Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AI dan Data Center Jadi Tantangan Baru Insinyur ASEAN
AI dan Data Center Jadi Tantangan Baru Insinyur ASEAN. dok istimewa
  • CAFEO ke-44 di Bandung membahas AI dan data center sebagai tantangan baru, dengan kebutuhan kolaborasi insinyur ASEAN agar teknologi berkembang aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
  • Delegasi mendorong pengakuan kompetensi lintas negara untuk meningkatkan mobilitas insinyur ASEAN, pertukaran pengetahuan, serta kontribusi pada proyek regional, meski mekanisme pelaksanaannya belum dirinci.
  • Deklarasi 11 poin CAFEO menekankan keselamatan publik, etika profesi, solidaritas bencana, industri dan energi regional, transisi rendah karbon, AI untuk kemanusiaan, serta profesi yang inklusif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Para insinyur dari 11 negara ASEAN berkumpul di Bandung. Mereka membahas AI dan pusat data yang makin penting. Mereka ingin teknologi dipakai dengan aman dan membantu manusia. Mereka juga setuju insinyur harus bisa bekerja di negara ASEAN lain. Sekarang, mereka perlu membuat aturan yang jelas untuk menjalankan kesepakatan itu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
CAFEO 44 di Bandung menghadirkan ruang kolaborasi yang mempertemukan insinyur ASEAN untuk menempatkan AI, data center, energi, dan keberlanjutan dalam kerangka tanggung jawab bersama. Kunjungan teknis serta deklarasi yang menekankan etika, keselamatan publik, pertukaran pengetahuan, dan inklusivitas memperlihatkan perhatian kawasan terhadap pembangunan teknologi yang berorientasi pada kemanusiaan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bandung, IDN Times - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan pembangunan pusat data (data center) menjadi salah satu tantangan keinsinyuran di Asia Tenggara. Di tengah transformasi digital, para insinyur dituntut memastikan teknologi berkembang secara aman dan bertanggung jawab, sekaligus memperkuat kompetensi agar dapat berkontribusi lintas negara.

Isu tersebut dibahas dalam Conference of the ASEAN Federation of Engineering Organisations (CAFEO) ke-44 yang berlangsung di Bandung pada 20-22 Oktober 2026. Konferensi yang mempertemukan insinyur dari 11 negara ASEAN ini mengangkat berbagai tantangan pembangunan kawasan, mulai dari kota berkelanjutan, energi bersih, baterai kendaraan listrik, hingga data center.

1. Butuh kolaborasi hadapi perkembangan jaman

AI dan Data Center Jadi Tantangan Baru Insinyur ASEAN. dok istimewa

Perkembangan teknologi digital membuat kebutuhan akan keahlian keinsinyuran semakin beragam. Data center menjadi bagian penting dari infrastruktur digital, sementara AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan dalam penerapan teknologi.

Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sekaligus Chairman of ASEAN Federation of Engineering Organisations (AFEO), Ilham A. Habibie, menyampaikan bahwa kolaborasi para insinyur dibutuhkan untuk mendorong kemajuan kawasan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Konferensi tersebut mengusung tema Future of ASEAN: Shared Prosperity and Humanity Through Inclusive and Sustainable Industrialisation. Tema ini menempatkan pengembangan industri yang inklusif dan berkelanjutan sebagai salah satu perhatian utama.

Dalam deklarasi penutupannya, para delegasi turut menekankan pentingnya memastikan kecerdasan buatan digunakan untuk kepentingan kemanusiaan dan tetap berada dalam kerangka pertimbangan keinsinyuran yang dapat dipertanggungjawabkan.

"Rekomendasi teknis khusus terkait kebutuhan energi data center, standar pengembangan AI, maupun target penerapan teknologi tersebut. Karena itu, pembahasan ini menjadi salah satu isu yang masih perlu ditelusuri lebih jauh," Kata dia, Kamis (22/10/2026) malam.

2. Kompetensi insinyur didorong bisa digunakan lintas negara

ilustrasi pria bekerja sebagai engineer (magnific.com/atlascompany)

Selain kesiapan menghadapi perkembangan teknologi, CAFEO 44 menyoroti pentingnya memperkuat pengakuan kompetensi insinyur di kawasan ASEAN.

Dalam deklarasi yang disepakati, para delegasi mendorong agar pengakuan profesional dapat membuka mobilitas insinyur sehingga kompetensi mereka bisa dimanfaatkan di berbagai negara anggota.

Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya membangun satu komunitas keinsinyuran ASEAN. Melalui kerja sama lintas negara, para insinyur diharapkan dapat bertukar pengetahuan, berbagi inovasi, dan berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan pembangunan kawasan.

