Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (IDN Times/Azzis Zulkhairil)
KDM juga menyoroti dugaan adanya pihak-pihak tertentu yang menguasai informasi perekrutan di lingkungan kawasan industri. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membuat warga sekitar justru kalah bersaing dengan pencari kerja dari luar daerah.
"Yang menguasai calon tenaga kerja lingkungan itu tidak memprioritaskan yang di lingkungan karena yang di lingkungannya enggak punya duit. Dia selalu yang dari luar karena punya duit," ujarnya.
Untuk memutus persoalan tersebut, KDM mendorong sistem rekrutmen yang lebih terbuka sekaligus menyiapkan calon pekerja jauh sebelum perusahaan melakukan perekrutan. Dia mengusulkan program Prakerja tidak hanya diberikan kepada pencari kerja setelah lulus, tetapi juga digunakan untuk mempersiapkan mereka yang sudah masuk daftar calon tenaga kerja berdasarkan kebutuhan industri.
"Kalau informasinya terbuka, maka mereka yang menjadi daftar antrian masuk ke perusahaan itu kita bisa mempersiapkan dulu dalam bentuk pelatihan Prakerja," katanya.
Menurutnya, apabila perusahaan sudah memiliki proyeksi kebutuhan tenaga kerja untuk dua atau tiga tahun mendatang, sekolah di sekitar kawasan industri dapat diarahkan untuk mempersiapkan siswa sesuai kebutuhan tersebut.
"Kalau perusahaan punya rencana rekrut tenaga kerja tiga tahun depan, rencananya diberikan kepada Naker, maka kita bisa kerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat untuk mengidentifikasi anak-anak sekolah yang di sekitar industri yang akan membutuhkan lapangan kerja itu untuk dipersiapkan sejak dini," ujarnya.