Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hasil Autopsi Pemuda Tewas Dikeroyok Usai Dituduh Mencuri
Forensik RSUD Syamsudin (IDN Times/Siti Fatimah)
  • Tim forensik RSUD Syamsudin SH mengungkap Andre Yunas Septian meninggal akibat perdarahan hebat di rongga tengkorak dan jaringan otak setelah menerima kekerasan benda tumpul.
  • Korban sempat dirawat dalam kondisi koma selama sekitar 24 jam dengan alat bantu napas, namun akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu pagi.
  • Hasil autopsi menunjukkan trauma berat di kepala dengan resapan darah luas di kulit kepala bagian dalam, menjadi bukti utama penyebab kematian akibat pengeroyokan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sukabumi, IDN Times - Tim dokter forensik RSUD Syamsudin SH Kota Sukabumi membeberkan hasil autopsi terhadap jenazah Andre Yunas Septian (24), pemuda yang menjadi korban pengeroyokan brutal di Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Korban dinyatakan meninggal dunia akibat mengalami perdarahan hebat di dalam rongga tengkorak dan jaringan otak setelah menerima kekerasan benda tumpul.

Dokter Forensik RSUD Syamsudin SH, dr. Nurul Aida Fathiya, mengungkapkan bahwa korban sempat mendapatkan perawatan medis dalam kondisi koma sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Diketahui, Andre tewas usai menjadi korban aksi main hakim sendiri. Ia dilaporkan atas dugaan pencurian yang sebetulnya tengah ditangani oleh Polsek Sukaraja.

1. Korban tiba di RSUD Syamsudin SH dalam kondisi koma

Ruang jenazah dan forensik RSUD Syamsudin SH, Kota Sukabumi (IDN Times/Siti Fatimah)

Nurul menjelaskan, korban pertama kali diterima di IGD RSUD Syamsudin SH pada Jumat dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Korban merupakan pasien rujukan dari RS Hermina Sukabumi.

"Kami terima di sini dalam kondisi yang koma. Berdasarkan pemeriksaan dan hasil CT scan dari RS Hermina, memang sudah ada perdarahan di dalam rongga tengkoraknya," kata Nurul saat diwawancarai IDN Times, Minggu (12/7/2026).

Selain dalam kondisi tidak sadarkan diri, tim medis juga menemukan sejumlah luka luar berupa memar dan lecet di area wajah korban.

2. Sempat dirawat 24 jam dan dipasang alat bantu napas

Dokter Spesialis Forensik RSUD Syamsudin, dr. Nurul Aida Fathiya (IDN Times/Siti Fatimah)

Pihak rumah sakit sempat melakukan tindakan resusitasi dan memasang alat bantu napas (ventilator) untuk menyelamatkan nyawa korban. Namun, karena kondisi klinis yang sudah buruk sejak awal, nyawa korban tidak tertolong.

"Korban sempat dirawat mungkin sekitar 24 jam. Kemudian pada hari Sabtu sekitar jam 10.00 pagi, korban dinyatakan meninggal dunia," tutur Nurul.

Pihak kepolisian langsung berkoordinasi dengan rumah sakit dan keluarga korban untuk melakukan tindakan autopsi guna kepentingan penyidikan kasus tindak pidana tersebut.

3. Dokter temukan resapan darah di seluruh kulit kepala bagian dalam

Forensik RSUD Syamsudin (IDN Times/Siti Fatimah)

Lebih lanjut, Nurul memaparkan hasil bedah jenazah yang menunjukkan adanya trauma berat di area kepala. Meskipun tulang tengkorak korban utuh dan tidak ada luka robek terbuka, bagian dalam kepala korban mengalami kerusakan parah.

"Lukanya banyak tapi kecil-kecil, terutama di wajah dan kepala. Di lengan juga ada, tapi jelas tidak mematikan," paparnya.

Nurul menambahkan, luka di area kepala sempat tidak terlihat secara kasat mata karena tertutup oleh rambut korban.

"Pas giliran kulit kepalanya dibuka saat autopsi, baru kelihatan hampir di seluruh kulit kepala bagian dalamnya itu semua resapan darah. Jadi kekerasan tumpulnya cukup hebat hingga memicu perdarahan di dalam jaringan otak," jelas Nurul.

4. Kekerasan benda tumpul jadi penyebab utama kematian

Dokter Spesialis Forensik RSUD Syamsudin, dr. Nurul Aida Fathiya (IDN Times/Siti Fatimah)

Tim forensik menyimpulkan bahwa penyebab utama kematian korban adalah akumulasi luka akibat kekerasan benda tumpul di area kepala yang menyebabkan perdarahan luas.

"Iya, karena itu yang paling cukup untuk bisa menimbulkan kematian. Perdarahannya cukup banyak," pungkasnya.

Saat ini, hasil autopsi tersebut telah diserahkan kepada penyidik kepolisian sebagai alat bukti untuk mengusut tuntas kasus pengeroyokan ini dan mengejar para pelaku.

Editorial Team

Related Article