Bagi insinyur Indonesia, pengakuan kompetensi lintas negara berpotensi memperluas jejaring profesional dan membuka peluang berkontribusi dalam proyek-proyek regional. Namun, deklarasi tersebut belum menjelaskan secara terperinci mekanisme pengakuan kompetensi, persyaratan bekerja di negara lain, maupun jaminan akses terhadap pasar kerja ASEAN.

Dengan demikian, implementasi komitmen tersebut menjadi hal penting untuk diperhatikan. Pengakuan profesional perlu diikuti mekanisme yang jelas agar mobilitas insinyur tidak berhenti sebagai kesepakatan di tingkat organisasi.

CAFEO 44 sendiri menghadirkan berbagai agenda diskusi, kelompok kerja, dan kunjungan teknis. Delapan lokasi yang dikunjungi delegasi meliputi Institut Teknologi Bandung (ITB), PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Pindad, Museum Geologi, Balai Kota Bandung, PT Dirgantara Indonesia, PT Bio Farma, dan Bumi Herbal Dago.

Rangkaian tersebut mempertemukan para delegasi dengan berbagai bidang penerapan teknologi, mulai dari pendidikan teknik dan transportasi hingga industri pertahanan, penerbangan, kesehatan, serta pengelolaan sumber daya alam.

3. Ini 11 poin deklarasi insinyur ASEAN

Insinyur se-ASEAN Dikumpulkan di Bandung, Lihat Teknologi Karya Indonesia. IDN Times/Debbie Sutrisno

Ketua CAFEO 44 sekaligus Direktur Eksekutif PII, Santhi H. Serad, mengatakan pelaksanaan kelompok kerja dan kunjungan teknis di berbagai lokasi menjadi pembeda konferensi tahun ini dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.

Melalui kunjungan tersebut, para delegasi dapat mengenal secara langsung sejumlah sektor industri, teknologi, pendidikan, dan pengelolaan sumber daya di Indonesia.

Pada penutupan konferensi, para delegasi menyepakati deklarasi dengan 11 poin utama sebagai acuan bagi organisasi insinyur di kawasan ASEAN. Selain pengakuan kompetensi dan tanggung jawab penggunaan AI, deklarasi tersebut mencakup keselamatan masyarakat, etika profesi, solidaritas saat bencana, penguatan industri dan energi kawasan, serta transisi rendah karbon yang adil. Berikut 11 poin yang dihasilkan:

  1. Keinsinyuran untuk masyarakat. Mengutamakan keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan publik di atas kepentingan lainnya.

  2. Integritas tanpa kompromi. Menjunjung tinggi etika profesi dalam setiap desain, keputusan, dan kontrak keinsinyuran.

  3. Kesetaraan antarbangsa. Memastikan setiap anggota AFEO memiliki kedudukan setara serta menyambut insinyur dari Timor-Leste.

  4. Solidaritas dalam kesusahan. Saling mendukung ketika terjadi bencana atau krisis dan bekerja sama dalam proses pemulihan.

  5. Satu komunitas keinsinyuran ASEAN. Mendorong pengakuan kompetensi menjadi mobilitas agar keahlian insinyur dapat dimanfaatkan di berbagai negara kawasan.

  6. Kesejahteraan buatan ASEAN. Memperkuat kemampuan mandiri kawasan dalam industri, energi, dan logistik di tengah gejolak tarif serta rantai pasok.

  7. Transisi yang adil dan tangguh. Mendorong ASEAN menjadi kawasan rendah karbon dan tangguh terhadap perubahan iklim tanpa meninggalkan kelompok masyarakat mana pun.

  8. Teknologi berhati nurani. Memastikan kecerdasan buatan melayani kemanusiaan dengan pertimbangan keinsinyuran yang dapat dipertanggungjawabkan.

  9. Pengetahuan yang dibagikan secara bebas. Mendorong pertukaran riset dan inovasi agar kemajuan satu negara dapat menjadi kekuatan bagi seluruh kawasan.

  10. Satu profesi untuk setiap generasi. Mewujudkan profesi keinsinyuran yang inklusif tanpa diskriminasi gender, ras, etnis, agama, maupun usia.

  11. Arsitek masa depan ASEAN. Memperkuat peran insinyur sebagai pemimpin strategis untuk membangun ASEAN yang bersatu dan memiliki daya saing global.

Kesebelas poin tersebut menunjukkan bahwa tantangan keinsinyuran ASEAN tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi. Penguatan etika profesi, kolaborasi riset, keberlanjutan lingkungan, dan pengakuan kompetensi juga menjadi bagian dari agenda bersama.

"Melalui kesepakatan tersebut, CAFEO 44 menempatkan kolaborasi regional sebagai salah satu fondasi untuk menghadapi tantangan keinsinyuran. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan deklarasi tersebut menjadi langkah nyata, termasuk dalam pengembangan teknologi digital dan pengakuan kompetensi insinyur lintas negara," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article