Di balik peluang tersebut, ada persoalan yang belum selesai: sebagian besar teknologi mesin apparel yang digunakan industri Indonesia masih berasal dari luar negeri.
Bryan mengatakan Indonesia belum memiliki kemampuan untuk memproduksi mesin-mesin apparel tersebut dalam skala yang dapat memenuhi kebutuhan industri. Akibatnya, perubahan nilai tukar dan kebijakan impor dapat langsung memengaruhi harga mesin sekaligus keputusan investasi pelaku usaha.
“Kalau mesin-mesin itu sebagian besar masih impor. Kita belum punya kemampuan untuk memproduksi mesin-mesin itu secara masif,” ujar Bryan.
Tekanan tersebut membuat kondisi pasar mesin tahun ini berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Pembatasan impor dan kenaikan nilai tukar ikut membuat biaya mesin meningkat sehingga peluang bisnisnya masih ada, tetapi tidak sebesar sebelumnya.
Situasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi industri apparel nasional. Di satu sisi, pelaku usaha membutuhkan teknologi untuk menekan biaya produksi dan menghadapi persaingan global. Di sisi lain, teknologi tersebut masih harus didatangkan dari luar negeri sehingga investasi mesin ikut terpengaruh kondisi ekonomi dan perdagangan.
Persaingan itu terasa semakin penting bagi Jawa Barat yang memiliki banyak perusahaan tekstil berorientasi ekspor. Bryan mengatakan perusahaan Indonesia harus berhadapan dengan negara seperti Vietnam dan Bangladesh yang memiliki biaya produksi lebih kompetitif.
“Cuman memang tantangannya beberapa negara itu memberikan harga yang kompetitif untuk produksi, seperti kita ketahui bersama Vietnam, Bangladesh,” katanya.
Karena itu, menurut Bryan, tantangan industri bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi. Pelaku usaha juga harus mencari cara agar biaya produksi lebih rendah dan produknya tetap dapat diterima pasar.
“Tantangannya bagaimana untuk produksi cost-nya bisa lebih rendah dan produk-produknya supaya lebih bisa diterima, kalau dari segi industri tekstilnya,” ujarnya.
Dengan kondisi tersebut, Bandung masih memiliki ruang sebagai pasar mesin apparel. Bukan karena industri sedang mengalami ledakan pertumbuhan, melainkan karena pelaku usaha tetap membutuhkan teknologi untuk beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi, produksi custom, dan persaingan biaya yang semakin ketat.