Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak Belum Babbling di Usia 9 Bulan? Waspadai Speech Delay
Dokter spesialis anak, Mayapada Hospital Bandung, Stephanie Supriadi. IDN Times-Azzis Zulkhairil
  • Dokter menekankan anak usia 9 bulan umumnya sudah babbling; bila belum berceloteh atau tidak menoleh saat dipanggil, orang tua perlu segera berkonsultasi ke rumah sakit.
  • Tanda perkembangan lain mencakup kemampuan mengucapkan satu kata spesifik pada usia 15 bulan dan mengombinasikan dua kata saat usia dua tahun; evaluasi juga perlu melihat gejala penyerta.
  • Kurangnya interaksi dua arah, termasuk penggunaan gadget, dapat memicu keterlambatan bicara; orang tua dianjurkan memperbanyak stimulasi, komunikasi, dan pemantauan tumbuh kembang selama lima tahun pertama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
masa COVID-19

Kasus anak dengan keterlambatan bicara di Indonesia sempat meningkat. Berkurangnya interaksi dua arah akibat penggunaan gadget disebut dapat menjadi salah satu pemicu.

usia 9 bulan

Anak umumnya sudah dapat mengeluarkan celotehan berulang. Jika belum babbling atau belum menoleh saat dipanggil, anak perlu segera dikonsultasikan ke dokter.

usia 15 bulan

Anak seharusnya sudah dapat mengucapkan satu kata spesifik. Jika belum, orang tua perlu memperhatikan kemungkinan keterlambatan bicara.

usia dua tahun

Anak perlu dievaluasi apakah sudah dapat mengombinasikan dua kata dalam satu kalimat.

lima tahun pertama kehidupan

Periode ini merupakan masa emas tumbuh kembang anak. Pemantauan berkala dapat membantu mengenali risiko keterlambatan perkembangan lebih awal.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Dokter anak mengingatkan keterlambatan bicara perlu dievaluasi sejak usia 9 bulan, terutama bila anak belum babbling atau tidak menoleh saat dipanggil.
  • Who?
    Stephanie Supriadi, dokter spesialis anak Mayapada Hospital Bandung, bersama Eddy Fadlayana dan Irwan Susanto, menyampaikan informasi layanan serta pemantauan tumbuh kembang anak.
  • Where?
    Penjelasan disampaikan dalam Cheer & Care Day di Mayapada Hospital Bandung, Bandung. Rumah sakit tersebut juga menyediakan Pediatric Center, Pediatric Ward, dan layanan kegawatdaruratan anak.
  • When?
    Informasi disampaikan pada Sabtu, 1 Agustus 2026, dalam kegiatan peringatan Hari Anak di Mayapada Hospital Bandung.
  • Why?
    Kurangnya interaksi dua arah, termasuk penggunaan gadget, dapat meningkatkan risiko keterlambatan bicara. Kondisi ini juga dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan lain yang memerlukan evaluasi.
  • How?
    Orang tua diminta memantau babbling pada usia 9 bulan, kata spesifik pada 15 bulan, serta gabungan dua kata pada usia dua tahun; konsultasikan ke fasilitas kesehatan bila ada keterlambatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dokter Stephanie bilang ada anak yang terlambat bicara, terutama saat COVID-19. Gadget bisa membuat anak kurang ngobrol dengan ibu dan ayah. Umur 9 bulan, anak biasanya sudah berceloteh. Kalau belum berceloteh atau tidak menoleh saat dipanggil, orang tua harus bawa ke dokter. Sekarang orang tua diminta lebih sering bermain dan bicara dengan anak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Perhatian pada celotehan sejak usia sembilan bulan memberi orang tua penanda yang jelas untuk memahami tumbuh kembang anak. Dengan interaksi yang lebih sering, stimulasi di rumah, pemantauan berkala, dan akses pada tenaga medis multidisiplin serta layanan ramah anak, kebutuhan anak dapat dikenali lebih dini dan ditangani sesuai kebutuhannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Kasus anak dengan speech delay atau anak dengan keterlambatan bicara di Indonesia sempat mengalami peningkatan pada masa COVID-19. Kondisi tersebut pada dasarnya tidak melulu karena penggunaan gadget saja, melainkan banyak faktor lain memicu keterlambatan berbicara pada anak tersebut.

Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis anak, Mayapada Hospital Bandung, Stephanie Supriadi. Dia mengatakan, kasus anak terlambat berbicara dengan bahasanya memang bisa dipicu oleh kurangnya interaksi dengan si buah hati.

"Mungkin dari pemakaian gadget sebelumnya itu meningkatkan angka terjadinya speech delay karena interaksi dua arah antara anak dan juga orangtua pun juga mengalami penurunan karena anak hanya berinteraksi satu arah dengan gadget itu sendiri," ujar Stephanie dalam acara Hari Anak melalui Cheer & Care Day: Celebrating Children's Day, ElevatingPediatric Care, di Mayapada Hospital Bandung, Sabtu (1/8/2026).

