem belajar online, Kamis (19/3).  (IDN Times/Wayan Antara)
Sejumlah siswa di Sidemen, Karangasem, Bali, sedang belajar bersama menggunakan sistem belajar online, Kamis (19/3). (IDN Times/Wayan Antara)

IKA UPI mendesak pemerintah untuk tetap menjaga "nyawa" pendidikan di sekolah dan tidak mengorbankan sektor pendidikan setiap kali terjadi krisis energi. Sebagai solusi konstruktif, IKA UPI mengusulkan “Gerakan Sekolah Mandiri Energi” atau “Pedagogi Hijau”.

“Jika bertujuan hemat BBM, jangan mengganti sekolah fisik dengan pembelajaran daring. Dorong siswa dan pengajar bersepeda atau berjalan kaki bagi yang jarak rumah-sekolah memungkinkan. Ini solusi paling logis dan rasional seperti hemat energi, menyehatkan fisik, dan membangun karakter mandiri,” kata dia.

Share
Topics
Editorial Team
Yogi Pasha
EditorYogi Pasha
Follow Us

Latest News Jawa Barat

See More