Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Halte BRT Cicadas di Tengah Jalan Tuai Keluhan, Ini Kata Farhan
Wali Kota Bandung M Farhan (Dok. Humas Pemkot Bandung)
  • Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Cicadas memicu keluhan karena berpotensi menimbulkan kemacetan dan risiko keselamatan. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut dampak itu sudah diperkirakan.
  • Pemkot Bandung menargetkan pengerjaan halte selesai maksimal dua minggu dan akan memantau kondisi konstruksi serta operasionalnya. Halte tidak dilengkapi JPO karena keterbatasan lebar jalan dan trotoar.
  • Farhan berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan dan Bappenas terkait kelayakan teknis BRT. Sebanyak 28 halte direncanakan berada di koridor utama, sementara sosialisasi kepada warga diminta diperkuat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
sejak awal

Potensi kemacetan akibat pembangunan halte BRT di Cicadas telah diperkirakan.

Sabtu (12/9/2026)

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan Pemkot Bandung berkoordinasi untuk meminimalkan kemacetan selama pengerjaan halte.

dua minggu

Pengerjaan halte BRT diperkirakan selesai paling lama dalam dua minggu.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pembangunan halte Bus Rapid Transit di tengah Jalan Cicadas, Kota Bandung, memicu keluhan karena berpotensi menimbulkan kemacetan dan risiko keselamatan, termasuk akses bagi penyandang disabilitas.
  • Who?
    Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, Pemerintah Kota Bandung, pihak BRT, Kementerian Perhubungan, Bappenas, serta warga dan pengguna jalan di kawasan Cicadas terlibat dalam situasi ini.
  • Where?
    Halte sedang dibangun di kawasan Cicadas, Kota Bandung. Pembangunan halte on corridor juga dilakukan pada koridor utama BRT lainnya, dengan total 28 halte.
  • When?
    Farhan menyampaikan keterangan pada Sabtu, 12 September 2026. Pengerjaan halte Cicadas diperkirakan paling lama selesai dalam dua minggu sejak informasi tersebut diterima.
  • Why?
    Halte ditempatkan di tengah jalan karena ruang jalan dan trotoar dinilai terlalu sempit untuk pembangunan jembatan penyeberangan orang. Pelebaran jalan juga tidak memungkinkan karena trotoar telah terbangun.
  • How?
    Pemkot Bandung berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, Bappenas, dan pihak BRT untuk meminimalkan kemacetan, memantau keselamatan serta akses halte, dan mendorong sosialisasi lebih masif kepada warga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Halte BRT sedang dibuat di tengah jalan di Cicadas, Bandung. Banyak orang takut jalan jadi macet dan tidak aman. Pak Wali Kota Farhan bilang macetnya cuma sebentar, paling lama dua minggu. Tidak ada jembatan untuk ke halte karena jalannya sempit. Sekarang pemerintah terus melihat keadaan dan bicara dengan BRT.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah keluhan atas pembangunan halte BRT Cicadas, pemerintah kota menunjukkan perhatian pada dampak yang dirasakan warga melalui koordinasi teknis, pemantauan lapangan, dan upaya meminimalkan kemacetan selama konstruksi. Pengerjaan yang ditargetkan singkat juga memberi dasar bahwa gangguan aktivitas bersifat sementara, sembari aspek keselamatan dan akses pengguna terus diamati.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) di kawasan Cicadas, Kota Bandung, yang berada di tengah jalan menuai keluhan dari masyarakat. Keberadaan halte tersebut dinilai berpotensi memicu kemacetan sekaligus menimbulkan persoalan keselamatan bagi pengguna jalan.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengakui potensi kemacetan akibat pembangunan halte BRT tersebut memang sudah diperkirakan sejak awal. Karena itu, Pemerintah Kota Bandung terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk menekan dampak pembangunan terhadap aktivitas masyarakat.

"Itu sudah diduga sebelumnya. Jadi saya sedang komunikasi bagaimana cara meminimalkan kemacetan supaya pengerjaannya tidak menimbulkan kemacetan," ujar Farhan, dikutip Sabtu (12/9/2026).

