Bandung, IDN Times - Provinsi Jabar mengalami deflasi sejak tiga bulan terakhir. Kondisi ini disebut karena daya beli masyarakat yang menurun. Deflasi sendiri merupakan penurunan harga yang meluas dan berlangsung terus menerus dalam perekonomian sebuah wilayah.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencacat, inflasi year on year (y-on-y) September 2024 Provinsi Jabar sebesar 2,09 persen. Secara month to month (m-to-m) terjadi deflasi sebesar 0,21 persen.
Terdapat 555 komoditas yang hampir di semua wilayah di Jabar mengalami deflasi. Terdapat setidaknya 10 kota dengan deflasi yang paling signifikan, namun deflasi tertinggi terjadi di Subang dan Bekasi.
Meski daya beli dianggap menurun, masyarakat di Jabar justru getol melakukan pinjaman melalui aplikasi peer to peer landing secara daring (pinjol).
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Barat Imansyah menuturkan, per Juli 2024 nilai pinjaman perusahaan finansial teknologi di Jabar mencapai Rp18, triliu. Jumlaah ini naik 18,08 persen secara tahunan atau Rp2,76 triliun dibandingkan Juli 2023 di angka Rp15,24 triliun.
"Apabila dibandingkan dengan Desember 2023, outstanding pinjaman fintech 9.09 persen meningkat Rp1,41 triliun (8,51%)," kata Imansyah dalam diskusi bersama media massa, Kamis (10/10/2024).
