Hawu, Genteng, Warisan: Kisah Perajin Jebor Majalengka di Tengah Industrialisasi

Majalengka, IDN Times- Deru mesin pabrik modern kini menjadi suara yang akrab di Kabupaten Majalengka, terutama wilayah utara. Setiap pagi dan sore, knalpot motor buruh pabrik memecah jalan desa, menandai jam masuk dan pulang kerja. Namun, di Desa Burujul Wetan, Kecamatan Jatiwangi, suara lain masih setia terdengar: dentuman kayu terbakar di hawu, tungku pembakaran genteng tradisional yang menandai hidupnya Jebor.
Di tengah laju industrialisasi, Jebor Srijaya JTW masih bertahan. Bukan karena tak ada pilihan lain, melainkan karena ada warisan, keterampilan, dan harapan yang dijaga lintas generasi.
1. Dari hawu kecil, ayah menempa hidup

Samsul tumbuh bersama Jebor. Ayahnya, Himin, sudah mengenal dunia genteng sejak kecil, berawal sebagai buruh, hingga dipercaya menjadi mandor.
“Almarhum pernah cerita, dia sudah kerja di Jebor sejak kecil. Sampai akhirnya dipercaya jadi mandor,” kenang Samsul.
Pengalaman panjang itu menjadi modal utama ketika pada 2005, Himin mengelola Jebor sendiri. Bagi keluarga ini, Jebor bukan sekadar usaha, melainkan hasil perjalanan hidup yang ditempa panas api dan ketekunan.
2. Wasiat yang menahan langkah untuk pergi

Ketika pabrik-pabrik modern tumbuh dan menjadi magnet bagi anak muda desa, Samsul memilih bertahan. Ia meneruskan Jebor peninggalan ayahnya, meski sadar jalannya tak selalu mudah.
“Saya generasi kedua. Almarhum pernah wasiat, ‘kalau kamu bisa, terusin kerjaan bapak yang belum selesai,’” ucapnya.
Wasiat itu diuji saat ayahnya wafat pada 2018. Tak ada masa vakum. Hawu tetap menyala, genteng terus dicetak. Bagi Samsul, berhenti berarti membiarkan satu warisan hidup ikut padam.
3. Genteng desa menembus pasar antarwilayah

Pilihan bertahan perlahan menunjukkan hasil. Genteng produksi Jebor Srijaya JTW kini tak hanya dipasarkan di Majalengka. Permintaan datang dari Bandung, Garut, hingga sejumlah kota di Jawa Tengah seperti Semarang, Kendal, Tegal, dan Brebes.
“Alhamdulillah ada perkembangan. Banyak pelanggan dari daerah jauh,” ujar Samsul.
Pada 2026, ia menargetkan ekspansi ke Jawa Timur, bahkan membuka peluang pengiriman ke luar Pulau Jawa. Bagi Samsul, memperluas pasar adalah cara menjaga agar Jebor tetap hidup dan relevan.
4. Nafas hidup buruh di balik asap hawu

Di balik asap hawu, ada banyak kehidupan yang bergantung. Soleh, buruh Jebor Srijaya JTW, telah bekerja hampir 20 tahun. Upahnya mungkin tak sebesar buruh pabrik, namun cukup untuk menghidupi keluarganya.
“Cukup untuk kebutuhan rumah. Gajian seminggu sekali,” katanya.
Semangat Soleh kian tumbuh saat mendengar pidato Presiden RI Prabowo Subianto yang menyinggung gentengisasi. Ada harapan bahwa industri genteng rakyat kembali mendapat perhatian.
Di tengah gempuran industrialisasi, Jebor di Burujul Wetan masih berdiri. Hawu terus menyala, genteng terus dicetak, dan warisan terus dijaga—menjadi penanda bahwa di balik modernisasi, masih ada kerja sunyi yang bertahan dengan harapan.
















