Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Beton dan Semen Kini Jadi Kunci Baru Pengurangan Emisi di Indonesia
Dok. Istimewa
  • Indonesia Green Building Festival 2026 di ITB menyoroti beton dan semen rendah emisi sebagai elemen penting pembangunan berkelanjutan, di tengah pertumbuhan infrastruktur dan urbanisasi.
  • Solusi Bangun Indonesia menerapkan bahan baku serta bahan bakar alternatif, efisiensi energi, energi terbarukan, dan pengembangan material konstruksi beremisi lebih rendah tanpa mengurangi kualitas.
  • Inovasi seperti beton berpori untuk resapan air dan beton cepat kering untuk perbaikan jalan ditujukan menjawab tantangan lingkungan perkotaan sekaligus mendukung pengurangan jejak karbon.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Orang-orang di ITB membahas semen dan beton yang bisa bikin asap karbon lebih sedikit. Solusi Bangun Indonesia membuat bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan. Ada beton berpori supaya air masuk ke tanah, dan beton cepat kering untuk memperbaiki jalan. Sekarang, bahan bangunan juga penting untuk membantu Indonesia mengurangi emisi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perhatian pada semen dan beton rendah emisi membuka ruang agar kebutuhan infrastruktur tetap berjalan selaras dengan keberlanjutan. Kolaborasi industri, akademisi, regulator, dan praktisi menunjukkan pendekatan pembangunan yang makin menyeluruh, dari pemilihan material hingga operasional. Inovasi seperti beton berpori dan beton cepat kering juga menghadirkan manfaat praktis bagi tantangan lingkungan perkotaan dan mobilitas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times – Selama ini pembicaraan soal pengurangan emisi karbon lebih sering dikaitkan dengan kendaraan listrik, panel surya, atau energi terbarukan. Namun di balik pembangunan gedung, jalan, dan infrastruktur yang terus berlangsung, beton dan semen kini mulai dipandang sebagai salah satu kunci baru dalam upaya menekan jejak karbon Indonesia.

Karena itulah inovasi material bangunan rendah emisi menjadi salah satu fokus dalam Indonesia Green Building Festival 2026 – Bandung Chapter yang digelar di Institut Teknologi Bandung (ITB), Rabu (9/9/2026). Forum tersebut mempertemukan pelaku industri, akademisi, regulator, hingga praktisi konstruksi untuk membahas bagaimana pembangunan tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan target keberlanjutan dan pengurangan emisi.

Di tengah pertumbuhan kawasan perkotaan dan kebutuhan infrastruktur yang terus meningkat, sektor konstruksi menghadapi tantangan baru. Bangunan tidak lagi hanya dituntut kuat dan fungsional, tetapi juga harus mampu mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan sejak proses pembangunan hingga masa operasionalnya.

1. Inovasi material menjadi bagian penting bangunan rendah karbon

Dok.Istimewa

Perubahan cara pandang terhadap pembangunan berkelanjutan membuat perhatian tidak lagi hanya tertuju pada desain bangunan. Material yang digunakan dalam proses konstruksi kini ikut menjadi perhatian karena berkontribusi terhadap jejak karbon sebuah proyek.

Direktur Utama PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, Rizki Kresno Edhie Hambali, mengatakan kebutuhan pembangunan saat ini harus berjalan seiring dengan upaya mengurangi dampak lingkungan. Menurutnya, pendekatan keberlanjutan perlu diterapkan secara menyeluruh mulai dari tahap perencanaan hingga operasional bangunan.

“Bagi Solusi Bangun Indonesia, prinsip keberlanjutan tidak hanya menjadi tujuan perusahaan, tetapi juga menjadi salah satu fondasi utama dalam menjalankan bisnis dan operasi untuk menghadirkan produk dan solusi yang mampu menjawab kebutuhan pembangunan saat ini dan masa depan. Tentunya upaya ini perlu didorong secara menyeluruh, mulai dari desain, pemilihan material, proses konstruksi hingga operasional bangunan, sehingga kebutuhan pembangunan dapat terus terpenuhi dengan jejak karbon yang semakin rendah,” ujar Rizki.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai langkah, mulai dari pemanfaatan bahan baku dan bahan bakar alternatif, peningkatan efisiensi energi, hingga penggunaan energi terbarukan dalam proses produksi. Langkah-langkah tersebut kemudian diikuti dengan pengembangan berbagai material konstruksi yang dirancang untuk menghasilkan emisi lebih rendah tanpa mengurangi kualitas dan daya tahan bangunan.