1. Pembangunan ditarget selesai dua pekan

Menteri Diktisaintek, Prof Brian Yuliarto, Wali Kota Bandung M Farhan, dan CTO Danantara Sigit Puji Santoso memberikan keterangan kepada awak media di Balaikota Bandung, Jumat(21/8/2026).

Farhan mengatakan, kemacetan yang terjadi selama pembangunan halte BRT bersifat sementara. Berdasarkan informasi yang diterimanya, pengerjaan halte tersebut diperkirakan selesai dalam waktu paling lama dua pekan.

"Tapi ini hanya sementara saja. Pengerjaan akan cepat. Menurut kabar itu paling lama selama dua pekan, setelah itu lancar, persis seperti yang di Jalan Jakarta. Itu juga cepat, dalam dua minggu selesai," katanya.

Meski begitu, Pemkot Bandung tetap akan memantau kondisi di lapangan, terutama selama proses konstruksi berlangsung dan ketika halte mulai digunakan masyarakat.

2. Halte di tengah jalan tak dilengkapi JPO

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan di Bursa Efek Indonesia, Kamis (13/8).

Selain persoalan kemacetan, desain halte BRT di tengah jalan juga menjadi perhatian. Salah satunya karena akses menuju halte tersebut tidak dilengkapi jembatan penyeberangan orang (JPO).

Farhan menjelaskan, pembangunan JPO terkendala kondisi ruang jalan yang terbatas. Menurutnya, lebar jalan dan trotoar yang tersedia tidak memungkinkan pembangunan fasilitas tersebut.

"Kenapa tidak dibikin JPO? Karena terlalu sempit kalau untuk JPO. Maka akhirnya dibikinlah jalan seperti itu," ungkapnya.

Meski demikian, Farhan menegaskan aspek keselamatan tidak boleh diabaikan. Pemkot Bandung akan terus mengamati kondisi halte dan akses pengguna, termasuk potensi risiko bagi kelompok rentan.

"Kami akan amati terus, karena saya juga tidak mau sampai terjadi kecelakaan. Ditambah lagi, dengan lantai halte yang tinggi, tentu akan ada kesulitan juga bagi penyandang disabilitas," katanya.

3. Farhan bolak-balik Jakarta bahas teknis BRT

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan di Bursa Efek Indonesia, Kamis (13/8).

Farhan mengatakan Pemkot Bandung juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk memastikan pembangunan BRT dapat berjalan sesuai aspek teknis yang dibutuhkan.

Ia menyebut komunikasi dilakukan dengan Kementerian Perhubungan dan Bappenas. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pembangunan infrastruktur transportasi massal itu tidak justru mengganggu aktivitas masyarakat secara berlebihan.

"Itu sebabnya sekarang saya lagi bolak-balik Jakarta terus, ke Kementerian Perhubungan, ke Bappenas, untuk memastikan bahwa secara teknis ini memungkinkan dan tidak mengganggu keseharian masyarakat," tuturnya.

Sementara itu, opsi pelebaran jalan di sekitar halte disebut tidak memungkinkan. Farhan mengatakan fasilitas trotoar di kawasan tersebut sudah terbangun sehingga pelebaran jalan tidak menjadi pilihan.

"Enggak. Soalnya kan trotoarnya sudah jadi," ujarnya.

Farhan mengungkapkan, pembangunan halte di tengah jalan bukan hanya dilakukan di kawasan Cicadas. Secara keseluruhan, terdapat 28 halte yang berada di koridor utama BRT atau dibangun dengan konsep halte on corridor.

"Jangan khawatir, total semuanya 28 halte on koridor," katanya.

Dia mengakui salah satu persoalan yang banyak dikeluhkan masyarakat saat ini adalah minimnya informasi mengenai pembangunan BRT.

Karena itu, ia meminta pihak BRT meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat, termasuk kepada pihak-pihak yang aktivitasnya berada di sekitar lokasi pembangunan.

"Betul. Itu sebabnya saya meminta kepada BRT melakukan sosialisasi lebih masif ke seluruh warga. Karena yang tahu teknis pengerjaan semuanya BRT. Kalau saya kan mewakili warga," ujarnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article