ilustrasi pria bekerja sebagai engineer (magnific.com/atlascompany)
Selain kesiapan menghadapi perkembangan teknologi, CAFEO 44 menyoroti pentingnya memperkuat pengakuan kompetensi insinyur di kawasan ASEAN.
Dalam deklarasi yang disepakati, para delegasi mendorong agar pengakuan profesional dapat membuka mobilitas insinyur sehingga kompetensi mereka bisa dimanfaatkan di berbagai negara anggota.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya membangun satu komunitas keinsinyuran ASEAN. Melalui kerja sama lintas negara, para insinyur diharapkan dapat bertukar pengetahuan, berbagi inovasi, dan berkontribusi dalam menyelesaikan persoalan pembangunan kawasan.
Bagi insinyur Indonesia, pengakuan kompetensi lintas negara berpotensi memperluas jejaring profesional dan membuka peluang berkontribusi dalam proyek-proyek regional. Namun, deklarasi tersebut belum menjelaskan secara terperinci mekanisme pengakuan kompetensi, persyaratan bekerja di negara lain, maupun jaminan akses terhadap pasar kerja ASEAN.
Dengan demikian, implementasi komitmen tersebut menjadi hal penting untuk diperhatikan. Pengakuan profesional perlu diikuti mekanisme yang jelas agar mobilitas insinyur tidak berhenti sebagai kesepakatan di tingkat organisasi.
CAFEO 44 sendiri menghadirkan berbagai agenda diskusi, kelompok kerja, dan kunjungan teknis. Delapan lokasi yang dikunjungi delegasi meliputi Institut Teknologi Bandung (ITB), PT Kereta Api Indonesia (KAI), PT Pindad, Museum Geologi, Balai Kota Bandung, PT Dirgantara Indonesia, PT Bio Farma, dan Bumi Herbal Dago.
Rangkaian tersebut mempertemukan para delegasi dengan berbagai bidang penerapan teknologi, mulai dari pendidikan teknik dan transportasi hingga industri pertahanan, penerbangan, kesehatan, serta pengelolaan sumber daya alam.