Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Desa di Pesisir Cirebon Tergerus Laut, Janji Giant Sea Wall Ditunggu
ilustrasi sea wall (pexels.com/Ray Bilcliff)
  • Warga Desa Ambulu di Cirebon menghadapi banjir rob harian yang merusak rumah, mengganggu ekonomi, dan menimbulkan tekanan psikologis akibat abrasi serta genangan air laut.
  • Upaya tanggul permanen dan darurat telah dilakukan, namun keterbatasan anggaran membuat perlindungan belum menyeluruh sehingga kawasan permukiman tetap terendam saat gelombang pasang datang.
  • Masyarakat kini menanti kepastian pembangunan Giant Sea Wall dari pemerintah pusat setelah wilayah Ambulu masuk dalam pembahasan program nasional untuk melindungi pesisir Pantura Jawa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Cirebon, IDN Times - Masyarakat pesisir Desa Ambulu, Kecamatan Losari, Kabupaten Cirebon, kini bertumpu pada rencana pembangunan Giant Sea Wall di Pantai Utara Jawa.

Kepala Desa Ambulu, Sunaji, mengatakan banjir rob yang dahulu datang pada periode tertentu kini berubah menjadi ancaman harian. Air laut secara rutin masuk ke lingkungan permukiman dan mengganggu aktivitas warga.

Menurut dia, dampak yang ditimbulkan tidak hanya berupa kerusakan fisik bangunan, tetapi juga tekanan psikologis yang dirasakan masyarakat karena harus hidup berdampingan dengan ancaman yang terus berulang.

“Banjir rob menerjang hampir setiap hari. Dampaknya bukan hanya kerusakan rumah dan ekonomi warga, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis masyarakat karena mereka hidup dalam kecemasan terus-menerus,” kata Sunaji dikutip pada Senin (15/6/2026).

Data pemerintah desa menunjukkan sekitar 60% kawasan permukiman Ambulu kini berada dalam kondisi rentan akibat kombinasi abrasi pantai dan banjir rob yang terus terjadi.

1. Rumah kosong mulai bermunculan

ilustrasi sea wall (unsplash.com/Karl Moran)

Sunaji mengatakan, dampak kerusakan yang berlangsung dalam waktu lama mulai mengubah wajah desa pesisir tersebut.

Sejumlah rumah yang sebelumnya dihuni keluarga nelayan dan petambak kini tidak lagi ditempati karena mengalami kerusakan berat.

Sebagian warga, lanjut Sunaji, memilih meninggalkan rumah mereka dan mencari tempat tinggal yang lebih aman dari ancaman genangan air laut.

"Kondisi ini jelas membuat keberadaan bangunan kosong semakin mudah ditemukan di sejumlah titik desa," ujarnya.

Fenomena tersebut menjadi indikator, kata Sunaji, persoalan yang dihadapi masyarakat pesisir tidak lagi sekadar gangguan musiman, melainkan telah menyentuh aspek keberlangsungan ruang hidup warga.

"Ribuan penduduk tercatat terdampak oleh banjir rob yang terus berulang. Selain mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat, kondisi ini juga menambah biaya pemeliharaan rumah dan infrastruktur lingkungan yang rusak akibat paparan air laut," tuturnya.

2. Upaya penanganan belum mampu menghentikan ancaman

ilustrasi sea wall (pexels.com/Ignacio de Lucas)

Pemerintah Desa Ambulu sebenarnya telah berupaya mencari solusi dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu hasilnya adalah pembangunan tanggul permanen oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung pada Juli 2024.

Namun, keterbatasan anggaran membuat pembangunan baru mencakup sekitar 70 meter dari total kebutuhan tanggul sepanjang 1,5 kilometer di sisi timur kawasan permukiman.

“Pembangunan sudah dimulai, tetapi belum bisa menjangkau seluruh wilayah yang membutuhkan perlindungan,” ujar Sunaji.

Untuk menutup kekurangan tersebut, pemerintah desa kemudian membangun tanggul darurat sepanjang 1,43 kilometer pada Januari 2025 menggunakan pancang bambu dan waring. Langkah itu sempat memperlambat laju masuknya air laut.

Akan tetapi, konstruksi sederhana tersebut tidak mampu bertahan menghadapi gelombang pasang yang terus berulang. Tanggul akhirnya rusak dan rob kembali menggenangi kawasan permukiman warga.

3. Menanti kepastian giant sea wall

ilustrasi sea wall (pexels.com/Charl Durand)

Di tengah keterbatasan penanganan yang ada, masyarakat Ambulu kini menaruh harapan pada Program Strategis Nasional Giant Sea Wall yang tengah disiapkan pemerintah pusat untuk kawasan Pantura Jawa.

Upaya mencari dukungan telah dilakukan pemerintah desa dengan mengajukan bantuan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Oktober 2025.

Proses tersebut kemudian berlanjut melalui koordinasi dengan Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPUJ).

Pada Desember 2025, tim gabungan dari sejumlah kementerian dan lembaga bersama BOPPUJ melakukan peninjauan langsung ke Desa Ambulu. Dalam kunjungan tersebut, wilayah Ambulu disebut masuk dalam pembahasan program pembangunan Giant Sea Wall.

Sunaji mengatakan, informasi itu menghadirkan secercah harapan di tengah kondisi yang semakin sulit.

“Kami mendapat informasi Ambulu masuk dalam pembahasan program Giant Sea Wall. Ini menjadi harapan besar bagi masyarakat,” kata Sunaji.

Editorial Team

Related Article