Menurut Rizki, inovasi di sektor bahan bangunan menjadi penting karena kebutuhan pembangunan akan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan urbanisasi. Tantangannya adalah memastikan pembangunan tersebut tetap memberikan dampak lingkungan yang lebih kecil dibanding sebelumnya.

2. Jadi perhatian baru agenda pengurangan emisi

Dok.Istimewa

Dalam diskusi yang berlangsung di ITB, para pembicara menyoroti fakta bahwa material konstruksi memiliki peran besar dalam pembangunan nasional. Karena digunakan dalam jumlah sangat besar, setiap upaya pengurangan emisi pada sektor ini akan memberikan dampak signifikan terhadap target pembangunan rendah karbon.

Chairperson Green Building Council Indonesia (GBCI), Ir. Ignesjz Kemalawarta, M.B.A., menilai keterlibatan industri bahan bangunan menjadi salah satu faktor penting untuk memperluas penerapan konsep bangunan hijau di Indonesia.

“Penggunaan material konstruksi seperti beton memiliki skala yang sangat besar dalam pembangunan. Karena itu, inovasi untuk menurunkan emisi karbon dari material bangunan akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam mempercepat terwujudnya pembangunan rendah karbon di Indonesia,” ujar Ignesjz.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengurangan emisi tidak lagi hanya menjadi urusan sektor energi dan transportasi. Industri konstruksi kini mulai masuk dalam agenda besar transisi menuju pembangunan berkelanjutan karena memiliki pengaruh langsung terhadap besarnya jejak karbon yang dihasilkan dari aktivitas pembangunan.

Di sisi lain, meningkatnya kesadaran terhadap bangunan hijau juga mendorong kebutuhan akan material yang tidak hanya kuat dan tahan lama, tetapi juga memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah selama siklus hidupnya.

3. Material konstruksi dituntut menjawab tantangan lingkungan perkotaan

ilustrasi staf kontruksi bangunan (unsplash.com/sunburned_surveyor)

Selain berkontribusi pada pengurangan emisi, inovasi material juga diarahkan untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi kota-kota besar. Perubahan iklim, berkurangnya daya resap tanah, hingga kebutuhan infrastruktur yang semakin kompleks membuat industri konstruksi dituntut menghadirkan solusi yang lebih adaptif.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Solusi Bangun Indonesia mengembangkan berbagai solusi konstruksi yang dirancang sesuai karakteristik dan tantangan lingkungan. Tidak hanya berupa semen tipe khusus, perusahaan juga menghadirkan solusi stabilisasi tanah serta berbagai inovasi beton dengan fungsi spesifik.

Salah satunya adalah beton berpori yang memungkinkan air meresap kembali ke dalam tanah sehingga dapat membantu mengurangi genangan di kawasan perkotaan. Ada pula beton cepat kering yang dirancang untuk mempercepat pekerjaan perbaikan jalan sehingga dapat meminimalkan gangguan terhadap mobilitas masyarakat.

Menurut Rizki, pengembangan produk konstruksi saat ini tidak lagi hanya berfokus pada kualitas teknis, tetapi juga harus memberikan nilai tambah yang relevan dengan kebutuhan lingkungan dan masyarakat.

“Kami terus mendorong inovasi yang tidak hanya berorientasi pada kualitas dan performa sesuai kebutuhan konstruksi, tetapi juga memberikan nilai tambah pada fungsi bagi penggunanya. Bersama SIG, kami berkomitmen menyediakan material berkelanjutan agar lebih banyak konstruksi di Indonesia memperoleh kualitas, durabilitas, dan nilai tambah untuk jangka panjang,” katanya.

Melalui berbagai inovasi tersebut, sektor konstruksi mulai menunjukkan bahwa upaya pengurangan emisi tidak hanya dilakukan melalui perubahan sumber energi. Material bangunan yang digunakan setiap hari dalam pembangunan jalan, gedung, kawasan permukiman, hingga fasilitas publik juga memiliki peran penting dalam menentukan seberapa besar jejak karbon yang akan ditinggalkan di masa depan.

Di tengah target Net Zero Emission Indonesia 2050, perubahan pada sektor konstruksi menjadi salah satu langkah yang semakin sulit untuk diabaikan. Sebab, pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh apa yang dibangun, tetapi juga oleh material yang digunakan untuk membangunnya.

Editorial Team

Related Article