Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dokter Beberkan Tiga Mitos Anti-Aging yang Bikin Perawatan Keliru

Kota Bandung
Dokter Beberkan Tiga Mitos Anti-Aging yang Bikin Perawatan Keliru
Melinda Aesthetic Center Pertama Hadirkan Morpheus8 dan InMode Lift di Bandung. IDN Times/Istimewa
Intinya Sih
Gini Kak
Sisi Positif
  • Dokter dermatologi menegaskan pencegahan penuaan kulit dapat dimulai sejak muda, dengan fokus usia 20-an pada menjaga kolagen dan kesehatan kulit sesuai kebutuhan.
  • Treatment viral serta skincare aktif tidak cocok untuk semua orang; retinol, vitamin C, dan arbutin bukan pemutih warna dasar kulit, penggunaan berlebihan berisiko memicu iritasi.
  • Perawatan anti-aging tidak menghasilkan efek instan karena pembentukan kolagen bertahap; diagnosis dokter, sunscreen, tidur cukup, pola makan bergizi, dan olahraga mendukung kesehatan kulit jangka panjang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bandung, IDN Times – Tren perawatan anti-aging kini tak lagi identik dengan mereka yang berusia di atas 40 tahun. Semakin banyak anak muda mulai menggunakan skincare hingga menjalani berbagai treatment untuk menjaga kulit tetap sehat dan tampak awet muda.

Sayangnya, meningkatnya minat terhadap perawatan kulit juga diiringi munculnya berbagai informasi yang belum tentu benar, terutama yang beredar di media sosial. Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika, dr. Liem Fenny, SpDVE, mengingatkan bahwa perawatan kulit seharusnya disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang, bukan sekadar mengikuti tren yang sedang viral.

1. Anti-aging bukan hanya untuk usia 40 tahun

WhatsApp Image 2026-07-31 at 6.48.56 AM.jpeg
Melinda Aesthetic Center Pertama Hadirkan Morpheus8 dan InMode Lift di Bandung. IDN Times/Istimewa

Masih banyak masyarakat yang menganggap perawatan anti-aging baru diperlukan ketika kerutan mulai muncul. Padahal, menurut dr Fenny, proses penuaan kulit sudah dimulai sejak usia muda sehingga pencegahan justru akan memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi.

Namun, memulai lebih awal bukan berarti semua orang membutuhkan treatment yang sama. Pada usia 20-an, fokus utama adalah menjaga produksi kolagen dan mempertahankan kesehatan kulit, bukan melakukan tindakan yang berlebihan.

"Sekarang semuanya ingin terlihat lebih muda. Walaupun usia sudah 30 tahun, ingin seperti usia 20 tahun. Jadi proses peremajaan kulit memang sebaiknya dimulai sedini mungkin, tentu dengan masalah yang berbeda-beda. Kalau usia 20-an biasanya masalahnya masih sedikit," kata dr Fenny ditemui dalam pembukaan Melinda Aesthetic Center (MAC) di Kota Bandung beberapa waktu lalu.

2. Jangan mudah tergoda treatment viral dan skincare menjanjikan kulit putih

ilustrasi kulit putih (pexels.com/THIS IS ZUN)
ilustrasi kulit putih (pexels.com/THIS IS ZUN)

Media sosial memang membuat masyarakat lebih mudah mengenal berbagai inovasi di dunia kecantikan. Namun, di sisi lain, fenomena tersebut juga membuat banyak orang datang ke klinik dengan keinginan menjalani treatment tertentu tanpa mengetahui apakah tindakan itu benar-benar sesuai dengan kondisi kulitnya.

Menurut dr Fenny, kondisi kulit setiap orang berbeda. Karena itu, treatment yang memberikan hasil baik pada seseorang belum tentu memberikan manfaat yang sama bagi orang lain.

"Sekarang orang-orang ingin pakai alat karena itu yang sedang tren. Mereka datang sudah bertanya treatment A, treatment B, treatment C karena lihat di media sosial. Padahal belum tentu itu yang dibutuhkan kulitnya," ujarnya.

Kesalahan lain yang masih sering ditemui adalah anggapan bahwa produk dengan kandungan retinol, vitamin C, atau arbutin dapat membuat kulit menjadi putih. Padahal, bahan aktif tersebut umumnya digunakan untuk mengatasi masalah pigmentasi, flek hitam, maupun tanda penuaan, bukan mengubah warna dasar kulit.

Akibat salah memahami fungsi produk, tak sedikit orang mengalami iritasi hingga sensasi terbakar setelah menggunakan skincare dengan kandungan aktif secara berlebihan.

"Mereka salah indikasi. Misalnya kulitnya enggak apa-apa, tapi dia ingin putih, lalu pakai retinol. Padahal tujuan whitening-nya retinol itu bukan untuk memutihkan ya, tapi untuk menghilangkan melasma dan kerutan," kata dia.

3. Hasil instan tidak ada, diagnosis tetap menjadi langkah paling penting

ilustrasi kulit putih (freepik.com/ freepik)
ilustrasi kulit putih (freepik.com/ freepik)

Selain mengikuti tren, banyak masyarakat juga berharap hasil perawatan bisa langsung terlihat hanya dalam satu kali treatment. Menurut dr Fenny, anggapan tersebut juga merupakan kesalahpahaman yang masih sering dijumpai.

Proses pembentukan kolagen membutuhkan waktu sehingga hasil terbaik hanya bisa diperoleh melalui perawatan yang dilakukan secara bertahap dan konsisten. Karena itu, setiap pasien seharusnya menjalani pemeriksaan terlebih dahulu agar dokter dapat menentukan jenis perawatan yang paling sesuai dengan kondisi kulitnya.

"Kami selalu bilang ke pasien, tidak ada proses yang instan. Semua dilakukan bertahap dan dibuat perencanaannya sesuai kondisi kulit masing-masing," ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa masalah kulit memiliki penyebab yang beragam. Flek hitam, misalnya, bisa muncul akibat bekas jerawat, paparan sinar matahari, perubahan hormon, hingga penggunaan kontrasepsi. Karena penyebabnya berbeda, penanganannya pun tidak bisa disamaratakan.

Untuk mencegah penuaan dini, dr Fenny menyara3. Hasil instan tidak ada, diagnosis tetap menjadi langkah paling pentingnkan masyarakat mulai menjaga kesehatan kulit sejak usia 25 hingga 30 tahun. Selain memilih skincare sesuai kebutuhan, kebiasaan sederhana seperti tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi, rutin berolahraga, serta menggunakan sunscreen setiap hari tetap menjadi langkah paling efektif menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.

"Kalau untuk pencegahan, perilaku hidup sehat itu memang yang paling penting," pungkasnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More