Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bocah ABK di Sukabumi Kecanduan Hirup BBM, Ini Kata Psikolog
Potongan video viral anak kecanduan hirup BBM di Sukabumi (dok Istimewa)
  • Seorang anak berkebutuhan khusus di Sukabumi diketahui kecanduan menghirup aroma bensin dari jok motor, yang memicu pelepasan hormon dopamin dan memberi efek menenangkan.
  • Psikolog menjelaskan kebiasaan ini bisa menetap karena faktor fiksasi, regresi, atau keterbatasan IQ, sehingga perlu terapi pengalihan dengan aroma aman sebagai pengganti.
  • Kasus ini viral di media sosial dan memunculkan keprihatinan publik, mendorong harapan agar pemerintah segera memberikan penanganan medis serta psikologis bagi sang anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Sukabumi, IDN Times - Kasus anak berkebutuhan khusus (ABK) di Ciaul, Sukabumi, yang viral karena kerap mendekati jok motor, kini mendapat sorotan dari sisi medis dan psikologis. Teka-teki mengenai perilaku tak biasa tersebut akhirnya terjawab.

Bukan sekadar kebiasaan memprihatinkan, psikolog dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengonfirmasi bahwa anak yatim piatu tersebut mengalami kecanduan menghirup aroma Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin yang menguap dari tanki motor.

1. Mengincar efek menenangkan dari hormon dopamin

ilustrasi dopamin (flickr.com/Up-Rising)

Anggota Pokja Pendidikan KPAI sekaligus Psikolog, Dikdik Hardy, membenarkan bahwa anak tersebut mengalami adiksi terhadap aroma bensin. Secara psikologis, kebiasaan mencari sensasi indrawi tertentu sebenarnya wajar terjadi pada fase pra-sekolah untuk mencari ketenangan seperti anak kecil yang tidak bisa tidur tanpa memeluk boneka tertentu.

Namun, dalam kasus bocah di Sukabumi ini, objek yang dipilih adalah aroma bensin yang dihirup melalui sela-sela jok motor.

"Perilaku apa pun yang berulang dengan tujuan mendapatkan efek menenangkan masuk dalam kategori kecanduan. Secara biologis, perilaku tersebut memang memunculkan hormon dopamin sehingga memberikan efek menenangkan," jelas Dikdik saat dihubungi IDN Times, Selasa (7/7/2026).

2. Mengapa kebiasaan ini menetap hingga besar?

ilustrasi anak sedih (pexels.com/Erlan)

Normalnya, kebiasaan unik mencari ketenangan lewat indera penciuman atau peraba akan hilang dengan sendirinya saat anak mulai masuk usia sekolah karena mereka bisa mengalihkannya ke hal yang lebih normatif.

Namun, jika perilaku tidak lazim ini terus bertahan hingga usia besar, Dikdik menyebut ada beberapa faktor klinis yang menjadi pemicunya.

"Kemungkinannya si anak mengalami Fiksasi (berhentinya tahap perkembangan), Regresi (kemunduran tahap perkembangan), atau karena kondisi ABK yang memiliki keterbatasan IQ," paparnya.

Untuk menyembuhkannya, metode pengalihan harus dilakukan secara langsung dan bertahap. Petugas harus mencari objek pengganti yang memiliki aroma identik (sama-sama menyengat) namun aman bagi kesehatan, sampai sang anak bisa lepas dari ketergantungan aroma bensin.

3. Butuhnya penanganan segera bagi anak ABK di Sukabumi

Potongan video viral anak kecanduan hirup BBM di Sukabumi (dok Istimewa)

Kasus ini pertama kali terungkap setelah video anak tersebut viral di media sosial. Pengunggah video, Putri mengaku prihatin atas peristiwa tersebut dan berharap segera ada penanganan bagi sang bocah.

"Jujur sedih, aku cuma berharap semoga ini menjadi wadah dan perhatian untuk pemerintah atau dinas terkait agar cepat ada tindakan untuk adiknya," kata Putri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article