1. Orangtua harus melihat tumbuh kembang anak

Dokter spesialis anak, Mayapada Hospital Bandung, Stephanie Supriadi. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Ketika anak mengalami keterlambatan dalam tumbuh kembang, Stephanie mengungkapkan, ada baiknya orang tua langsung mengkonsultasikan kepada dokter agar dilakukan penanganan.

"Terutama aspek bicara. Kapan kita sebut anak kita mengalami keterlambatan bicaranya? Yang harus kita evaluasi adalah saat usia sembilan bulan," katanya.

Saat anak berumur sembilan bulan, umumnya kata dia, anak tersebut sudah bisa mengeluarkan celotehan atau suara yang sering diulang. Ketika pada umur tersebut belum ada celotehan dari sang anak, ada baiknya segera dikonsultasikan kepada dokter.

"Jadi saat usia sembilan bulan anak sudah bisa babbling atau tidak, seperti itu. Kalau anak belum bisa babbling dan juga belum bisa menoleh saat dipanggil, itu harus langsung dibawa ke rumah sakit," katanya.

2. Banyak faktor yang membuat anak terlambat bicara

Pediatric Center, Mayapada Hospital Bandung. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Selanjutnya, saat anak usia 15 bulan seharusnya sudah bisa mengucapkan satu kata spesifik dari mulutnya. Namun, jika kondisinya belum sepenuhnya seperti itu, orangtua harus memikirkan kondisi ini.

"Dan juga dilihat juga sampai usia dua tahun, apakah anak tersebut sudah mulai bisa mengombinasikan dua kata dalam satu kalimat, seperti itu ya," katanya.

Lebih jauh, Stephanie menegaskan, speech delay tidak hanya gangguan berbicara ekspresif saja, ada juga yang memiliki gangguan sentral. Biasanya, kata dia, kondisi ini terjadi pada anak dengan penurunan IQ ataupun juga ada masalah juga dalam aspek-aspek lainnya.

"Seperti apakah pasien tersebut terdiagnosis autism ataupun juga ADHD, itu pun juga harus kita evaluasi. Jadi tanda-tanda keterlambatan bicara itu tidak berdiri secara sendirinya, kadang-kadang bisa disertai dengan gejala-gejala yang lainnya," kata dia.

"Apakah disertai dengan hiperaktif yang berlebihan, apakah anak tersebut itu sering menepuk-nepuk kepalanya sendiri atau memukul kepalanya sendiri, itu yang perlu kita waspadai sebagai Ibu," ujarnya.

3. Orangtua jangan ragu membawa anak ke dokter spesialis

Pediatric Center, Mayapada Hospital Bandung. IDN Times-Azzis Zulkhairil

Stephanie mengimbau agar orangtua bisa sering melakukan interaksi dengan sang buah hati, dan harus mengerti kondisi tumbuh kembang sang anak dalam setiap fasenya, karena ibu dan bapak merupakan teman dekat si anak.

"Kalau misalnya ada keterlambatan sedikit pun yang dapat diketahui oleh orangtua, jangan segan untuk membawa anaknya langsung berobat ke fasilitas kesehatan," katanya.

Selain itu, orangtua juga harus memberikan stimulasi terhadap anak, karena hal tersebut sangatlah penting untuk tumbuh kembang, dan itu pun sangat efektif agar anak tidak tepat dalam berbicara.

"Jadi utamakan waktu Anda bersama si buah hati itu lebih banyak di rumah, kemudian juga berinteraksi atau berbicara dengan anak pun juga harus lebih sering, seperti itu," ujar dia.

"Kemudian gunakanlah gadget seefektif mungkin hanya untuk mekanisme pembelajaran saja, tidak untuk si anak diam ataupun juga interaksinya hanya satu arah," katanya.

Sedangkan, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial Mayapada Hospital Bandung, Eddy Fadlayana, menjelaskan bahwa lima tahun pertama kehidupan merupakan periode emas (golden period) yang berperan pentingdalam mendukung tumbuh kembang anak.

"Melalui pemantauan tumbuh kembang secara berkala, berbagai risiko keterlambatan perkembangan dapat dikenali lebih awal sehingga anak dapat memperoleh intervensi yang sesuaidengan kebutuhannya untuk mendukung potensi tumbuh kembang secara optimal," kata Eddy.

Untuk tumbuh kembang anak, Mayapada Hospital Bandung turut menyediakan rawat inap khusus anak (Pediatric Ward) dalam satu lantai dan layanan kegawatdaruratan khusus anak.

Hospital Director Mayapada Hospital Bandung, Irwan Susanto menjelaskan, inovasi layanan Pediatric Center merupakan bagian dari komitmen MHBD untuk menghadirkan layanan kesehatan anak yang semakin lengkap dan sesuai dengan kebutuhan pasien maupun keluarga.

"Melalui Pediatric Center, kami menghadirkan layanan yang didukung oleh tenaga medis multidisiplin, termasuk sebelas dokter spesialis dan subspesialis anak, fasilitas medis ramah anak, sertalingkungan perawatan yang suportif dan terintegrasi," ucapnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article